Senin, 28 Maret 2011

ALKITAB INFERIOR KARENA TERBUKTI ISINYA BANYAK DIKORUPSI

Banyak pengkritik sependapat dengan pernyataan sebagai berikut: Ayat-ayat
dan isi Alkitab ternyata tidak asli lagi, melainkan telah dihilangkan
atau diganti (istilahnya: korupsi ayat) oleh penyalin-penyalin Alkitab
sehingga memunculkan Alkitab campuran dengan hasil tangan-tangan
kotor.

Prof. Bakry mengatakan: “Al Quran menyatakan juga bahwa kitabkitab
Injil dan Taurat yang sekarang telah diubah isinya oleh orangorang
Nasrani (dan Yahudi) sehingga isinya tidak sesuai lagi dengan
prinsip agama Tauhid…” dan bahwa … Al Quran telah memberikan bukti
kebenarannya dalam mengkoreksi dan menunjukkan adanya ayat-ayat
palsu tersebut. (IQMB hal. 33&31).

Tetapi baiklah kita menyampaikan balik bahwa apa yang disebut sebagai
bukti korupsi ayat seperti yang diistilahkan di atas bukanlah bukti sama sekali,
melainkan keyakinan pengkritik pribadi yang tidak mau melihat kebenaran
Alkitab dari sudut pandang Alkitab sendiri. Mereka hanya mendiskreditkannya
dari nara sumber lain yang tidak dikenal Alkitab. Dr. Robert Morey –
mengatakan bahwa apa yang mereka sebut “bukti” itu sebenarnya hanyalah
sejenis pendalihan yang berputar-putar (circular reasoning) sebagai berikut:

T : “Kenapa Alkitab disalahkan?”
J : “Karena tidak sesuai dengan Quran”
T : “Kalau tidak sesuai, kenapa Alkitab yang harus salah?”
J : “Karena Quran mengatakannya”

Tetapi pengkritik yang memakai dalih putar-putar ini lupa bahwa Alkitab
tidak merujuk kepada kitab-kitab manapun. Ia Sabda Tuhan yang perlu dan
cukup dalam dirinya, tidak perlu dilengkapi oleh referensi lainnya. Bukan rahasia
bahwa Quranlah yang banyak merujuk kepada Alkitab. Quran tidak pernah
sekalipun mengatakan teks Alkitab itu palsu., malahan sebaliknya berulangulang
kali mereferensikan Alkitab dan membenarkannya, dan menyerukan
orang-orang mukmin untuk mengimaninya. Tetapi Alkitab tidak pernah
sekalipun menyinggung kitab lainnya, tidak menubuatkan akan hadirnya Satu
Maha Kitab lain dari bangsa-bangsa lain, apalagi menyuruh pembacanya untuk
mengimani Kitab lain tersebut.

Sesungguhnya kalau mau fair, model circular-reasoning seperti yang
dipakai oleh pengkritik-pengkritik itu bisa sama sahnya dipakai untuk
menentang balik Kitab manapun yang tidak sesuai dengan Alkitab. Namun sekali
lagi, itu bukan bukti, bukan apa-apa, malahan cara bela diri begini sangat
merisihkan dan merendahkan harkat diri saja, karena di dalamnya tidak ada
unsure pembuktian kecuali klaim sepihak, yang pada gilirannya akan
mendatangkan dilemma. Kenapa?

Berdasarkan anggapan itulah para pengkritik mengatakan: “Kitab Taurat
dan Injil yang ada (sampai sekarang) bukanlah Taurat dan Injil yang asli”, suatu
tuduhan yang bahkan tidak dikatakan oleh Quran sendiri. Maka tuduhan mereka
menjadi tidak terbela karena hingga sekarangpun, setelah lebih dari 12 abad,
tetap tidak ada bukti dan saksi yang bisa ditampilkan pengkritik untuk
pembenarannya (lihat pembahasan tentang pemalsu “someone-sometimesomewhere-
somehow” yang tidak berhasil ditemukan wujudnya).

Tidak usah berputar-putar, melainkan secara sederhana saja dapat
diperlihatkan bahwa sejarah dan sains tidak memberikan satupun Kitab dari
Taurat atau Zabur atau Injil atau naskah-naskah purba manapun yang dapat
dicocokkan kepada Quran. Bahkan tidak juga Injil Barnabas yang dijago-jagokan
pengkritik! Sehingga tuduhan mereka tidak menyelesaikan persoalan yang
mereka ciptakan sendiri, kecuali kalau rela mengakui dengan sejujurnya bahwa
Alkitab itu memang berbeda dengan Quran secara asali !

ALKITAB BERBEDA SECARA ASALI DENGAN KITAB LAIN MANAPUN
Ketika saya masih di bangku mahasiswa, dan ketika saya sudah bekerja di
masyarakat, saya bertemu dengan beberapa teman muslim yang mengutarakan
kepercayaan mereka bahwa orang-orang Yahudi pasti telah menghapus dan
menukarkan ayat-ayat tertentu dari Alkitab agar Mesias yang sejati jangan
sampai ternubuat jatuh ke bangsa Arab yang bukan Yahudi, karena sejak
semula kaum Yahudi memang membenci keturunan Ismail (sambil lalu hal ini
mirip dengan tuduhan Prof. Bakry (IQMB hal 166) : “Umat Yahudi adalah
tersesat atau sengaja menyesatkan diri karena sentimen kebangsaan ketika
merekamerubah isi ayat-ayat Taurat dan menafsirkannya secara lain untuk
“In the family of Abraham” Anne Cooper memberikan gambaran tentang
dilemma yang akan dihadapi orang-orang yang mencoba “mencocokkan”
apa yang tidak cocok itu secara naïf: “Alasan utama para pengkritik Muslim
mencap bahwa Alkitab telah dikorupsikan teks-nya adalah karena mereka
betul-betul tidak mempunyai pilihan lain lagi. Karena Quran di satu pihak
membenarkan Alkitab, tetapi ternyata isi keduanya saling tidak cocok,
sehingga tidaklah mungkin keduanya turun dari Tuhan yang sama. Dan
karena Quran dianggap wahyu akhir dari Tuhan, maka cara yang paling
gampang untuk menghindari kesulitan-kesulitan ini adalah meletakkan
tuduhan bahwa isi Alkitab telah dikorupsikan oleh si pemalsu. (Anne Cooper,
“ISMAEL, My Brother” Marc Tunbridge Wells, hal. 94).
menolak kenabian Muhammad”) Teman muslim kita tentu boleh percaya apa
saja. Tetapi salahlah itu jikalau mereka mendalilkan perbedaan isi Alkitab dan
Quran itu pada soal sentimen suku atau bangsa.

