<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3438727533309684215</id><updated>2011-11-10T23:05:50.975-08:00</updated><category term='ALKITAB'/><category term='INJIL'/><title type='text'>DISKUSI ISMAIL-ISHAK 1</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>WHY WE LEFT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12390510661703461441</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3438727533309684215.post-6995327834915311372</id><published>2011-03-28T03:15:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T03:15:00.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INJIL'/><title type='text'>ALKITAB INFERIOR KARENA TERBUKTI ISINYA BANYAK DIKORUPSI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak pengkritik sependapat dengan pernyataan sebagai berikut: Ayat-ayat&lt;br /&gt;dan isi Alkitab ternyata tidak asli lagi, melainkan telah dihilangkan&lt;br /&gt;atau diganti (istilahnya: korupsi ayat) oleh penyalin-penyalin Alkitab&lt;br /&gt;sehingga memunculkan Alkitab campuran dengan hasil tangan-tangan&lt;br /&gt;kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Bakry mengatakan: “Al Quran menyatakan juga bahwa kitabkitab&lt;br /&gt;Injil dan Taurat yang sekarang telah diubah isinya oleh orangorang&lt;br /&gt;Nasrani (dan Yahudi) sehingga isinya tidak sesuai lagi dengan&lt;br /&gt;prinsip agama Tauhid…” dan bahwa … Al Quran telah memberikan bukti&lt;br /&gt;kebenarannya dalam mengkoreksi dan menunjukkan adanya ayat-ayat&lt;br /&gt;palsu tersebut. (IQMB hal. 33&amp;amp;31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi baiklah kita menyampaikan balik bahwa apa yang disebut sebagai&lt;br /&gt;bukti korupsi ayat seperti yang diistilahkan di atas bukanlah bukti sama sekali,&lt;br /&gt;melainkan keyakinan pengkritik pribadi yang tidak mau melihat kebenaran&lt;br /&gt;Alkitab dari sudut pandang Alkitab sendiri. Mereka hanya mendiskreditkannya&lt;br /&gt;dari nara sumber lain yang tidak dikenal Alkitab. Dr. Robert Morey –&lt;br /&gt;mengatakan bahwa apa yang mereka sebut “bukti” itu sebenarnya hanyalah&lt;br /&gt;sejenis pendalihan yang berputar-putar (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;circular reasoning&lt;/span&gt;) sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;T : “Kenapa Alkitab disalahkan?”&lt;br /&gt;J : “Karena tidak sesuai dengan Quran”&lt;br /&gt;T : “Kalau tidak sesuai, kenapa Alkitab yang harus salah?”&lt;br /&gt;J : “Karena Quran mengatakannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pengkritik yang memakai dalih putar-putar ini lupa bahwa Alkitab&lt;br /&gt;tidak merujuk kepada kitab-kitab manapun. Ia Sabda Tuhan yang perlu dan&lt;br /&gt;cukup dalam dirinya, tidak perlu dilengkapi oleh referensi lainnya. Bukan rahasia&lt;br /&gt;bahwa Quranlah yang banyak merujuk kepada Alkitab. Quran tidak pernah&lt;br /&gt;sekalipun mengatakan teks Alkitab itu palsu., malahan sebaliknya berulangulang&lt;br /&gt;kali mereferensikan Alkitab dan membenarkannya, dan menyerukan&lt;br /&gt;orang-orang mukmin untuk mengimaninya. Tetapi Alkitab tidak pernah&lt;br /&gt;sekalipun menyinggung kitab lainnya, tidak menubuatkan akan hadirnya Satu&lt;br /&gt;Maha Kitab lain dari bangsa-bangsa lain, apalagi menyuruh pembacanya untuk&lt;br /&gt;mengimani Kitab lain tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kalau mau fair, model circular-reasoning seperti yang&lt;br /&gt;dipakai oleh pengkritik-pengkritik itu bisa sama sahnya dipakai untuk&lt;br /&gt;menentang balik Kitab manapun yang tidak sesuai dengan Alkitab. Namun sekali&lt;br /&gt;lagi, itu bukan bukti, bukan apa-apa, malahan cara bela diri begini sangat&lt;br /&gt;merisihkan dan merendahkan harkat diri saja, karena di dalamnya tidak ada&lt;br /&gt;unsure pembuktian kecuali klaim sepihak, yang pada gilirannya akan&lt;br /&gt;mendatangkan dilemma. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan anggapan itulah para pengkritik mengatakan: “Kitab Taurat&lt;br /&gt;dan Injil yang ada (sampai sekarang) bukanlah Taurat dan Injil yang asli”, suatu&lt;br /&gt;tuduhan yang bahkan tidak dikatakan oleh Quran sendiri. Maka tuduhan mereka&lt;br /&gt;menjadi tidak terbela karena hingga sekarangpun, setelah lebih dari 12 abad,&lt;br /&gt;tetap tidak ada bukti dan saksi yang bisa ditampilkan pengkritik untuk&lt;br /&gt;pembenarannya (lihat pembahasan tentang pemalsu “someone-sometimesomewhere-&lt;br /&gt;somehow” yang tidak berhasil ditemukan wujudnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah berputar-putar, melainkan secara sederhana saja dapat&lt;br /&gt;diperlihatkan bahwa sejarah dan sains tidak memberikan satupun Kitab dari&lt;br /&gt;Taurat atau Zabur atau Injil atau naskah-naskah purba manapun yang dapat&lt;br /&gt;dicocokkan kepada Quran. Bahkan tidak juga Injil Barnabas yang dijago-jagokan&lt;br /&gt;pengkritik! Sehingga tuduhan mereka tidak menyelesaikan persoalan yang&lt;br /&gt;mereka ciptakan sendiri, kecuali kalau rela mengakui dengan sejujurnya bahwa&lt;br /&gt;Alkitab itu memang berbeda dengan Quran secara asali !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALKITAB BERBEDA SECARA ASALI DENGAN KITAB LAIN MANAPUN&lt;br /&gt;Ketika saya masih di bangku mahasiswa, dan ketika saya sudah bekerja di&lt;br /&gt;masyarakat, saya bertemu dengan beberapa teman muslim yang mengutarakan&lt;br /&gt;kepercayaan mereka bahwa orang-orang Yahudi pasti telah menghapus dan&lt;br /&gt;menukarkan ayat-ayat tertentu dari Alkitab agar Mesias yang sejati jangan&lt;br /&gt;sampai ternubuat jatuh ke bangsa Arab yang bukan Yahudi, karena sejak&lt;br /&gt;semula kaum Yahudi memang membenci keturunan Ismail (sambil lalu hal ini&lt;br /&gt;mirip dengan tuduhan Prof. Bakry (IQMB hal 166) : “Umat Yahudi adalah&lt;br /&gt;tersesat atau sengaja menyesatkan diri karena sentimen kebangsaan ketika&lt;br /&gt;merekamerubah isi ayat-ayat Taurat dan menafsirkannya secara lain untuk&lt;br /&gt;“In the family of Abraham” Anne Cooper memberikan gambaran tentang&lt;br /&gt;dilemma yang akan dihadapi orang-orang yang mencoba “mencocokkan”&lt;br /&gt;apa yang tidak cocok itu secara naïf: “Alasan utama para pengkritik Muslim&lt;br /&gt;mencap bahwa Alkitab telah dikorupsikan teks-nya adalah karena mereka&lt;br /&gt;betul-betul tidak mempunyai pilihan lain lagi. Karena Quran di satu pihak&lt;br /&gt;membenarkan Alkitab, tetapi ternyata isi keduanya saling tidak cocok,&lt;br /&gt;sehingga tidaklah mungkin keduanya turun dari Tuhan yang sama. Dan&lt;br /&gt;karena Quran dianggap wahyu akhir dari Tuhan, maka cara yang paling&lt;br /&gt;gampang untuk menghindari kesulitan-kesulitan ini adalah meletakkan&lt;br /&gt;tuduhan bahwa isi Alkitab telah dikorupsikan oleh si pemalsu. (Anne Cooper,&lt;br /&gt;“ISMAEL, My Brother” Marc Tunbridge Wells, hal. 94).