Ingat, Quran bukan hanya berbeda dengan Alkitab dalam hal-hal yang ada
sangkutan dengan ras, namun kedua Kitab ini telah berbeda dan berabtagonis
dalam semua isu-isu kepercayaan yang penting, yang doktrinal. Bahkan sampai
kepada hal-hal yang “remeh-remeh” tidak pokok dan tidak ada sangkutan sama
sekali dengan iman keselamatan atau sentimen ras, toh kedua Kitab tersebut
telah berbeda secara menyolok, sehingga kita tidak bisa mengingkari bahwa
Alkitab dan Quran sejujurnya memang telah berbeda secara ASALI, bukan hasil
KORUPSI. Perbedaan mana tampak dimulai dari awal, 3 ayat pertama Alkitab
yang menyiratkan Tuhan yang Tritunggal, hingga kepada 10 ayat terakhir
Alkitab dimana Yesus dinyatakan sebagai pemberi wahyu (bukan penerima
wahyu). Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Dan Ia akan
segera datang kembali dan mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang
menyasarkan, menambah atau mengurangi wahyuNya.
Kita perlu menyimak dengan kritis beberapa (10 saja) contoh pertentangan
di bawah ini yang sesungguhnya tidak logis dan tidak seharusnya
dipertentangkan oleh siapapun, kecuali bahwa masing-masing Kitab membawa
kebenarannya sendiri-sendiri. Kita mulai dari ADAM.

1. Dosa Adam
Perbedaan asali yang pertama-tama adalah tentang dosa yang diperbuat
oleh Adam. Apakah dosa itu menyebabkan atau tidak menyebabkan manusia
sekarang hidup di bumi yang menderita? Orang Kristen dan Muslim
sependapat bahwa tanpa adanya dosa, tentu kita semua hidup di surga.
Tetapi kedua pihak berbeda pandangan tentang sebab-sebab yang
mendasari kenapa manusia tidak tinggal di Firdaus atau di surga, dan
kenapa kita tidak terbebas dari penderitaan dan kematian.
Alkitab menunjuk kepada penyebab tunggal, yaitu bahwa Adam dan
Hawa telah berdosa. Dan karena keduanya tidak meminta pengampunan
Tuhan (walau sudah “digiring” untuk hal itu), malahan sebaliknya
menyalahkan ular setan yang telah membujuknya untuk berbuat dosa, maka
Tuhan mengusir mereka keluar dari Firdaus. Relasi Tuhan dengan manusia
kini sekaligus menjadi berubah! Manusia oleh ulahnya sendiri kini harus
menderita susah payah berketerusan hingga kembali lagi menjadi tanah
(mati badan) yang tadinya tidak akan dialaminya. Baca Kitab Kejadian pasal
3.

Namun Quran dalam Surat Al A’raaf 23 menyatakan bahwa Adam dan
Hawa telah minta ampun kepada Tuhan dan mereka mendapatinya.
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan sekiranya
Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi:.
Menurut sejumlah komentator muslim, keluarnya Adam dan Hawa dari
Firdaus bukanlah akibat dari pengusiran Tuhan yang mengutuk dosa
manusia (karena toh keduanya telah mendapatkan pengampunan Tuhan),
melainkan memang sudah dipersiapkan dan disuruh Tuhan untuk turun ke
bumi untuk menjadi khalifah di sana, bukan di surga:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi “
( QS. Al Baqarah 2:30)
Karena Adam tidak dikutuk malahan sengaja diutus Tuhan menjadi
khalifah di bumi, maka tentu saja orang akan bertanya-tanya: “Darimanakah
segala susah payah dan penderitaan dunia ini berasal?” Surat Al Balad 4
menjawabnya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah
payah”
Jadi menurut Quran, Allah-lah yang menciptakan keburukan dan
penderitaan dunia, hal mana bertolak belakang dengan Tuhan Alkitab yang
menegaskan sampai 6 kali ulang bahwa bumi dan segala isi ciptaanNya
semuanya baik, bahkan sungguh amat baik (Kej. 1:31)
Kini mari kita berkritis, siapakah orangnya yang mengubah ayat-ayat
Alkitab yang paling awal ini? Dan sekali ayat-ayat yang sedemikian
konsepsionalnya diubah, bukankah sang pemalsu tersebut harus bekerja
super berat untuk mengubah praktis keseluruhan ayat-ayat Alkitab yang
berhubungan dengan keselamatan dan penyelamatan kembali hubungan
yang sempat rusak antara Tuhan-Manusia? Dan ayat-ayat dengan kaitan
demikian memang luar biasa banyaknya, sehingga pada akhirnya si pemalsu
tersebut praktis harus mengkorup keseluruhan isi Alkitab, sehingga ia pasti
akan terjebak dalam kekusutan dan kekacauan penyajian yang memecah
belah kesatuan isi dan tema dari Alkitab itu sendiri? Atau sengaja dan
terpaksa harus mendangkalkan isinya demi “mengontrol” kelogisan cerita
dan ajarannya.
Tetapi kenyataan justru menunjukkan keunikan Alkitab yang tiada tara
dalam segi keselarasan dan kesatuan isi. Dan tidak ada simplikasi atau
kedangkalan yang sengaja dibuat-buat untuk konsumsi orang-orang yang
menuntut logika yang naïf tetapi keliru.
Biarpun memang ada manusia yang mau mengubah-ubah dan
mengkorupsikan ayat-ayat Alkitab, tentulah ia cenderung memilih ayat-ayat
yang menguntungkan dirinya atau kelompoknya untuk diubah bukan? Tetapi
segera terlihat bahwa Adam yang tidak minta ampun dan Adam yang terusir
oleh Tuhan itu adalah ayat-ayat yang tidak seharusnya dipertahankan oleh si
pemalsu Alkitab, karena ayat ini sungguh telah merendahkan Moyang
Agungnya (dan Moyang kita semua), dan ini tidak menguntungkan pemalsu
manapun dan kapanpun!
Akhirnya kita juga harus berkritis tentang jalur kisah-kisah yang
diturunkan dari Adam turun temurun secara tradisi mulut ke mulut hingga
dikitabkan oleh Musa. Apakah kisah yang disampaikan oleh Adam sendiri
kepada keturunannya dimana kisah ini selalu dianggap otentik (walau tidak
mengagungkan Adam yang terusir itu) dan tidak pernah ada sebelumnya
kisah tandingan yang berbeda terhadapnya – kini tiba-tiba harus dinyatakan
sebagai palsu hanya karena dianggap bertentangan dengan ayat Quran yang
muncul beribu-ribu tahun sesudahnya? Apakah bisa dipercaya bahwa
Kalimat Tuhan dapat dikosongkan dan digantikan orang secara diam-diam
hingga ribuan tahun tanpa diapa-apakan oleh Tuhan sendiri? Ini tentu
BERTENTANGAN HEBAT dengan QS Al Anam 34 dan Yunus 64.