&lt;br /&gt;menolak kenabian Muhammad”) Teman muslim kita tentu boleh percaya apa&lt;br /&gt;saja. Tetapi salahlah itu jikalau mereka mendalilkan perbedaan isi Alkitab dan&lt;br /&gt;Quran itu pada soal sentimen suku atau bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, Quran bukan hanya berbeda dengan Alkitab dalam hal-hal yang ada&lt;br /&gt;sangkutan dengan ras, namun kedua Kitab ini telah berbeda dan berabtagonis&lt;br /&gt;dalam semua isu-isu kepercayaan yang penting, yang doktrinal. Bahkan sampai&lt;br /&gt;kepada hal-hal yang “remeh-remeh” tidak pokok dan tidak ada sangkutan sama&lt;br /&gt;sekali dengan iman keselamatan atau sentimen ras, toh kedua Kitab tersebut&lt;br /&gt;telah berbeda secara menyolok, sehingga kita tidak bisa mengingkari bahwa&lt;br /&gt;Alkitab dan Quran sejujurnya memang telah berbeda secara ASALI, bukan hasil&lt;br /&gt;KORUPSI. Perbedaan mana tampak dimulai dari awal, 3 ayat pertama Alkitab&lt;br /&gt;yang menyiratkan Tuhan yang Tritunggal, hingga kepada 10 ayat terakhir&lt;br /&gt;Alkitab dimana Yesus dinyatakan sebagai pemberi wahyu (bukan penerima&lt;br /&gt;wahyu). Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Dan Ia akan&lt;br /&gt;segera datang kembali dan mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang&lt;br /&gt;menyasarkan, menambah atau mengurangi wahyuNya.&lt;br /&gt;Kita perlu menyimak dengan kritis beberapa (10 saja) contoh pertentangan&lt;br /&gt;di bawah ini yang sesungguhnya tidak logis dan tidak seharusnya&lt;br /&gt;dipertentangkan oleh siapapun, kecuali bahwa masing-masing Kitab membawa&lt;br /&gt;kebenarannya sendiri-sendiri. Kita mulai dari ADAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dosa Adam&lt;br /&gt;Perbedaan asali yang pertama-tama adalah tentang dosa yang diperbuat&lt;br /&gt;oleh Adam. Apakah dosa itu menyebabkan atau tidak menyebabkan manusia&lt;br /&gt;sekarang hidup di bumi yang menderita? Orang Kristen dan Muslim&lt;br /&gt;sependapat bahwa tanpa adanya dosa, tentu kita semua hidup di surga.&lt;br /&gt;Tetapi kedua pihak berbeda pandangan tentang sebab-sebab yang&lt;br /&gt;mendasari kenapa manusia tidak tinggal di Firdaus atau di surga, dan&lt;br /&gt;kenapa kita tidak terbebas dari penderitaan dan kematian.&lt;br /&gt;Alkitab menunjuk kepada penyebab tunggal, yaitu bahwa Adam dan&lt;br /&gt;Hawa telah berdosa. Dan karena keduanya tidak meminta pengampunan&lt;br /&gt;Tuhan (walau sudah “digiring” untuk hal itu), malahan sebaliknya&lt;br /&gt;menyalahkan ular setan yang telah membujuknya untuk berbuat dosa, maka&lt;br /&gt;Tuhan mengusir mereka keluar dari Firdaus. Relasi Tuhan dengan manusia&lt;br /&gt;kini sekaligus menjadi berubah! Manusia oleh ulahnya sendiri kini harus&lt;br /&gt;menderita susah payah berketerusan hingga kembali lagi menjadi tanah&lt;br /&gt;(mati badan) yang tadinya tidak akan dialaminya. Baca Kitab Kejadian pasal&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Quran dalam Surat Al A’raaf 23 menyatakan bahwa Adam dan&lt;br /&gt;Hawa telah minta ampun kepada Tuhan dan mereka mendapatinya.&lt;br /&gt;“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan sekiranya&lt;br /&gt;Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,&lt;br /&gt;tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi:.&lt;br /&gt;Menurut sejumlah komentator muslim, keluarnya Adam dan Hawa dari&lt;br /&gt;Firdaus bukanlah akibat dari pengusiran Tuhan yang mengutuk dosa&lt;br /&gt;manusia (karena toh keduanya telah mendapatkan pengampunan Tuhan),&lt;br /&gt;melainkan memang sudah dipersiapkan dan disuruh Tuhan untuk turun ke&lt;br /&gt;bumi untuk menjadi khalifah di sana, bukan di surga:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi “&lt;br /&gt;( QS. Al Baqarah 2:30)&lt;br /&gt;Karena Adam tidak dikutuk malahan sengaja diutus Tuhan menjadi&lt;br /&gt;khalifah di bumi, maka tentu saja orang akan bertanya-tanya: “Darimanakah&lt;br /&gt;segala susah payah dan penderitaan dunia ini berasal?” Surat Al Balad 4&lt;br /&gt;menjawabnya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah&lt;br /&gt;payah”&lt;br /&gt;Jadi menurut Quran, Allah-lah yang menciptakan keburukan dan&lt;br /&gt;penderitaan dunia, hal mana bertolak belakang dengan Tuhan Alkitab yang&lt;br /&gt;menegaskan sampai 6 kali ulang bahwa bumi dan segala isi ciptaanNya&lt;br /&gt;semuanya baik, bahkan sungguh amat baik (Kej. 1:31)&lt;br /&gt;Kini mari kita berkritis, siapakah orangnya yang mengubah ayat-ayat&lt;br /&gt;Alkitab yang paling awal ini? Dan sekali ayat-ayat yang sedemikian&lt;br /&gt;konsepsionalnya diubah, bukankah sang pemalsu tersebut harus bekerja&lt;br /&gt;super berat untuk mengubah praktis keseluruhan ayat-ayat Alkitab yang&lt;br /&gt;berhubungan dengan keselamatan dan penyelamatan kembali hubungan&lt;br /&gt;yang sempat rusak antara Tuhan-Manusia? Dan ayat-ayat dengan kaitan&lt;br /&gt;demikian memang luar biasa banyaknya, sehingga pada akhirnya si pemalsu&lt;br /&gt;tersebut praktis harus mengkorup keseluruhan isi Alkitab, sehingga ia pasti&lt;br /&gt;akan terjebak dalam kekusutan dan kekacauan penyajian yang memecah&lt;br /&gt;belah kesatuan isi dan tema dari Alkitab itu sendiri? Atau sengaja dan&lt;br /&gt;terpaksa harus mendangkalkan isinya demi “mengontrol” kelogisan cerita&lt;br /&gt;dan ajarannya.&lt;br /&gt;Tetapi kenyataan justru menunjukkan keunikan Alkitab yang tiada tara&lt;br /&gt;dalam segi keselarasan dan kesatuan isi. Dan tidak ada simplikasi atau&lt;br /&gt;kedangkalan yang sengaja dibuat-buat untuk konsumsi orang-orang yang&lt;br /&gt;menuntut logika yang naïf tetapi keliru.&lt;br /&gt;Biarpun memang ada manusia yang mau mengubah-ubah dan&lt;br /&gt;mengkorupsikan ayat-ayat Alkitab, tentulah ia cenderung memilih ayat-ayat&lt;br /&gt;yang menguntungkan dirinya atau kelompoknya untuk diubah bukan? Tetapi&lt;br /&gt;segera terlihat bahwa Adam yang tidak minta ampun dan Adam yang terusir&lt;br /&gt;oleh Tuhan itu adalah ayat-ayat yang tidak seharusnya dipertahankan oleh si&lt;br /&gt;pemalsu Alkitab, karena ayat ini sungguh telah merendahkan Moyang&lt;br /&gt;Agungnya (dan Moyang kita semua), dan ini tidak menguntungkan pemalsu&lt;br /&gt;manapun dan kapanpun!&lt;br /&gt;Akhirnya kita juga harus berkritis tentang jalur kisah-kisah yang&lt;br /&gt;diturunkan dari Adam turun temurun secara tradisi mulut ke mulut hingga&lt;br /&gt;dikitabkan oleh Musa. Apakah kisah yang disampaikan oleh Adam sendiri&lt;br /&gt;kepada keturunannya dimana kisah ini selalu dianggap otentik (walau tidak&lt;br /&gt;mengagungkan Adam yang terusir itu) dan tidak pernah ada sebelumnya&lt;br /&gt;kisah tandingan yang berbeda terhadapnya – kini tiba-tiba harus dinyatakan&lt;br /&gt;sebagai palsu hanya karena dianggap bertentangan dengan ayat Quran yang&lt;br /&gt;muncul beribu-ribu tahun sesudahnya? Apakah bisa dipercaya bahwa&lt;br /&gt;Kalimat Tuhan dapat dikosongkan dan digantikan orang secara diam-diam&lt;br /&gt;hingga ribuan tahun tanpa diapa-apakan oleh Tuhan sendiri? Ini tentu&lt;br /&gt;BERTENTANGAN HEBAT dengan QS Al Anam 34 dan Yunus 64.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Putra Nuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alkitab, tegas-tegas didetailkan ada tiga pasang anak laki-laki&lt;br /&gt;Nabi Nuh dan mantu-mantunya semua terselamatkan dari AIR BAH. Total&lt;br /&gt;ada 4 pasang suami istri, yaitu Nuh dengan istrinya, dan Sem, Ham, Yafet,&lt;br /&gt;masing-masing dengan istrinya. (Kej. 7:1,7,13) namun dalam Quran&lt;br /&gt;dikatakan satu putranya menolak masuk ke bahtera (lalu bagaimana dengan&lt;br /&gt;istrinya tidak dikisahkan) dan ia binasa tenggelam dalam bah (Surat Hud&lt;br /&gt;11:43). Anehnya Surat Al-Ambiyaa 21:76,77 mengisyaratkan lain lagi, yaitu&lt;br /&gt;Nuh beserta keluarganya terselamatkan, sementara kaum lainnya&lt;br /&gt;ditenggelamkan semuanya. Nah, perselisihan ini apakah benar hasil&lt;br /&gt;permainan pesalin-pesalin Alkitab? Akankah salah Kitab Kejadian yang&lt;br /&gt;dicatat oleh Musa belasan abad SM dan dipercaya oleh para nabi dan orangorang&lt;br /&gt;beriman turun temurun tanpa protes siapapun? Dan kini dipertegas&lt;br /&gt;lagi oleh Rasul Petrus sendiri, (orang yang beriman menurut Quran) bahwa&lt;br /&gt;seluruh keluarga Nuh yang 8 orang itu terselamatkan semuanya (2 Petrus&lt;br /&gt;2:5). Akankah Petrus juga salah dan kepercayaan dari seluruh orang-orang&lt;br /&gt;beriman menjadi salah kaprah selama kurun 3000 tahunan (!) sebelum&lt;br /&gt;“dibenarkan” oleh satu ayat di luar Alkitab? Bagaimanapun sengitnya orang&lt;br /&gt;mau berbantah-bantahan sesamanya, namun otak dan logika yang tidak&lt;br /&gt;sentimen dan berprasangkah memberi hanya 3 kemungkinan sederhana&lt;br /&gt;namun keras: kekeliruan di Alkitab, di Quran atau memanglah kedua-duanya&lt;br /&gt;berbeda secara asali !&lt;br /&gt;Indikasi Keaslian&lt;br /&gt;Jadi ketika ayat-ayat tersebut tetap “berani” dan “perlu-perlunya”&lt;br /&gt;disajikan dengan melecehi moyangnya, kita justru lebih condong percaya&lt;br /&gt;akan keasliannya ketimbang ayat-ayat yang mengagung-agungkan&lt;br /&gt;moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Keluarga Abraham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang sulit untuk dimengerti terjadi tatkala Quran mengatakan&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim dan sebagian dari keturunannya tinggal di lembah Mekah dan&lt;br /&gt;tidak menyembah berhala melainkan membangun Ka’bah untuk salat. Dan&lt;br /&gt;para pengikutnya adalah termasuk golongannya (lihat QS Ibrahim 14:35-37&lt;br /&gt;dan Al Baqarah 2:125-128). Padahal Alkitab justru mengatakan Abraham (&lt;br /&gt;Quran menyebutnya dengan nama Ibrahim?) tinggal di Mesopotamia, di&lt;br /&gt;negeri orang Kasdim (Ur-Kasdim), lalu keluar dari sana atas perintah Tuhan&lt;br /&gt;dan menetap seterusnya di Haran. Setelah ayahnya meninggal di Haran,&lt;br /&gt;Abraham diperintahkan Tuhan untuk berangkat ke tanah Kanaan, lalu&lt;br /&gt;sampai ke Sikhem. Dekat kawasan inilah, yaitu di More (bukan di Mekah),&lt;br /&gt;Abraham mendirikan sebuah mesbah bagi Tuhan yang telah menampakkan&lt;br /&gt;diri kepadanya. Dari situ ia pindah ke pegunungan timur Betel. Kemudian&lt;br /&gt;berangkat makin jauh ke Tanah Negeb.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah kelaparan yang melanda, Abraham dan istrinya&lt;br /&gt;memang sempat ke Mesir dan tinggal sementara sebagai orang asing di&lt;br /&gt;sana. Akhirnya Abraham pergi lagi ke Tanah Negeb dan selanjutnya menetap&lt;br /&gt;di Tanah Kanaan. Ia mendirikan lagi mesbah di Mamre dekat Hebron (tidak&lt;br /&gt;di Mekah). Sempat tinggal di Bersyeba, dan di sekitar wilayah itulah ia&lt;br /&gt;akhirnya dimakamkan, yaitu di gua Makhpela di sebelah timur Mamre di&lt;br /&gt;tanah Kanaan (Kej. 25:9) Itu sebabnya makam Abraham dan Sara, dan&lt;br /&gt;kelak anak-cucunya Ishak dan Yakub ada terdapat di sana (namun tidak&lt;br /&gt;bersama Hagar dan Ismail), yang sampai sekarang dijadikan tempat ziarah&lt;br /&gt;bagi agama-agama yang menjunjung Abraham.&lt;br /&gt;Jadi, dimanapun, tidak ada bukti sejarah yang membatalkan makam&lt;br /&gt;Abraham dan keluarganya (tanpa Hagar dan Ismail) di Hebron, dan tidak&lt;br /&gt;pernah ada alur atau kaitan sejarah dengan Mekah, Baitullah atau Ka’bah *).&lt;br /&gt;Bukankah Mekah tatkala itu (hamper 2000 tahun SM) belum merupakan&lt;br /&gt;kantong daerah dimana orang-orang menetap, melainkan lebih merupakan&lt;br /&gt;tempat perhentian kafilah-kafilah yang lewat?&lt;br /&gt;Seandainya Ibrahim dan sebagian keturunannya “mempionir” menetap di&lt;br /&gt;Mekah, maka tentulah pengaruh “keislaman” Ibrahim dan keturunannya dan&lt;br /&gt;golongannya di Mekah justru akan ikut terpancar dalam sejarah pra-&lt;br /&gt;Muhammad. Namun dalam perkembangan historis, orang-orang Mekah&lt;br /&gt;purba yang ada ternyata hanyalah orang-orang yang tetap hanyut dalam&lt;br /&gt;paganisma dan tidak menyembah maupun “bersalat” bagi Tuhan dalam azas&lt;br /&gt;agama tauhid. **)&lt;br /&gt;*) Sebab Tuhan telah menegaskan pilihan Yerusalem sebagai tempat&lt;br /&gt;kekal bagi namaNya: “Di Yerusalem namaKu akan tinggal untuk&lt;br /&gt;selama-lamanya”. 2 Taw 33:4&lt;br /&gt;**)Lihat: MH. Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Litera Antar Nusa,&lt;br /&gt;1995, Bab 1 s/d 4, dari Arab Pra-Islam hingga Masa Kerasulan&lt;br /&gt;Muhammad.&lt;br /&gt;Ini tentu menjadi pertanyaan yang terbuka bagi siapa saja. Bukankah&lt;br /&gt;Mekah dengan Ka’bahnya telah secara khusus dipilih Allah ( Allah adalah&lt;br /&gt;nama pribadi Tuhannya orang Islam) sebagai pusat beribadah paling suci&lt;br /&gt;yang pertama dan terakhir untuk umat Islam? Suatu pilihan AKBAR dibawah&lt;br /&gt;pendiri seorang nabi besar, dan menjadi tempat beribadat yang diberkahi&lt;br /&gt;dari sejak awalnya? (lihat QS 3:96, 14:35-40). Tidak seharusnya eksistensi&lt;br /&gt;dan peran dari Ka’bah (untuk salat) dan ajaran agama Ibrahim segera&lt;br /&gt;menjadi hilang tak terlacak tanpa ada sebab-sebab fundamental Allah yang&lt;br /&gt;terkait. Apalagi lalu sempat menjadi tempat yang tidak diberkahi karena&lt;br /&gt;berubah menjadi tempat berhala dan pusat penyembahannya selama&lt;br /&gt;berabad-abad sebelum akhirnya “dihidupkan” kembali oleh Muhammad?