2. Putra Nuh
Menurut Alkitab, tegas-tegas didetailkan ada tiga pasang anak laki-laki
Nabi Nuh dan mantu-mantunya semua terselamatkan dari AIR BAH. Total
ada 4 pasang suami istri, yaitu Nuh dengan istrinya, dan Sem, Ham, Yafet,
masing-masing dengan istrinya. (Kej. 7:1,7,13) namun dalam Quran
dikatakan satu putranya menolak masuk ke bahtera (lalu bagaimana dengan
istrinya tidak dikisahkan) dan ia binasa tenggelam dalam bah (Surat Hud
11:43). Anehnya Surat Al-Ambiyaa 21:76,77 mengisyaratkan lain lagi, yaitu
Nuh beserta keluarganya terselamatkan, sementara kaum lainnya
ditenggelamkan semuanya. Nah, perselisihan ini apakah benar hasil
permainan pesalin-pesalin Alkitab? Akankah salah Kitab Kejadian yang
dicatat oleh Musa belasan abad SM dan dipercaya oleh para nabi dan orangorang
beriman turun temurun tanpa protes siapapun? Dan kini dipertegas
lagi oleh Rasul Petrus sendiri, (orang yang beriman menurut Quran) bahwa
seluruh keluarga Nuh yang 8 orang itu terselamatkan semuanya (2 Petrus
2:5). Akankah Petrus juga salah dan kepercayaan dari seluruh orang-orang
beriman menjadi salah kaprah selama kurun 3000 tahunan (!) sebelum
“dibenarkan” oleh satu ayat di luar Alkitab? Bagaimanapun sengitnya orang
mau berbantah-bantahan sesamanya, namun otak dan logika yang tidak
sentimen dan berprasangkah memberi hanya 3 kemungkinan sederhana
namun keras: kekeliruan di Alkitab, di Quran atau memanglah kedua-duanya
berbeda secara asali !
Indikasi Keaslian
Jadi ketika ayat-ayat tersebut tetap “berani” dan “perlu-perlunya”
disajikan dengan melecehi moyangnya, kita justru lebih condong percaya
akan keasliannya ketimbang ayat-ayat yang mengagung-agungkan
moyangnya.