&lt;br /&gt;4. Ibu Angkat Musa&lt;br /&gt;Alkitab mengatakan putri Firaun (anak, bukan istri Firaun) yang&lt;br /&gt;mengambil dan mengangkat bayi Musa sebagai anak pungut (Keluaran&lt;br /&gt;2:5,9,10). Tetapi Quran memberi gambaran bahwa istri Firaun dan&lt;br /&gt;(bersama-sama dengan Firaun) yang mengangkat sang bayi sebagai anak&lt;br /&gt;pungut (Surat Al Qashash 28:8,9). Pertanyaan yang tak bisa dielakkan&lt;br /&gt;adalah siapa yang salah mencatat di sini, Musa atau Muhammad? Sebab&lt;br /&gt;orang lain tentu tidak berkepentingan untuk mempertentangkan soal&lt;br /&gt;beginian bukan? Apalagi orang-orang Yahudi, yang menganggap Musa&lt;br /&gt;sebagai nabi mereka yang terbesar, serta kepatuhan mereka yang luar biasa&lt;br /&gt;Vakum 2500 tahun&lt;br /&gt;Ini menjadi tantangan yang belum terpecahkan oleh para ahli. Sebab&lt;br /&gt;referensi Tuhan (Allah) hilang disini. Terdapat vakum ajaran Allah di kota&lt;br /&gt;suci Mekah, di tempat yang paling diberkahi yang justru dipilih Allah&lt;br /&gt;sendiri! Kalimat Tauhid yang pernah ada, yang dijadikan kalimat yang&lt;br /&gt;kekal pada keturunan Ibrahim, bolehkah lenyap selama berpuluh abad&lt;br /&gt;tanpa pembelaan, ditukarkan habis oleh berhala-berhala? Padahal Allah&lt;br /&gt;mendengar doa Ibrahim untuk menjadikan ia dan anak cucunya tetap&lt;br /&gt;sebagai orang-orang yang mendirikan salat di Baitullah, sekaligus&lt;br /&gt;menjauhkannya beserta keturunannya dari penyembahan berhala ( Lihat&lt;br /&gt;QS 43:28, 14:35,36,37 dan 40)&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, vakum ajaran Allah juga disertai dengan keterputusan&lt;br /&gt;(ketiadaan) garis kenabian dari keturunan Ismail. Selama berabad-abad&lt;br /&gt;sebelum Muhammad, tidak terlacak keturunan Ismail tampil sebagai nabi,&lt;br /&gt;kecuali dari keturunan Ishak sajalah. Kenapa? Alkitab menjelaskan bahwa&lt;br /&gt;keturunan Ishak sajalah yang disebut sebagai keturunan Abraham, Anakanak&lt;br /&gt;perjanjian (Kejadian 17:19, 21:12). Bandingkan penjelasan Quran&lt;br /&gt;atas pengelompokan Ishak dengan Ibrahim, baik dalam berkat Allah (QS&lt;br /&gt;37:111) maupun dalam garis keturunan kenabian dan Kitab bagi Ishak,&lt;br /&gt;Yakub dst. (bukan Ismail dan keturunannya, lihat QS 29:27)&lt;br /&gt;akan Kitab-kitab Musa, tidaklah memberi peluang apapun kepada umat ini&lt;br /&gt;untuk memalsukan ayat yang satu ini. Dan ayat ini sungguh dibenarkan&lt;br /&gt;semua orang Yahudi hingga pasca Yesus, terbukti dari pembelaan Stefanus&lt;br /&gt;ketika dihadapkan kepada Mahkamah Agama dengan disaksikan oleh begitu&lt;br /&gt;banyak orang-orang pada waktu ini ketika ia berkata:&lt;br /&gt;“… putri Firaun memungutnya (Musa) dan menyuruh mengasuhnya&lt;br /&gt;seperti anaknya sendiri” . (Kis. 7:21)&lt;br /&gt;Kisah Musa sendiri, yang ditulisnya sendiri, yang lebih tahu dari siapapun&lt;br /&gt;lainnya, sesuai dengan perintah tuhan sendiri, dan diteruskan oleh nabi-nabi&lt;br /&gt;Tuhan dalam tradisi leluhur yang tidak pernah kabur turun-temurun, kini&lt;br /&gt;akankah mendadk menjadi salah gara-gara “catatan” sumber lain yang&lt;br /&gt;berbeda?&lt;br /&gt;5. Satu Hari Tuhan&lt;br /&gt;Alkitab mengatakan bahwa satu “Hari Tuhan” adalah ibarat 1000 tahun&lt;br /&gt;dalam ukuran manusia (Mzm 90:4 dan 2 Pet 3:8) dan ini sama dengan&lt;br /&gt;Quran Surat As Sajdah 32:5. Tetapi dalam Al Ma’Aarij 70:4 dikatakan bahwa&lt;br /&gt;1 hari tersebut kadarnya 50.000 tahun. Disini orang agak kebingungan&lt;br /&gt;untuk menyerasikan satu angka Alkitab dengan dua angka majemuk dari&lt;br /&gt;Quran. “Hari Tuhan” manakh yang dikoreksikan?&lt;br /&gt;6. Mujizat Yesus Yang Pertama&lt;br /&gt;Yang termasuk tidak mudah dimengerti adalah perbedaan tatkala Quran&lt;br /&gt;menceritakan bahwa Isa telah mulai melakukan mujizatNya yang pertama&lt;br /&gt;yaitu ketika Ia yang masih bayi dalam ayunan ibuNya, tiba-tiba berkata-kata&lt;br /&gt;untuk membela kesucian ibuNya yang dituduh berbuat serong:&lt;br /&gt;“… Mereka berkata, “Bagaimana kami berbicara dengan bayi yang masih&lt;br /&gt;dalam buaian?” (Bayi) berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.&lt;br /&gt;Allah memberiku kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi” (QS.&lt;br /&gt;19:29,30)&lt;br /&gt;Padahal Alkitab mengatakan mujizat pertama yang dilakukan Yesus&lt;br /&gt;adalah menjadikan anggur dari air pada perjamuan kawin di Kana, ketika Ia&lt;br /&gt;sudah dewasa berumur sekitar 30 (Yoh 2:11). Tidakkah aneh pertentangan&lt;br /&gt;kedua Kitab tentang mujizat pertama dari Yesus ini? Manakah yang benar?&lt;br /&gt;Masalah intinya adalah, bilamana ayat-ayat Alkitab benar telah dikorup&lt;br /&gt;oleh orang-orang yang ingin menjadikan Dia Tuhan (seperti yang&lt;br /&gt;dituduhkan oleh para pengkritik), maka seharusnya mujizat dari Yesus&lt;br /&gt;cenderung untuk ditambah-tambah dan pasti tidak akan dikurang-kurangi&lt;br /&gt;atau dihilangkan.&lt;br /&gt;Khusunya mujizat Yesus sang bayi ini tidak mungkin akan dihapus oleh&lt;br /&gt;si koruptor. Kenapa? Karena koruptor yang mentuhankan Yesus tentu&lt;br /&gt;merasa bahwa Yesus akan lebih berbobot lagi untuk dianggap sebagai Tuhan&lt;br /&gt;kalau mujizatNya makin banyak dan makin aneh-aneh. Lagi pula&lt;br /&gt;kebudayaan purba di Asia Kecil menunjukkan kelaziman bahwa kisahkisah/&lt;br /&gt;catatan-catatan tradisi yang sederhana mudah ditambah-tambah&lt;br /&gt;menjadi legenda-legenda yang menarik, dan bukannya dikurangi-kurangi.&lt;br /&gt;Ini mengartikan bahwa “si penulis misterius” tadi semestinya menambah&lt;br /&gt;kisah mujizat-mujizat yang serba ajaib ibarat dongeng dan justru tidak&lt;br /&gt;menguranginya dengan mujizat pertama (yang pada umumnya mudah&lt;br /&gt;diingat orang sehingga tidak berani dihapuskan oleh si koruptor begitu saja).&lt;br /&gt;Dr. Anis Shorrosh dalam bukunya ISLAM REVEALED, mengungkapkan:&lt;br /&gt;“Ternyata sumber dari kisah tentang mujizat Yesus dalam ayunan itu&lt;br /&gt;terdapat dalam buku apokrip/dongeng Mesir abad kedua, yaitu dalam&lt;br /&gt;First Gospel of the Infancy of Jesus Christ. … Yesus berbicara ketika&lt;br /&gt;Dia masih bayi di dalam ayunan dan berkata kepada ibuNya: “Maria,&lt;br /&gt;saya Yesus, Anak Allah, Firman (kalimat) yang engkau lahirkan menurut&lt;br /&gt;pernyataan malaikat itu…”&lt;br /&gt;Dari pelbagai kisah tentang Isa yang disampaikan secara berbeda antara&lt;br /&gt;Injil dan Quran, maka Encyclopedia Britannica memberi tanggapan bahwa&lt;br /&gt;pengertian Muhammad tentang Alkitab banyak terbaur dengan kisah dan&lt;br /&gt;cerita0cerita ajaib yang terdapat pada Kitab-kitab Apokrip yang memang&lt;br /&gt;berbeda dari Alkitab. (Encyclopedia Britannica, Volume 15 hlm. 648). Sebab&lt;br /&gt;mujizat-mujizat Yesus yang berpola peragaan, sekedar menunjukkan&lt;br /&gt;kuasaNya yang merupakan tontonan enak, tidaklah dikenal dalam Alkitab.&lt;br /&gt;Bahkan Yesus tidak akan membuat roti dari batu, semata-mata untuk&lt;br /&gt;membuktikan bahwa Dia benar dan dapat melakukannya (Mat. 4:3,4),&lt;br /&gt;namun Dia tergerak hati untuk menggandakan roti ketika perut-perut lapar&lt;br /&gt;sungguh membutuhkannya (Mat. 14:13-21, bandingkan dengan mujizat Isa&lt;br /&gt;dalam QS 5:112-114 dengan motivasi yang berlainan).&lt;br /&gt;Quran justru memaparkan “mujizat peragaan” ini dengan cukup panjang&lt;br /&gt;lebar (misalnya Isa membentuk tanah liat untuk ditiupkan, lalu menjadi&lt;br /&gt;burung sungguhan), seraya sangat menyingkatkan dan tidak diulas tentang&lt;br /&gt;mujizat Yesus yang lebih tematis bernilai kemanusiaan, ketika&lt;br /&gt;menyembuhkan orang-orang yang menderita, sakit atau orang mati yang&lt;br /&gt;dibangkitkan kembali. Ini tentu menimbulkan pertanyaan kenapa segi-segi&lt;br /&gt;kemanusiaan dan mujizat Isa Almasih kurang ditonjolkan dalam Quran&lt;br /&gt;ketimbang segi-segi peragaannya.&lt;br /&gt;R.W. Thomas memberikan pandangannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Kitab Perjanjian Lama dalam versi Arab mulai dikenal tahun ± 900 M.&lt;br /&gt;Namun tulisan-tulisan theodorus 4 abad sebelumnya telah menceritakan&lt;br /&gt;bahwa Taurat telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa-bahasa utama&lt;br /&gt;pada waktu itu, yang diyakini termasuk pula bahasa Arab. Namun orangorang&lt;br /&gt;Yahudi di Arabia lebih menyenangi kisah-kisah dan dongengdongeng&lt;br /&gt;Talmud yang secara popular telah merangsang khayalankhayalan.&lt;br /&gt;Ini tentu saja menarik didengar siapa saja termasuk&lt;br /&gt;Muhammad, yag mungkin kurang menyadari distorsi historis dalam&lt;br /&gt;kisah-kisah tersebut sehingga terbaur ke dalam ajarannya. Dan karena&lt;br /&gt;Quran disajikan dalam bentuk puitis yang tidak terikat dengan kronologi&lt;br /&gt;kesejarahan, maka petikan kisah-kisah lepas ini mampu memberikan&lt;br /&gt;kesan seolah-olah orisinil berasal dari Muhammad” (R.W. Thomas,&lt;br /&gt;Islam, Aspects and Prospects, Villach, Austria, Light of Life, hal. 12-&lt;br /&gt;13)&lt;br /&gt;Bagi kita, sekalipun sinyalemen Dr. Shorrosh, Thomas, dan Encyclopedia&lt;br /&gt;Britannica di atas mau diperdebatkan, namun suka atau tidak suka kita tetap&lt;br /&gt;dihadapkan pada suatu kepastian bahwa kedua Kitab Suci itu memang telah&lt;br /&gt;berbeda sejak “kelahiran” aslinya!&lt;br /&gt;7. Bisunya Zakharia&lt;br /&gt;Alkitab di dalam Lukas 1, menceritakan imam Zakharia, yang tidak&lt;br /&gt;mempercayai ucapan malaikat Gabriel bahwa ia sekalipun sudah tua, namun&lt;br /&gt;lewat istrinya akan melahirkan seorang anak laki-laki. Karena menolak untuk&lt;br /&gt;percaya, maka ia lalu dihukum menjadi bisu sampai kepada penggenapan&lt;br /&gt;kelahiran Yohanes Pembaptis, anaknya. Gabriel berkata kepada Zakharia:&lt;br /&gt;“Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk&lt;br /&gt;berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini&lt;br /&gt;kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat&lt;br /&gt;berkata-kata sampai kepada hari, dimana semuanya ini terjadi, karena&lt;br /&gt;engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya&lt;br /&gt;pada waktunya”…&lt;br /&gt;Tetapi dalam QS Ali ‘Imraan 3:41 tertulis sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Zakharia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda (istriku telah&lt;br /&gt;hamil)”. Allah berfirman, “Tandanya bahwa engkau tidak dapat berbicara&lt;br /&gt;selama 3 hari kecuali dengan isyarat”…&lt;br /&gt;Kini, orang-orang saleh manakah yang berani mengkorup ucapan&lt;br /&gt;malaikat Gabriel ini, yaitu menggantikan masa bisunya Zakharia selama 3&lt;br /&gt;hari (menurut Quran) menjadi 9 bulanan (masa mengandung) seperti yang&lt;br /&gt;tercatat di Alkitab? Jangankan keluarga orang saleh; orang biasa-biasa saja&lt;br /&gt;seperti anda dan saya tidak akan berani melakukannya ketika kita sempat&lt;br /&gt;turut menyaksikan kehamilan dan kebisuan ajaib yang mengikuti ucapan&lt;br /&gt;seorang malaikat Tuhan!&lt;br /&gt;Demikianlah tidak aka nada satu dari keluarga dan family Zakharia yang&lt;br /&gt;berani mengkorup kata-kata langsung dari malaikat Gabriel. Dan tidak ada&lt;br /&gt;keperluan yang masuk akal bagi mereka untuk menggantikan 3 hari menjadi&lt;br /&gt;9 bulanan untuk masa bisu itu. Toh “tanda bisu” itu telah disaksikan oleh&lt;br /&gt;seluruh keluarga dan kerabatnya Zakharia, berlangsung berapa lama, dan&lt;br /&gt;bagaimana berakhirnya.&lt;br /&gt;Sementara Quran tidak merinci bagaimana proses berakhirnya hukuman&lt;br /&gt;bisu ini pada Zakharia, Alkitab justru sangat mendetailkan proses tersebut&lt;br /&gt;untuk mempersilahkan pengkritik mana saja yang dapat menunjukkan&lt;br /&gt;adanya penggelapan-penggelapan ayat demi ayat yang telah dirinci sejelasjelasnya.&lt;br /&gt;Ia bukan sekedar suatu cetusan pernyataan umum “sekian hari”,&lt;br /&gt;tetapi silahkan memperhatikan periwayatannya:&lt;br /&gt;“Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet (istri Zakharia) untuk&lt;br /&gt;bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetanggatetangganya&lt;br /&gt;serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah&lt;br /&gt;menunjukkan rahmatNya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah&lt;br /&gt;mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari&lt;br /&gt;yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak&lt;br /&gt;menamai dia “Zakharia” menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata:&lt;br /&gt;“Jangan, ia harus dinamai Yohanes”. Kata mereka kepadanya: “Tidak&lt;br /&gt;ada diantara sanak saudaramu yang bernama demikian”. Lalu mereka&lt;br /&gt;memberi isyarat kepada bapaknya (yang masih bisu itu) untuk bertanya&lt;br /&gt;nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta&lt;br /&gt;batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes”.