3. Keluarga Abraham
Perbedaan yang sulit untuk dimengerti terjadi tatkala Quran mengatakan
Nabi Ibrahim dan sebagian dari keturunannya tinggal di lembah Mekah dan
tidak menyembah berhala melainkan membangun Ka’bah untuk salat. Dan
para pengikutnya adalah termasuk golongannya (lihat QS Ibrahim 14:35-37
dan Al Baqarah 2:125-128). Padahal Alkitab justru mengatakan Abraham (
Quran menyebutnya dengan nama Ibrahim?) tinggal di Mesopotamia, di
negeri orang Kasdim (Ur-Kasdim), lalu keluar dari sana atas perintah Tuhan
dan menetap seterusnya di Haran. Setelah ayahnya meninggal di Haran,
Abraham diperintahkan Tuhan untuk berangkat ke tanah Kanaan, lalu
sampai ke Sikhem. Dekat kawasan inilah, yaitu di More (bukan di Mekah),
Abraham mendirikan sebuah mesbah bagi Tuhan yang telah menampakkan
diri kepadanya. Dari situ ia pindah ke pegunungan timur Betel. Kemudian
berangkat makin jauh ke Tanah Negeb.
Di tengah-tengah kelaparan yang melanda, Abraham dan istrinya
memang sempat ke Mesir dan tinggal sementara sebagai orang asing di
sana. Akhirnya Abraham pergi lagi ke Tanah Negeb dan selanjutnya menetap
di Tanah Kanaan. Ia mendirikan lagi mesbah di Mamre dekat Hebron (tidak
di Mekah). Sempat tinggal di Bersyeba, dan di sekitar wilayah itulah ia
akhirnya dimakamkan, yaitu di gua Makhpela di sebelah timur Mamre di
tanah Kanaan (Kej. 25:9) Itu sebabnya makam Abraham dan Sara, dan
kelak anak-cucunya Ishak dan Yakub ada terdapat di sana (namun tidak
bersama Hagar dan Ismail), yang sampai sekarang dijadikan tempat ziarah
bagi agama-agama yang menjunjung Abraham.
Jadi, dimanapun, tidak ada bukti sejarah yang membatalkan makam
Abraham dan keluarganya (tanpa Hagar dan Ismail) di Hebron, dan tidak
pernah ada alur atau kaitan sejarah dengan Mekah, Baitullah atau Ka’bah *).
Bukankah Mekah tatkala itu (hamper 2000 tahun SM) belum merupakan
kantong daerah dimana orang-orang menetap, melainkan lebih merupakan
tempat perhentian kafilah-kafilah yang lewat?
Seandainya Ibrahim dan sebagian keturunannya “mempionir” menetap di
Mekah, maka tentulah pengaruh “keislaman” Ibrahim dan keturunannya dan
golongannya di Mekah justru akan ikut terpancar dalam sejarah pra-
Muhammad. Namun dalam perkembangan historis, orang-orang Mekah
purba yang ada ternyata hanyalah orang-orang yang tetap hanyut dalam
paganisma dan tidak menyembah maupun “bersalat” bagi Tuhan dalam azas
agama tauhid. **)
*) Sebab Tuhan telah menegaskan pilihan Yerusalem sebagai tempat
kekal bagi namaNya: “Di Yerusalem namaKu akan tinggal untuk
selama-lamanya”. 2 Taw 33:4
**)Lihat: MH. Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Litera Antar Nusa,
1995, Bab 1 s/d 4, dari Arab Pra-Islam hingga Masa Kerasulan
Muhammad.
Ini tentu menjadi pertanyaan yang terbuka bagi siapa saja. Bukankah
Mekah dengan Ka’bahnya telah secara khusus dipilih Allah ( Allah adalah
nama pribadi Tuhannya orang Islam) sebagai pusat beribadah paling suci
yang pertama dan terakhir untuk umat Islam? Suatu pilihan AKBAR dibawah
pendiri seorang nabi besar, dan menjadi tempat beribadat yang diberkahi
dari sejak awalnya? (lihat QS 3:96, 14:35-40). Tidak seharusnya eksistensi
dan peran dari Ka’bah (untuk salat) dan ajaran agama Ibrahim segera
menjadi hilang tak terlacak tanpa ada sebab-sebab fundamental Allah yang
terkait. Apalagi lalu sempat menjadi tempat yang tidak diberkahi karena
berubah menjadi tempat berhala dan pusat penyembahannya selama
berabad-abad sebelum akhirnya “dihidupkan” kembali oleh Muhammad?
4. Ibu Angkat Musa
Alkitab mengatakan putri Firaun (anak, bukan istri Firaun) yang
mengambil dan mengangkat bayi Musa sebagai anak pungut (Keluaran
2:5,9,10). Tetapi Quran memberi gambaran bahwa istri Firaun dan
(bersama-sama dengan Firaun) yang mengangkat sang bayi sebagai anak
pungut (Surat Al Qashash 28:8,9). Pertanyaan yang tak bisa dielakkan
adalah siapa yang salah mencatat di sini, Musa atau Muhammad? Sebab
orang lain tentu tidak berkepentingan untuk mempertentangkan soal
beginian bukan? Apalagi orang-orang Yahudi, yang menganggap Musa
sebagai nabi mereka yang terbesar, serta kepatuhan mereka yang luar biasa
Vakum 2500 tahun
Ini menjadi tantangan yang belum terpecahkan oleh para ahli. Sebab
referensi Tuhan (Allah) hilang disini. Terdapat vakum ajaran Allah di kota
suci Mekah, di tempat yang paling diberkahi yang justru dipilih Allah
sendiri! Kalimat Tauhid yang pernah ada, yang dijadikan kalimat yang
kekal pada keturunan Ibrahim, bolehkah lenyap selama berpuluh abad
tanpa pembelaan, ditukarkan habis oleh berhala-berhala? Padahal Allah
mendengar doa Ibrahim untuk menjadikan ia dan anak cucunya tetap
sebagai orang-orang yang mendirikan salat di Baitullah, sekaligus
menjauhkannya beserta keturunannya dari penyembahan berhala ( Lihat
QS 43:28, 14:35,36,37 dan 40)
Lebih jauh lagi, vakum ajaran Allah juga disertai dengan keterputusan
(ketiadaan) garis kenabian dari keturunan Ismail. Selama berabad-abad
sebelum Muhammad, tidak terlacak keturunan Ismail tampil sebagai nabi,
kecuali dari keturunan Ishak sajalah. Kenapa? Alkitab menjelaskan bahwa
keturunan Ishak sajalah yang disebut sebagai keturunan Abraham, Anakanak
perjanjian (Kejadian 17:19, 21:12). Bandingkan penjelasan Quran
atas pengelompokan Ishak dengan Ibrahim, baik dalam berkat Allah (QS
37:111) maupun dalam garis keturunan kenabian dan Kitab bagi Ishak,
Yakub dst. (bukan Ismail dan keturunannya, lihat QS 29:27)
akan Kitab-kitab Musa, tidaklah memberi peluang apapun kepada umat ini
untuk memalsukan ayat yang satu ini. Dan ayat ini sungguh dibenarkan
semua orang Yahudi hingga pasca Yesus, terbukti dari pembelaan Stefanus
ketika dihadapkan kepada Mahkamah Agama dengan disaksikan oleh begitu
banyak orang-orang pada waktu ini ketika ia berkata:
“… putri Firaun memungutnya (Musa) dan menyuruh mengasuhnya
seperti anaknya sendiri” . (Kis. 7:21)
Kisah Musa sendiri, yang ditulisnya sendiri, yang lebih tahu dari siapapun
lainnya, sesuai dengan perintah tuhan sendiri, dan diteruskan oleh nabi-nabi
Tuhan dalam tradisi leluhur yang tidak pernah kabur turun-temurun, kini
akankah mendadk menjadi salah gara-gara “catatan” sumber lain yang
berbeda?
5. Satu Hari Tuhan
Alkitab mengatakan bahwa satu “Hari Tuhan” adalah ibarat 1000 tahun
dalam ukuran manusia (Mzm 90:4 dan 2 Pet 3:8) dan ini sama dengan
Quran Surat As Sajdah 32:5. Tetapi dalam Al Ma’Aarij 70:4 dikatakan bahwa
1 hari tersebut kadarnya 50.000 tahun. Disini orang agak kebingungan
untuk menyerasikan satu angka Alkitab dengan dua angka majemuk dari
Quran. “Hari Tuhan” manakh yang dikoreksikan?
6. Mujizat Yesus Yang Pertama
Yang termasuk tidak mudah dimengerti adalah perbedaan tatkala Quran
menceritakan bahwa Isa telah mulai melakukan mujizatNya yang pertama
yaitu ketika Ia yang masih bayi dalam ayunan ibuNya, tiba-tiba berkata-kata
untuk membela kesucian ibuNya yang dituduh berbuat serong:
“… Mereka berkata, “Bagaimana kami berbicara dengan bayi yang masih
dalam buaian?” (Bayi) berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.
Allah memberiku kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi” (QS.
19:29,30)
Padahal Alkitab mengatakan mujizat pertama yang dilakukan Yesus
adalah menjadikan anggur dari air pada perjamuan kawin di Kana, ketika Ia
sudah dewasa berumur sekitar 30 (Yoh 2:11). Tidakkah aneh pertentangan
kedua Kitab tentang mujizat pertama dari Yesus ini? Manakah yang benar?
Masalah intinya adalah, bilamana ayat-ayat Alkitab benar telah dikorup
oleh orang-orang yang ingin menjadikan Dia Tuhan (seperti yang
dituduhkan oleh para pengkritik), maka seharusnya mujizat dari Yesus
cenderung untuk ditambah-tambah dan pasti tidak akan dikurang-kurangi
atau dihilangkan.
Khusunya mujizat Yesus sang bayi ini tidak mungkin akan dihapus oleh
si koruptor. Kenapa? Karena koruptor yang mentuhankan Yesus tentu
merasa bahwa Yesus akan lebih berbobot lagi untuk dianggap sebagai Tuhan
kalau mujizatNya makin banyak dan makin aneh-aneh. Lagi pula
kebudayaan purba di Asia Kecil menunjukkan kelaziman bahwa kisahkisah/
catatan-catatan tradisi yang sederhana mudah ditambah-tambah
menjadi legenda-legenda yang menarik, dan bukannya dikurangi-kurangi.
Ini mengartikan bahwa “si penulis misterius” tadi semestinya menambah
kisah mujizat-mujizat yang serba ajaib ibarat dongeng dan justru tidak
menguranginya dengan mujizat pertama (yang pada umumnya mudah
diingat orang sehingga tidak berani dihapuskan oleh si koruptor begitu saja).
Dr. Anis Shorrosh dalam bukunya ISLAM REVEALED, mengungkapkan:
“Ternyata sumber dari kisah tentang mujizat Yesus dalam ayunan itu
terdapat dalam buku apokrip/dongeng Mesir abad kedua, yaitu dalam
First Gospel of the Infancy of Jesus Christ. … Yesus berbicara ketika
Dia masih bayi di dalam ayunan dan berkata kepada ibuNya: “Maria,
saya Yesus, Anak Allah, Firman (kalimat) yang engkau lahirkan menurut
pernyataan malaikat itu…”
Dari pelbagai kisah tentang Isa yang disampaikan secara berbeda antara
Injil dan Quran, maka Encyclopedia Britannica memberi tanggapan bahwa
pengertian Muhammad tentang Alkitab banyak terbaur dengan kisah dan
cerita0cerita ajaib yang terdapat pada Kitab-kitab Apokrip yang memang
berbeda dari Alkitab. (Encyclopedia Britannica, Volume 15 hlm. 648). Sebab
mujizat-mujizat Yesus yang berpola peragaan, sekedar menunjukkan
kuasaNya yang merupakan tontonan enak, tidaklah dikenal dalam Alkitab.
Bahkan Yesus tidak akan membuat roti dari batu, semata-mata untuk
membuktikan bahwa Dia benar dan dapat melakukannya (Mat. 4:3,4),
namun Dia tergerak hati untuk menggandakan roti ketika perut-perut lapar
sungguh membutuhkannya (Mat. 14:13-21, bandingkan dengan mujizat Isa
dalam QS 5:112-114 dengan motivasi yang berlainan).
Quran justru memaparkan “mujizat peragaan” ini dengan cukup panjang
lebar (misalnya Isa membentuk tanah liat untuk ditiupkan, lalu menjadi
burung sungguhan), seraya sangat menyingkatkan dan tidak diulas tentang
mujizat Yesus yang lebih tematis bernilai kemanusiaan, ketika
menyembuhkan orang-orang yang menderita, sakit atau orang mati yang
dibangkitkan kembali. Ini tentu menimbulkan pertanyaan kenapa segi-segi
kemanusiaan dan mujizat Isa Almasih kurang ditonjolkan dalam Quran
ketimbang segi-segi peragaannya.
R.W. Thomas memberikan pandangannya sebagai berikut:
“Kitab Perjanjian Lama dalam versi Arab mulai dikenal tahun ± 900 M.
Namun tulisan-tulisan theodorus 4 abad sebelumnya telah menceritakan
bahwa Taurat telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa-bahasa utama
pada waktu itu, yang diyakini termasuk pula bahasa Arab. Namun orangorang
Yahudi di Arabia lebih menyenangi kisah-kisah dan dongengdongeng
Talmud yang secara popular telah merangsang khayalankhayalan.
Ini tentu saja menarik didengar siapa saja termasuk
Muhammad, yag mungkin kurang menyadari distorsi historis dalam
kisah-kisah tersebut sehingga terbaur ke dalam ajarannya. Dan karena
Quran disajikan dalam bentuk puitis yang tidak terikat dengan kronologi
kesejarahan, maka petikan kisah-kisah lepas ini mampu memberikan
kesan seolah-olah orisinil berasal dari Muhammad” (R.W. Thomas,
Islam, Aspects and Prospects, Villach, Austria, Light of Life, hal. 12-
13)
Bagi kita, sekalipun sinyalemen Dr. Shorrosh, Thomas, dan Encyclopedia
Britannica di atas mau diperdebatkan, namun suka atau tidak suka kita tetap
dihadapkan pada suatu kepastian bahwa kedua Kitab Suci itu memang telah
berbeda sejak “kelahiran” aslinya!
7. Bisunya Zakharia
Alkitab di dalam Lukas 1, menceritakan imam Zakharia, yang tidak
mempercayai ucapan malaikat Gabriel bahwa ia sekalipun sudah tua, namun
lewat istrinya akan melahirkan seorang anak laki-laki. Karena menolak untuk
percaya, maka ia lalu dihukum menjadi bisu sampai kepada penggenapan
kelahiran Yohanes Pembaptis, anaknya. Gabriel berkata kepada Zakharia:
“Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk
berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini
kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat
berkata-kata sampai kepada hari, dimana semuanya ini terjadi, karena
engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya
pada waktunya”…
Tetapi dalam QS Ali ‘Imraan 3:41 tertulis sebagai berikut:
“Zakharia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda (istriku telah
hamil)”. Allah berfirman, “Tandanya bahwa engkau tidak dapat berbicara
selama 3 hari kecuali dengan isyarat”…
Kini, orang-orang saleh manakah yang berani mengkorup ucapan
malaikat Gabriel ini, yaitu menggantikan masa bisunya Zakharia selama 3
hari (menurut Quran) menjadi 9 bulanan (masa mengandung) seperti yang
tercatat di Alkitab? Jangankan keluarga orang saleh; orang biasa-biasa saja
seperti anda dan saya tidak akan berani melakukannya ketika kita sempat
turut menyaksikan kehamilan dan kebisuan ajaib yang mengikuti ucapan
seorang malaikat Tuhan!
Demikianlah tidak aka nada satu dari keluarga dan family Zakharia yang
berani mengkorup kata-kata langsung dari malaikat Gabriel. Dan tidak ada
keperluan yang masuk akal bagi mereka untuk menggantikan 3 hari menjadi
9 bulanan untuk masa bisu itu. Toh “tanda bisu” itu telah disaksikan oleh
seluruh keluarga dan kerabatnya Zakharia, berlangsung berapa lama, dan
bagaimana berakhirnya.
Sementara Quran tidak merinci bagaimana proses berakhirnya hukuman
bisu ini pada Zakharia, Alkitab justru sangat mendetailkan proses tersebut
untuk mempersilahkan pengkritik mana saja yang dapat menunjukkan
adanya penggelapan-penggelapan ayat demi ayat yang telah dirinci sejelasjelasnya.
Ia bukan sekedar suatu cetusan pernyataan umum “sekian hari”,
tetapi silahkan memperhatikan periwayatannya:
“Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet (istri Zakharia) untuk
bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetanggatetangganya
serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah
menunjukkan rahmatNya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah
mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari
yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak
menamai dia “Zakharia” menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata:
“Jangan, ia harus dinamai Yohanes”. Kata mereka kepadanya: “Tidak
ada diantara sanak saudaramu yang bernama demikian”. Lalu mereka
memberi isyarat kepada bapaknya (yang masih bisu itu) untuk bertanya
nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta
batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes”.
Dan merekapun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah
mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji
Tuhan”. (Luk. 1:57-64)
Jadi kembali keobjektifitas, kalau Alkitab sampai merinci dengan terbuka
“bisu 9 bulanan” dan disertai saksi-saksi kuat oleh tetangga dan sanak
saudara Zakharia, maka siapakah dari keluarga Zakharia (yang semuanya
terkenal sebagai orang saleh-saleh itu) mau dan berani menggelapkan berita
Gabriel yang justru sudah terbukti menghukum seorang Zakharia yang
kurang beriman? Beda angka-angka ini pastilah bukan penjahilan orangorang
saleh dan beriman dari keluarga suci ini. Dan sejak itu, fakta ini
menjadi buah mulut yang tidak mungkin diselewengkan oleh orang Yahudi
manapun dan tidak mungkin teerhapus dalam catatan Injil.
Jangan lupa, bahwa saksi yang paling jelas adalah justru Maria, wanita
yang sedang pula mengandung Yesus tatkala Maria mengunjungi Elisabet di
Yehuda, ketika Elisabet sudah mengandung Yohanes sekitar 6 bulan.
Zakharia bisu memang tidak tercatat mengatakan apa-apa ataupun
menubuatkan sesuatu tentang Mesias yang sedang dikandung Maria.
Bilamana betul Zakharia hanya bisu selama 3 hari saja, maka pasti 3 hal