&lt;br /&gt;Dan merekapun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah&lt;br /&gt;mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji&lt;br /&gt;Tuhan”. (Luk. 1:57-64)&lt;br /&gt;Jadi kembali keobjektifitas, kalau Alkitab sampai merinci dengan terbuka&lt;br /&gt;“bisu 9 bulanan” dan disertai saksi-saksi kuat oleh tetangga dan sanak&lt;br /&gt;saudara Zakharia, maka siapakah dari keluarga Zakharia (yang semuanya&lt;br /&gt;terkenal sebagai orang saleh-saleh itu) mau dan berani menggelapkan berita&lt;br /&gt;Gabriel yang justru sudah terbukti menghukum seorang Zakharia yang&lt;br /&gt;kurang beriman? Beda angka-angka ini pastilah bukan penjahilan orangorang&lt;br /&gt;saleh dan beriman dari keluarga suci ini. Dan sejak itu, fakta ini&lt;br /&gt;menjadi buah mulut yang tidak mungkin diselewengkan oleh orang Yahudi&lt;br /&gt;manapun dan tidak mungkin teerhapus dalam catatan Injil.&lt;br /&gt;Jangan lupa, bahwa saksi yang paling jelas adalah justru Maria, wanita&lt;br /&gt;yang sedang pula mengandung Yesus tatkala Maria mengunjungi Elisabet di&lt;br /&gt;Yehuda, ketika Elisabet sudah mengandung Yohanes sekitar 6 bulan.&lt;br /&gt;Zakharia bisu memang tidak tercatat mengatakan apa-apa ataupun&lt;br /&gt;menubuatkan sesuatu tentang Mesias yang sedang dikandung Maria.&lt;br /&gt;Bilamana betul Zakharia hanya bisu selama 3 hari saja, maka pasti 3 hal&lt;br /&gt;berikut akan terjadi:&lt;br /&gt;a. Zakharia sebagai kepala keluarga akan turut bicara pula dengan&lt;br /&gt;Maria, bukan saja Elisabet yang berbicara dengan Maria.&lt;br /&gt;b. Zakharia dan keluarganya yang saleh pasti akan memprotes keras&lt;br /&gt;“ayat-ayat palsu” yang disebabkan oleh murid-murid Yesus, apabila&lt;br /&gt;dirinya disebut gagu sepanjang 9 bulan kehamilan Elisabet. Dan&lt;br /&gt;karena Maria mempunyai jalur hubungan yang dekat sekali dengan&lt;br /&gt;murid-murid Yesus, maka protesnya akan sangat bergaung luas.&lt;br /&gt;c. Kalau hanya dihukum bisu 3 hari, maka Zakharia dan atau&lt;br /&gt;keluarganya pasti masih akan meragu, bahwa “3 hari tak bisa bicara”&lt;br /&gt;belumlah merupakan tanda yang betul-betul tuntas untuk&lt;br /&gt;menghukum dirinya yang kurang beriman terhadap pemberitaan&lt;br /&gt;Gabriel. Bisa saja kebisuan tersebut adalah hasil kagetan ketemu&lt;br /&gt;dengan Gabriel yang membawa berita yang memang mengagetkan,&lt;br /&gt;sehingga terjadi suatu transisi mental shock, atau serak berat&lt;br /&gt;suaranya yang terkomplikasi dengan kejiwaannya, atau mogok bicara&lt;br /&gt;sesaat karena mati rasa kesengsem, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Dengan perkataan lain 3 hari bisu adalah TANDA yang lemah, kalau itu&lt;br /&gt;dimaksudkan untuk pembuktian tentang kehamilan seorang perempuan,&lt;br /&gt;sebab belum akan terbukti oleh kasat mata orang-orang bahwa Elisabet&lt;br /&gt;sudah pasti mengandung menjelang hari yang ketiga. Namun tanda&lt;br /&gt;kebisuan yang berjalan hingga 9 bulanan hingga sang anak terlahir&lt;br /&gt;sungguhlah menjadi saksi langsung atas kehamilan yang dijanjikan! Itu&lt;br /&gt;adalah tanda yang sejati, tidak bisa diselewengkan ataupun di klaim sepihak&lt;br /&gt;dari Zakharia sendiri!&lt;br /&gt;8. Kehidupan Di Surga&lt;br /&gt;Perbedaan Alkitab dengan Quran tidak hanya pada masalah-masalah&lt;br /&gt;yang terjadi di dunia, namun juga meliputi kehidupan setelah kematian.&lt;br /&gt;Quran misalnya menjanjikan kehidupan perkelaminan di surga bagi orangorang&lt;br /&gt;yang bertaqwa (pria) dengan kenikmatan bersama pasangan&lt;br /&gt;perawan-perawan yang sebaya, dengan bidadari yang cantik bermata jeli&lt;br /&gt;(lihat Surat Ath Thuur 52:20, dan An Naba 78:33). Tidak disebutkan tentang&lt;br /&gt;anak-anak.&lt;br /&gt;Bukti yang tidak bisa dicatut dan digugat lagi&lt;br /&gt;Bagaimanapun fakta tentang kebisuan 9 bulan ini tidak bisa dicatut lagi&lt;br /&gt;karena beritanya sudah tersebar kemana-mana. “Maka ketakutanlah&lt;br /&gt;semua orang yang tinggal di sekitarnya (tetangga-tetangga Zakharia),&lt;br /&gt;dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan&lt;br /&gt;Yudea. Dan semua orang yang mendengarnya, merenungkannya…”&lt;br /&gt;(Luk. 1:65,66)&lt;br /&gt;Jadi ada kenikmatan surga yang menyangkut unsur kelamin, unsur&lt;br /&gt;umur, bahkan unsur keperawanan dan kebendaan seperti kenikmatan&lt;br /&gt;mendapatkan perhiasan dan pakaian dan buah-buahan (lihat Surat Al Haji&lt;br /&gt;23, Yasin 57), hal mana bertolak belakang dengan iman Kristen dimana&lt;br /&gt;Yesus justru memberi koreksi kepada orang-orang Saduki bahwa kehidupan&lt;br /&gt;di surga bukanlah kehidupan dimana orang-orang saling kawin mengawin&lt;br /&gt;melainkan semuanya dalam persekutuan persaudaraan seperti halnya&lt;br /&gt;malaikat. Bukan pula soal makanan dan minuman, melainkan soal&lt;br /&gt;kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Mat. 22:30, Rm&lt;br /&gt;14:17).&lt;br /&gt;Ada komentator yang menafsirkan secara apologetic bahwa kenikmatankenikmatan&lt;br /&gt;surgawi seperti yang digambarkan oleh Quran tersebut hanyalah&lt;br /&gt;ilustratif demi memudahkan pengertian manusia. Namun ahli-ahli lain tidak&lt;br /&gt;sependapat sama sekali, baik ditinjau dari Quran, apalagi dari Hadis-hadis.&lt;br /&gt;Lihat jawaban Muhammad pribadi terhadap seseorang yang bertanya&lt;br /&gt;kepadanya:&lt;br /&gt;“Apakah penghuni surga melakukan persetubuhan?”&lt;br /&gt;Beliau menjawab, “Ya” dengan penyemburan yang keras, dengan&lt;br /&gt;kemaluan yang tidak lemas dan dengan syahwat yang tidak terputus,&lt;br /&gt;tetapi tidak keluar air mani sedikitpun, baik dari lelaki atau perempuan.&lt;br /&gt;Apabila selesai, perempuan kembali bersih dan kembali perawan (Shahih&lt;br /&gt;Ibnu Hibban). (Lihat M. Mutawalli Sya’rawi, “Anda bertanya, Islam&lt;br /&gt;menjawab”, hal. 23)&lt;br /&gt;Menjadi pertanyaan, setelah selesai bersanggama, adakah terjadi&lt;br /&gt;pengendoran kenikmatan surgawi? Dengan perkataan lain, akankah ada&lt;br /&gt;fluktuasi intensitas kenikmatan di surga menurut waktu atau urutan? Suatu&lt;br /&gt;pertanyaan yang pantas untuk direnungi….&lt;br /&gt;Sesungguhnyalah telah terjadi perbedaan riil yang amat besar yang&lt;br /&gt;pantas kita kaji, apakah kebahagiaan surgawi berunsur dari pemenuhan&lt;br /&gt;kebutuhan masing-masing orang perorang yang bersifat lahiriah, (di luar&lt;br /&gt;persekutuan dengan Tuhan), ataukah mengalir dari spirit Roh Kudus yang&lt;br /&gt;mampu memberi sukacita yang transcendental bagi semua orang dalam&lt;br /&gt;persekutuannya dengan Tuhan?