berikut akan terjadi:
a. Zakharia sebagai kepala keluarga akan turut bicara pula dengan
Maria, bukan saja Elisabet yang berbicara dengan Maria.
b. Zakharia dan keluarganya yang saleh pasti akan memprotes keras
“ayat-ayat palsu” yang disebabkan oleh murid-murid Yesus, apabila
dirinya disebut gagu sepanjang 9 bulan kehamilan Elisabet. Dan
karena Maria mempunyai jalur hubungan yang dekat sekali dengan
murid-murid Yesus, maka protesnya akan sangat bergaung luas.
c. Kalau hanya dihukum bisu 3 hari, maka Zakharia dan atau
keluarganya pasti masih akan meragu, bahwa “3 hari tak bisa bicara”
belumlah merupakan tanda yang betul-betul tuntas untuk
menghukum dirinya yang kurang beriman terhadap pemberitaan
Gabriel. Bisa saja kebisuan tersebut adalah hasil kagetan ketemu
dengan Gabriel yang membawa berita yang memang mengagetkan,
sehingga terjadi suatu transisi mental shock, atau serak berat
suaranya yang terkomplikasi dengan kejiwaannya, atau mogok bicara
sesaat karena mati rasa kesengsem, dan lain-lain.
Dengan perkataan lain 3 hari bisu adalah TANDA yang lemah, kalau itu
dimaksudkan untuk pembuktian tentang kehamilan seorang perempuan,
sebab belum akan terbukti oleh kasat mata orang-orang bahwa Elisabet
sudah pasti mengandung menjelang hari yang ketiga. Namun tanda
kebisuan yang berjalan hingga 9 bulanan hingga sang anak terlahir
sungguhlah menjadi saksi langsung atas kehamilan yang dijanjikan! Itu
adalah tanda yang sejati, tidak bisa diselewengkan ataupun di klaim sepihak
dari Zakharia sendiri!
8. Kehidupan Di Surga
Perbedaan Alkitab dengan Quran tidak hanya pada masalah-masalah
yang terjadi di dunia, namun juga meliputi kehidupan setelah kematian.
Quran misalnya menjanjikan kehidupan perkelaminan di surga bagi orangorang
yang bertaqwa (pria) dengan kenikmatan bersama pasangan
perawan-perawan yang sebaya, dengan bidadari yang cantik bermata jeli
(lihat Surat Ath Thuur 52:20, dan An Naba 78:33). Tidak disebutkan tentang
anak-anak.
Bukti yang tidak bisa dicatut dan digugat lagi
Bagaimanapun fakta tentang kebisuan 9 bulan ini tidak bisa dicatut lagi
karena beritanya sudah tersebar kemana-mana. “Maka ketakutanlah
semua orang yang tinggal di sekitarnya (tetangga-tetangga Zakharia),
dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan
Yudea. Dan semua orang yang mendengarnya, merenungkannya…”
(Luk. 1:65,66)
Jadi ada kenikmatan surga yang menyangkut unsur kelamin, unsur
umur, bahkan unsur keperawanan dan kebendaan seperti kenikmatan
mendapatkan perhiasan dan pakaian dan buah-buahan (lihat Surat Al Haji
23, Yasin 57), hal mana bertolak belakang dengan iman Kristen dimana
Yesus justru memberi koreksi kepada orang-orang Saduki bahwa kehidupan
di surga bukanlah kehidupan dimana orang-orang saling kawin mengawin
melainkan semuanya dalam persekutuan persaudaraan seperti halnya
malaikat. Bukan pula soal makanan dan minuman, melainkan soal
kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Mat. 22:30, Rm
14:17).
Ada komentator yang menafsirkan secara apologetic bahwa kenikmatankenikmatan
surgawi seperti yang digambarkan oleh Quran tersebut hanyalah
ilustratif demi memudahkan pengertian manusia. Namun ahli-ahli lain tidak
sependapat sama sekali, baik ditinjau dari Quran, apalagi dari Hadis-hadis.
Lihat jawaban Muhammad pribadi terhadap seseorang yang bertanya
kepadanya:
“Apakah penghuni surga melakukan persetubuhan?”
Beliau menjawab, “Ya” dengan penyemburan yang keras, dengan
kemaluan yang tidak lemas dan dengan syahwat yang tidak terputus,
tetapi tidak keluar air mani sedikitpun, baik dari lelaki atau perempuan.
Apabila selesai, perempuan kembali bersih dan kembali perawan (Shahih
Ibnu Hibban). (Lihat M. Mutawalli Sya’rawi, “Anda bertanya, Islam
menjawab”, hal. 23)
Menjadi pertanyaan, setelah selesai bersanggama, adakah terjadi
pengendoran kenikmatan surgawi? Dengan perkataan lain, akankah ada
fluktuasi intensitas kenikmatan di surga menurut waktu atau urutan? Suatu
pertanyaan yang pantas untuk direnungi….
Sesungguhnyalah telah terjadi perbedaan riil yang amat besar yang
pantas kita kaji, apakah kebahagiaan surgawi berunsur dari pemenuhan
kebutuhan masing-masing orang perorang yang bersifat lahiriah, (di luar
persekutuan dengan Tuhan), ataukah mengalir dari spirit Roh Kudus yang
mampu memberi sukacita yang transcendental bagi semua orang dalam
persekutuannya dengan Tuhan?
Tetapi di tengah-tengah kita di dunia, ada satu orang saksi mata yang
bisa membuktikan semuanya ini, ialah Dia satu-satunya yang telah tinggal di
surga dan kini mengisahkan untuk kita bagaimana kehidupan itu di surga.
Siapakah Dia? Baca Yohanes 3:13; “Tidak ada seorangpun yang telah naik
ke surga selain daripada Dia yang telah turun dari surga, yaitu AnakManusia
(Yesus)”. Dialah satu-satunya yang berani menyatakan kehisupan di surga
sekaligus mengoreksi para imam Saduki seperti yang dikutib di atas.
Jikalau keberadaan sosok dan otoritas Yesus begitu dekat dan paham
dengan alam surga/akhirat, maka atas alas an-alasan apakah kita dapat
menolak penggambaran Yesus atas kehidupan di surga itu?
9. Roh Kudus VS Jibril
Belum cukup dengan perbedaan kehidupan manusia di akhirat, Quran
juga mencatat oknum Rohulqudus yang berlainan sama sekali dengan apa
yang dinyatakan dalam Alkitab. Quran sendiri mensugestikan bahwa tidak
seorangpun yang diberi penjelasan berarti tentang siapa atau bagaimana itu
Rohulqudus. (QS. 17:85). Namun para penafsirlah yang mengatakan Roh
Kudus itu sebagai malaikat Jibril. Padahal Alkitab, membedakan keduanya
dengan cara yang amat meyakinkan, karena Gabriel itu sendiri yang
membedakan jati dirinya dengan jati diri Roh Kudus!
Ketika itu Maria sedang menanyakan kepada Gabriel bagaimana ia
mungkin mengandung dan melahirkan seorang anak, lalu jawab Gabriel
kepadanya:
“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan
menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan
disebut kudus, Anak Tuhan”.
Jadi jikalau Gabriel adalah Roh Kudus, tentulah ia akan berkata: “Aku,
roh Kudus, akan turun atasmu…”
Seorang malaikat, walau mampu berada dimanapun dalam sekejab,
namun ia bukan Maha Ada. Ia tidak mampu hadir serentak di semua ruang.
Malaikat justru diciptakan berjuta-juta untuk menangani orang perorang
(Mzm 91:11, Mat. 18:10, juga QS. 13:11), namun Roh Kudus hanya ada
satu dan Ia-lah Roh Tuhan Yang Kudus yang mampu sekaligus memenuhi
setiap dan semua manusia, walau terpisah-pisah (lihat Kis. 2:4). Lihat
bahwa Yesus dikandung dari dan penuh dengan Roh Kudus (Luk. 4:1, Mat.
1:20), Yohanes sejak dari rahim penuh dengan Roh Kudus, Elisabet (ibu
Yohanes) dan Zakharia (bapa Yohanes) semuanya penuh dengan Roh Kudus
(Luk. 1:15, 4,67) yang bukan Jibril. Malahan Yesus menghembuskan Roh
Kudus (Yoh. 20:22).
Dan siapa bilang dengan yakin bahwa Quran menyamakan Rohulqudus
dengan Jibril? Diamanakah Jibril pernah menamakan juga dirinya rohulqudus
atau sebaliknya? *) kapankah Jibril mendapatkan “nama kedua” ini bagi
Bahkan Quran mengakui bahwa Isa (dan hanya Dialah) yang sangat dekat
dengan alam roh, gaib, dan akhirat. Lihatlah betapa: 1) Isa berotoritas
terhadap alam akhirat (QS. 3:45). 2) Isa berpengetahuan tentang hari
kiamat, menjadi tanda dan saksi (QS. 4:159,43,61). 3) Isa sebagai
penjelmaan KalimatNya dan Roh daripadaNya (QS. 4:171). 4) Isa
diperkuat oleh Rohulqudus (QS.2:87). 5) Isa mengetahui hal-hal gaib (QS.
3:49). 6) Isa diangkat Allah langsung kepadaNya di surga (QS. 3:55)
dirinya? Dalam Tauratkah? Injil? Wahyu Quran? Atau dalam kisah berantai
dan penafsiran manusia?
Jikalau kita membaca QS. 4:171 bahwa Isa dikandung oleh Maryam dari
kalimat dan Roh Allah; dan QS. 5;110 bahwa Isa diperkuat oleh Rohulqudus,
tetapi Jibril ternyata bukan berbicara dari dalam diri Maryam, melainkan
berseru (dari suatu tempat yang rendah) kepada diri Maryam yang sedang
mengandung itu, (QS. 19:24) maka tidakkah kenyataan-kenyataan ini
mendukung apa yang kita paparkan di atas yaitu, bahwa Jibril dengan
Rohulqudus adalah jauh dari identik?
10. Hukum Yang Terutama
Sebagai contoh terakhir (walau masih terlalu banyak lagi yang lain), kita
tampilkan satu perbedaan asali yang paling fundamental antara Alkitab dan
Quran. Di sini para pengkritik tidak usah lagi bersusah payah untuk mencaricari
beribu ayat, kata, huruf, ejaan, urutan, dan arti mana yang bisa
dianggap “korup”.
Ada satu tips yang paling sederhana untuk mereka yaitu mencari
pembuktian tunggal apakah ayat-ayat yang menjadi tiang ajaran Kristen itu
bisa dipatahkan atau tidak.
Lihat Injil Matius 22:37-40. Inilah ayat inti ajaran Kristiani dan bila ayatayat
ini terbukti korup atau palsu maka dengan sendirinya seluruh Alkitab
akan otomatis palsu tidak tertolong lagi. Ayat tersebut berbunyi:
“Kasihilah Yahweh, Tuhanmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang
terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama
dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab
para nabi”
(Lukas 10:25-37, NB. “sesamamu manusia” disini termasuk orang
“kafir”, “orang yang dibenci dari Samaria”).
*)Seperti halnya nama/sebutan yang sering muncul secara bergantian
bagi Allah & Tuhan (Rabb) atau Yahweh & Elohim, atau Yesus &
Kristus, atau Isa & Al masih, dan lain-lain. Untuk Zat yang begitu
abstrak, tentu penafsirannya harus berdasarkan wahyu. Dan Quran,
walau memberitakan bahwa Jibril berfungsi menurunkan wahyu (QS.
2:97), begitu pula dengan Rohulqudus (QS. 16:102), namun itu
tidaklah otomatis berarti bahwa kedua oknum tersebut identik. Sebab
sedari dulu Taurat-Perjanjian Lama memperlihatkan ada 3 “pihak”
yang berwahyu kepada nabi; tuhan (malahan bicara bermuka-muka
dengan Musa), Tuhan via malaikat, dan Roh Tuhan (Roh Kudus). Lihat
Mzm 51:13, Zak 4:6, 2 Sam 23:2, yeh 11:5, dan lain-lain.
Nah, bukankah hukum yang begitu utama, yang dianggap tiang pokok
agama dan moral etika segala manusia dan para nabi, ternyata tidak muncul
secara khusus dalam 5 tiang rukun Islam? Apalagi hukum ini memasukkan
istilah ‘sesama manusia” yang artinya mencakup orang-orang kafir yang
dibenci? Padahal kalau Quran membenarkan Taurat dan Injil (seperti yang
dikatakannya berkali-kali), maka logisnya kepada tiang yang paling utama
ini harus ditekankan pembenarannya dalam Quran, bahkan ada perlunya
untuk mengulang-ulang secara khusus hukum yang paling utama ini.
Perhatikan bahwa hukum ini telah dinyatakan berulang-ulang dalam
taurat. Juga berulang-ulang dinyatakan dalam Injil lewat rangkuman Yesus
sendiri. Jadi jikalau ayat tersebut kini tidak terdapat secara eksplisit di dalam
Quran, maka manakah yang lebih logis dianggap “terkorup”: di Alkitab atau
Quran?
Dan siapakah orangnya yang percaya dengan bukti-bukti bahwa ayat ini
bukan aslinya Alkitab. Siapakah orangnya yang akan berkeberatan terhadap
kehadiran ayat luhur ini dalam keasliannya? Nabi dan malaikat dari zaman
manakah yang tidak menyetujui akan ayat emas ini? Tampaknya tidak
mungkin ada pihak-pihak yang tidak setuju. Dan Surat Galatia 5:23 turut
mengatakan:
“Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (tentang kasih).
Artinya tidak ada orang baik-baik yang akan menentang hukum kasih.
Ayat-ayat tersebut telah dinyatakan berkali-kali dalam Taurat Musa dan Injil,
tercatat sejak ribuan tahunan sebelum Quran muncul. Dibacakan terus
dalam sinagoga dari bahas asli Ibrani yang diambil dari kutiban Kitab
Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Ini adalah ayat yang sangat agung, mulia
dan luhur. Menyentuh kerinduan dasar manusia yang paling hakiki. Ia adalah
pilar dan induk hukum dimana semua kode moral, etika dan hukum lainnya
bergantung. Itu sebabnya Yesus meletakkan kesemua Taurat dan kitab nabi
yang berasal dari Tuhan ke bawah naungan 2 tiang KASIH ini.
Ayat-ayat ini sangat akrab bagi telinga orang-orang yahudi yang
membawa Taurat Musa. Termasuk khasanah ayat-ayat emas yang kekal
(lihat Lukas 10:25-28). Maka kalau ada satu orang yang tiba-tiba
mengkorupkan atau merubahnya sedikit saja, tentulah semua penyaksipenyaksi
akan segera tahu dan akan menghukum si jahil pengkorup
tersebut.
Jadi sungguh tak ada kasus dan peluang yang logis bagi penjahil manapun
yang bisa menyodorkan suatu hukum orisinil yang begitu luhur dan paling
utama ini kecuali datangnya hanya dari Alkitab sendiri, dank arena hukum
itu dinyatakan sebagai yang paling utama dari seluruh hukum nabi-nabi
yang ada, maka sepantasnya ia menjadi bagian dari rukun Islam yang
terpenting pula, bilamana betul Quran, Injil dan Taurat tidak berbeda dari
sumber asali.
Dan kalau hal ini belum bisa diserasikan, kita harus kembali ke persoalan
klise: bahwa benar ayat-ayat Alkitab tersebut purna-mandiri dan purnaotentik,
tidak dikorupsikan dan tidak mengada-ada menciptakan perselisihan
dengan Kitab-kitab lain; tetapi tatkala ada yang belum klop itu, sematamata
hanyalah persoalan intern dari pengkritik-pengkritik yang tetap ingin
memaksakan predikat “korupsi” untuk dikenakan pada ayat-ayat Alkitab.*)
Dengan rela mengakui bahwa kedua Kitab tersebut adalah Firman-firman
yang memang berbeda secara asali, bukan korupsi, maka pencarian kebenaran
masing-masing agama tidaklah berakhir pada distorsi satu “celestial domain”
yang sama. Sebab disini tidak ada lagi konfrontasi ayat Kitab yang satu lawan
ayat Kitab yang lain secara komparatif dalam satu “doamai”, melainkan Alkitab
harus dilihat sebagai domain yang berlainan dengan pewahyuan Kitab-kitab
lainnya, yang mana setiap Kitab secara asali berdiri atas kebenaran hakekat dari
pesan-pesan yang dibawakannya sendiri-sendiri. Dan inilah yang seharusnya
*)Istilah “korupsi ayat” adalah semata-mata istilah pengkritik untuk
mendiskreditkan Alkitab, namun justru berbalik memperlihatkan muatan
“korupsi tafsiran” di pihak pengkritik! Quran sendiri tidak menuduh
dengan pengertian tersebut kecuali menggambarkan ada usaha-usaha
penyembunyian dan penyelewengan ayat secara verbal dan bukan
penggantian dan pelenyapan ayat secara tekstual .
Himbauan yang sportif
Dalam kaitan fakta-fakta keras seperti di atas itulah maka Niftrik dan Boland
mengajukan usul sebagai berikut: “…bukankah barangkali sudah waktunya,
bahwa baik orang-orang beragama Islam maupun orang-orang Kristen dengan
terus terang saling mengakui bahwa “Nabi Isa” dan “Tuhan Yesus” pada
hakekatnya berbeda sekali satu sama lain? … kalau begitu, bukankah harus
kita akui, bahwa menurut pokok-pokoknya yang hakiki, ada terdapat
perbedaan mutlak antara agama itu secara lahir yang sepintas lalu
nampaknya berdekatan? *)
*)Dogmatika Masa Kini, Van Niftrik dan Boland, hal. 264. Bagaimanapun Allah
Swt berbeda dengan Yahweh Elohim, surga dalam Quran juga berbeda
dengan surga Alkitab, Nabi-nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ishak, Musa, dst
hingga Yahya dan Isa serta ajaran keselamatannya semuanya berbeda
dengan nabi-nabi yang diceritakan dalam Alkitab, walau namanya dan
setting peristiwanya seolah mirip-mirip. “Kemiripan” ini hanyalah klaim dari
Quran, bukan hal yang diakui oleh Alkitab yang tidak mereferensikan kitabkitab
manapun di luar dirinya.
menjadi titik tolak dari kerukunan umat beragama yang sejati, ketika ajaran
masing-masing berdiri saling bersisian (flanking), dan bukan berhadapan (head
on) dalam cakupan dimensi yang sama!
Namun sementara Alkitab masih dihadapkan sebagai Alkitab palsu oleh
para pengkritik, maka kita merasa perlu untuk berdefensi untuk memperlihatkan
kepada mereka bahwa Alkitab yang tidak merujuk atau menuduh Kitab manapun
itu, toh tidak bisa (dan tidak pantas) dipakai untuk membenar-benarkan Kitab
lainnya, bilamana ia disalah-salahkan pula pada waktu yang sama!