&lt;br /&gt;Tetapi di tengah-tengah kita di dunia, ada satu orang saksi mata yang&lt;br /&gt;bisa membuktikan semuanya ini, ialah Dia satu-satunya yang telah tinggal di&lt;br /&gt;surga dan kini mengisahkan untuk kita bagaimana kehidupan itu di surga.&lt;br /&gt;Siapakah Dia? Baca Yohanes 3:13; “Tidak ada seorangpun yang telah naik&lt;br /&gt;ke surga selain daripada Dia yang telah turun dari surga, yaitu AnakManusia&lt;br /&gt;(Yesus)”. Dialah satu-satunya yang berani menyatakan kehisupan di surga&lt;br /&gt;sekaligus mengoreksi para imam Saduki seperti yang dikutib di atas.&lt;br /&gt;Jikalau keberadaan sosok dan otoritas Yesus begitu dekat dan paham&lt;br /&gt;dengan alam surga/akhirat, maka atas alas an-alasan apakah kita dapat&lt;br /&gt;menolak penggambaran Yesus atas kehidupan di surga itu?&lt;br /&gt;9. Roh Kudus VS Jibril&lt;br /&gt;Belum cukup dengan perbedaan kehidupan manusia di akhirat, Quran&lt;br /&gt;juga mencatat oknum Rohulqudus yang berlainan sama sekali dengan apa&lt;br /&gt;yang dinyatakan dalam Alkitab. Quran sendiri mensugestikan bahwa tidak&lt;br /&gt;seorangpun yang diberi penjelasan berarti tentang siapa atau bagaimana itu&lt;br /&gt;Rohulqudus. (QS. 17:85). Namun para penafsirlah yang mengatakan Roh&lt;br /&gt;Kudus itu sebagai malaikat Jibril. Padahal Alkitab, membedakan keduanya&lt;br /&gt;dengan cara yang amat meyakinkan, karena Gabriel itu sendiri yang&lt;br /&gt;membedakan jati dirinya dengan jati diri Roh Kudus!&lt;br /&gt;Ketika itu Maria sedang menanyakan kepada Gabriel bagaimana ia&lt;br /&gt;mungkin mengandung dan melahirkan seorang anak, lalu jawab Gabriel&lt;br /&gt;kepadanya:&lt;br /&gt;“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan&lt;br /&gt;menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan&lt;br /&gt;disebut kudus, Anak Tuhan”.&lt;br /&gt;Jadi jikalau Gabriel adalah Roh Kudus, tentulah ia akan berkata: “Aku,&lt;br /&gt;roh Kudus, akan turun atasmu…”&lt;br /&gt;Seorang malaikat, walau mampu berada dimanapun dalam sekejab,&lt;br /&gt;namun ia bukan Maha Ada. Ia tidak mampu hadir serentak di semua ruang.&lt;br /&gt;Malaikat justru diciptakan berjuta-juta untuk menangani orang perorang&lt;br /&gt;(Mzm 91:11, Mat. 18:10, juga QS. 13:11), namun Roh Kudus hanya ada&lt;br /&gt;satu dan Ia-lah Roh Tuhan Yang Kudus yang mampu sekaligus memenuhi&lt;br /&gt;setiap dan semua manusia, walau terpisah-pisah (lihat Kis. 2:4). Lihat&lt;br /&gt;bahwa Yesus dikandung dari dan penuh dengan Roh Kudus (Luk. 4:1, Mat.&lt;br /&gt;1:20), Yohanes sejak dari rahim penuh dengan Roh Kudus, Elisabet (ibu&lt;br /&gt;Yohanes) dan Zakharia (bapa Yohanes) semuanya penuh dengan Roh Kudus&lt;br /&gt;(Luk. 1:15, 4,67) yang bukan Jibril. Malahan Yesus menghembuskan Roh&lt;br /&gt;Kudus (Yoh. 20:22).&lt;br /&gt;Dan siapa bilang dengan yakin bahwa Quran menyamakan Rohulqudus&lt;br /&gt;dengan Jibril? Diamanakah Jibril pernah menamakan juga dirinya rohulqudus&lt;br /&gt;atau sebaliknya? *) kapankah Jibril mendapatkan “nama kedua” ini bagi&lt;br /&gt;Bahkan Quran mengakui bahwa Isa (dan hanya Dialah) yang sangat dekat&lt;br /&gt;dengan alam roh, gaib, dan akhirat. Lihatlah betapa: 1) Isa berotoritas&lt;br /&gt;terhadap alam akhirat (QS. 3:45). 2) Isa berpengetahuan tentang hari&lt;br /&gt;kiamat, menjadi tanda dan saksi (QS. 4:159,43,61). 3) Isa sebagai&lt;br /&gt;penjelmaan KalimatNya dan Roh daripadaNya (QS. 4:171). 4) Isa&lt;br /&gt;diperkuat oleh Rohulqudus (QS.2:87). 5) Isa mengetahui hal-hal gaib (QS.&lt;br /&gt;3:49). 6) Isa diangkat Allah langsung kepadaNya di surga (QS. 3:55)&lt;br /&gt;dirinya? Dalam Tauratkah? Injil? Wahyu Quran? Atau dalam kisah berantai&lt;br /&gt;dan penafsiran manusia?&lt;br /&gt;Jikalau kita membaca QS. 4:171 bahwa Isa dikandung oleh Maryam dari&lt;br /&gt;kalimat dan Roh Allah; dan QS. 5;110 bahwa Isa diperkuat oleh Rohulqudus,&lt;br /&gt;tetapi Jibril ternyata bukan berbicara dari dalam diri Maryam, melainkan&lt;br /&gt;berseru (dari suatu tempat yang rendah) kepada diri Maryam yang sedang&lt;br /&gt;mengandung itu, (QS. 19:24) maka tidakkah kenyataan-kenyataan ini&lt;br /&gt;mendukung apa yang kita paparkan di atas yaitu, bahwa Jibril dengan&lt;br /&gt;Rohulqudus adalah jauh dari identik?&lt;br /&gt;10. Hukum Yang Terutama&lt;br /&gt;Sebagai contoh terakhir (walau masih terlalu banyak lagi yang lain), kita&lt;br /&gt;tampilkan satu perbedaan asali yang paling fundamental antara Alkitab dan&lt;br /&gt;Quran. Di sini para pengkritik tidak usah lagi bersusah payah untuk mencaricari&lt;br /&gt;beribu ayat, kata, huruf, ejaan, urutan, dan arti mana yang bisa&lt;br /&gt;dianggap “korup”.&lt;br /&gt;Ada satu tips yang paling sederhana untuk mereka yaitu mencari&lt;br /&gt;pembuktian tunggal apakah ayat-ayat yang menjadi tiang ajaran Kristen itu&lt;br /&gt;bisa dipatahkan atau tidak.&lt;br /&gt;Lihat Injil Matius 22:37-40. Inilah ayat inti ajaran Kristiani dan bila ayatayat&lt;br /&gt;ini terbukti korup atau palsu maka dengan sendirinya seluruh Alkitab&lt;br /&gt;akan otomatis palsu tidak tertolong lagi. Ayat tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;“Kasihilah Yahweh, Tuhanmu, dengan segenap hatimu dan dengan&lt;br /&gt;segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang&lt;br /&gt;terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama&lt;br /&gt;dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.&lt;br /&gt;Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab&lt;br /&gt;para nabi”&lt;br /&gt;(Lukas 10:25-37, NB. “sesamamu manusia” disini termasuk orang&lt;br /&gt;“kafir”, “orang yang dibenci dari Samaria”).&lt;br /&gt;*)Seperti halnya nama/sebutan yang sering muncul secara bergantian&lt;br /&gt;bagi Allah &amp;amp; Tuhan (Rabb) atau Yahweh &amp;amp; Elohim, atau Yesus &amp;amp;&lt;br /&gt;Kristus, atau Isa &amp;amp; Al masih, dan lain-lain. Untuk Zat yang begitu&lt;br /&gt;abstrak, tentu penafsirannya harus berdasarkan wahyu. Dan Quran,&lt;br /&gt;walau memberitakan bahwa Jibril berfungsi menurunkan wahyu (QS.&lt;br /&gt;2:97), begitu pula dengan Rohulqudus (QS. 16:102), namun itu&lt;br /&gt;tidaklah otomatis berarti bahwa kedua oknum tersebut identik. Sebab&lt;br /&gt;sedari dulu Taurat-Perjanjian Lama memperlihatkan ada 3 “pihak”&lt;br /&gt;yang berwahyu kepada nabi; tuhan (malahan bicara bermuka-muka&lt;br /&gt;dengan Musa), Tuhan via malaikat, dan Roh Tuhan (Roh Kudus). Lihat&lt;br /&gt;Mzm 51:13, Zak 4:6, 2 Sam 23:2, yeh 11:5, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Nah, bukankah hukum yang begitu utama, yang dianggap tiang pokok&lt;br /&gt;agama dan moral etika segala manusia dan para nabi, ternyata tidak muncul&lt;br /&gt;secara khusus dalam 5 tiang rukun Islam? Apalagi hukum ini memasukkan&lt;br /&gt;istilah ‘sesama manusia” yang artinya mencakup orang-orang kafir yang&lt;br /&gt;dibenci? Padahal kalau Quran membenarkan Taurat dan Injil (seperti yang&lt;br /&gt;dikatakannya berkali-kali), maka logisnya kepada tiang yang paling utama&lt;br /&gt;ini harus ditekankan pembenarannya dalam Quran, bahkan ada perlunya&lt;br /&gt;untuk mengulang-ulang secara khusus hukum yang paling utama ini.