8 komentar:

  1. Hanya mengutip sediki saja:

    Im 11:29
    Terj Lama: Dan lagi di antara segala binatang kecil yang melata di atas bumi itu, haram kepadamu inilah: binturung dan tikus dan cecak sejenis-jenisnya;
    Terj Baru: Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya

    Nanti kalau perlu ditambah. Yg demikian ini mestinya bukan korupsi namun menjerumuskan.

    BalasHapus
  2. ini lebih heboh lagi .... satu ayat isinya berbeda beda... bahkan ada yang kosong melompong ...

    http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=1Yoh&chapter=5&verse=7

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena kamu ngga paham betapa sulitnya menterjemahkan bahasa Yunani kedalam bahasa yang mudah dipahami oleh semua orang. beberapa kata-kataYunani memiliki kandungan teologis yang hanya bisa dimengerti oleh sarjana teologia). makanya ada dibuat penjelasan tambahan agar bisa dimengerti oleh orang umum.

      Hapus
  3. Kalau dirasakan dengan perasaan jujur.
    Dalam iman Kristen/Katholik beriman kepada injil Yesus adalah iman yang membebaskan , kita beriman kepada injil dan yesus bebas tanpa ada kekawatiran apakah kitab injil itu palsu kek, .. dirubah kek ... di apain lagi kek..., karena ? kitab Injil tidak pernah memberikan ayat untuk merujuk kepada kitab sesudahnya(Al-Q), nah !!. sedangkan kitab yang sesudahnya(Al-Q) itu lah justru yang terdapat ayat yang mewajibkan merujuk ke kitab sebelumya jika ada keragu-raguan. So kitab setelah Injil inilah(Al-Q) , yang akan merasa lebih baik dan menjadi benar jika menyatakan bahwa kitab yang terdahulu (Injil) itu palsu, diubah, dikorup, tidak masuk akal,tidak ada logika, Injil Paulus, tidak asli , isinya pudar karna diterjemakan , hanya karangan orang yahudi,omong kosong, mlompong dan lain sebagainya bla...bla.. blaaa. betapa pedih hati ini . jika itu benar,! berarti kitab setelah injil (Al-Q) merujuk pada kitab yang palsu, dikorup, diubah, tidak asli dll itu , benar2 seluruh umat dibumi ini merugi besar besaran. betapa pilunya hati ini ada suatu Iman yang harus menyangkal kitab2 lain terlebih dahulu baru mereka bisa meyakini bahwa kitabnya benar sebenar-benarnya.

    BalasHapus
  4. hati 2 dijerumuskan kakek2 yg bernama muhamad yg mengawini anak 6 tahun , ajaranya menyesatkan yg membimbing dirimu ke neraka seraaaam

    BalasHapus
  5. Firman Allah yang Hidup hanya ada pada Alkitab.

    BalasHapus
  6. Kedatangan hamba Allah
    "" "" "" "" "" "" "" "" "" "
    'Atmak' belum tentu berarti 'yang ku junjung' tapi itu sebenarnya nama

    penulisan Atmak adalah אתמך
    penulisan Ahmad adalah אחמד

    Dalam Yesaya 42:1, Allah berkata
    "Lihatlah, 'Hambaku' (diucapkan sebagai Abd-ee), 'yang Ku junjung' (diucapkan sebagai Atmak);

    Allah menubuatkan tentang kedatangan hamba-Nya
    Lihatlah Hambaku Ahmad (Yesaya 42:1) - dan begitu siapa Ahmad ini? disebut hamba Allah?

    Dia tidak lain adalah
    Abd-Allah Ahmad (Hamba Allah, Ahmad) - Nabi Muhammad saw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda mengatakan: 'Atmak' belum tentu berarti 'yang ku junjung' tapi itu sebenarnya nama.

      kata : belum tentu = sebenarnya anda ragu dengan pernyataan anda sendiri. hehehe...

      Hapus