&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa hukum ini telah dinyatakan berulang-ulang dalam&lt;br /&gt;taurat. Juga berulang-ulang dinyatakan dalam Injil lewat rangkuman Yesus&lt;br /&gt;sendiri. Jadi jikalau ayat tersebut kini tidak terdapat secara eksplisit di dalam&lt;br /&gt;Quran, maka manakah yang lebih logis dianggap “terkorup”: di Alkitab atau&lt;br /&gt;Quran?&lt;br /&gt;Dan siapakah orangnya yang percaya dengan bukti-bukti bahwa ayat ini&lt;br /&gt;bukan aslinya Alkitab. Siapakah orangnya yang akan berkeberatan terhadap&lt;br /&gt;kehadiran ayat luhur ini dalam keasliannya? Nabi dan malaikat dari zaman&lt;br /&gt;manakah yang tidak menyetujui akan ayat emas ini? Tampaknya tidak&lt;br /&gt;mungkin ada pihak-pihak yang tidak setuju. Dan Surat Galatia 5:23 turut&lt;br /&gt;mengatakan:&lt;br /&gt;“Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (tentang kasih).&lt;br /&gt;Artinya tidak ada orang baik-baik yang akan menentang hukum kasih.&lt;br /&gt;Ayat-ayat tersebut telah dinyatakan berkali-kali dalam Taurat Musa dan Injil,&lt;br /&gt;tercatat sejak ribuan tahunan sebelum Quran muncul. Dibacakan terus&lt;br /&gt;dalam sinagoga dari bahas asli Ibrani yang diambil dari kutiban Kitab&lt;br /&gt;Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Ini adalah ayat yang sangat agung, mulia&lt;br /&gt;dan luhur. Menyentuh kerinduan dasar manusia yang paling hakiki. Ia adalah&lt;br /&gt;pilar dan induk hukum dimana semua kode moral, etika dan hukum lainnya&lt;br /&gt;bergantung. Itu sebabnya Yesus meletakkan kesemua Taurat dan kitab nabi&lt;br /&gt;yang berasal dari Tuhan ke bawah naungan 2 tiang KASIH ini.&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini sangat akrab bagi telinga orang-orang yahudi yang&lt;br /&gt;membawa Taurat Musa. Termasuk khasanah ayat-ayat emas yang kekal&lt;br /&gt;(lihat Lukas 10:25-28). Maka kalau ada satu orang yang tiba-tiba&lt;br /&gt;mengkorupkan atau merubahnya sedikit saja, tentulah semua penyaksipenyaksi&lt;br /&gt;akan segera tahu dan akan menghukum si jahil pengkorup&lt;br /&gt;tersebut.&lt;br /&gt;Jadi sungguh tak ada kasus dan peluang yang logis bagi penjahil manapun&lt;br /&gt;yang bisa menyodorkan suatu hukum orisinil yang begitu luhur dan paling&lt;br /&gt;utama ini kecuali datangnya hanya dari Alkitab sendiri, dank arena hukum&lt;br /&gt;itu dinyatakan sebagai yang paling utama dari seluruh hukum nabi-nabi&lt;br /&gt;yang ada, maka sepantasnya ia menjadi bagian dari rukun Islam yang&lt;br /&gt;terpenting pula, bilamana betul Quran, Injil dan Taurat tidak berbeda dari&lt;br /&gt;sumber asali.&lt;br /&gt;Dan kalau hal ini belum bisa diserasikan, kita harus kembali ke persoalan&lt;br /&gt;klise: bahwa benar ayat-ayat Alkitab tersebut purna-mandiri dan purnaotentik,&lt;br /&gt;tidak dikorupsikan dan tidak mengada-ada menciptakan perselisihan&lt;br /&gt;dengan Kitab-kitab lain; tetapi tatkala ada yang belum klop itu, sematamata&lt;br /&gt;hanyalah persoalan intern dari pengkritik-pengkritik yang tetap ingin&lt;br /&gt;memaksakan predikat “korupsi” untuk dikenakan pada ayat-ayat Alkitab.*)&lt;br /&gt;Dengan rela mengakui bahwa kedua Kitab tersebut adalah Firman-firman&lt;br /&gt;yang memang berbeda secara asali, bukan korupsi, maka pencarian kebenaran&lt;br /&gt;masing-masing agama tidaklah berakhir pada distorsi satu “celestial domain”&lt;br /&gt;yang sama. Sebab disini tidak ada lagi konfrontasi ayat Kitab yang satu lawan&lt;br /&gt;ayat Kitab yang lain secara komparatif dalam satu “doamai”, melainkan Alkitab&lt;br /&gt;harus dilihat sebagai domain yang berlainan dengan pewahyuan Kitab-kitab&lt;br /&gt;lainnya, yang mana setiap Kitab secara asali berdiri atas kebenaran hakekat dari&lt;br /&gt;pesan-pesan yang dibawakannya sendiri-sendiri. Dan inilah yang seharusnya&lt;br /&gt;*)Istilah “korupsi ayat” adalah semata-mata istilah pengkritik untuk&lt;br /&gt;mendiskreditkan Alkitab, namun justru berbalik memperlihatkan muatan&lt;br /&gt;“korupsi tafsiran” di pihak pengkritik! Quran sendiri tidak menuduh&lt;br /&gt;dengan pengertian tersebut kecuali menggambarkan ada usaha-usaha&lt;br /&gt;penyembunyian dan penyelewengan ayat secara verbal dan bukan&lt;br /&gt;penggantian dan pelenyapan ayat secara tekstual .&lt;br /&gt;Himbauan yang sportif&lt;br /&gt;Dalam kaitan fakta-fakta keras seperti di atas itulah maka Niftrik dan Boland&lt;br /&gt;mengajukan usul sebagai berikut: “…bukankah barangkali sudah waktunya,&lt;br /&gt;bahwa baik orang-orang beragama Islam maupun orang-orang Kristen dengan&lt;br /&gt;terus terang saling mengakui bahwa “Nabi Isa” dan “Tuhan Yesus” pada&lt;br /&gt;hakekatnya berbeda sekali satu sama lain? … kalau begitu, bukankah harus&lt;br /&gt;kita akui, bahwa menurut pokok-pokoknya yang hakiki, ada terdapat&lt;br /&gt;perbedaan mutlak antara agama itu secara lahir yang sepintas lalu&lt;br /&gt;nampaknya berdekatan? *)&lt;br /&gt;*)Dogmatika Masa Kini, Van Niftrik dan Boland, hal. 264. Bagaimanapun Allah&lt;br /&gt;Swt berbeda dengan Yahweh Elohim, surga dalam Quran juga berbeda&lt;br /&gt;dengan surga Alkitab, Nabi-nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ishak, Musa, dst&lt;br /&gt;hingga Yahya dan Isa serta ajaran keselamatannya semuanya berbeda&lt;br /&gt;dengan nabi-nabi yang diceritakan dalam Alkitab, walau namanya dan&lt;br /&gt;setting peristiwanya seolah mirip-mirip. “Kemiripan” ini hanyalah klaim dari&lt;br /&gt;Quran, bukan hal yang diakui oleh Alkitab yang tidak mereferensikan kitabkitab&lt;br /&gt;manapun di luar dirinya.&lt;br /&gt;menjadi titik tolak dari kerukunan umat beragama yang sejati, ketika ajaran&lt;br /&gt;masing-masing berdiri saling bersisian (flanking), dan bukan berhadapan (head&lt;br /&gt;on) dalam cakupan dimensi yang sama!&lt;br /&gt;Namun sementara Alkitab masih dihadapkan sebagai Alkitab palsu oleh&lt;br /&gt;para pengkritik, maka kita merasa perlu untuk berdefensi untuk memperlihatkan&lt;br /&gt;kepada mereka bahwa Alkitab yang tidak merujuk atau menuduh Kitab manapun&lt;br /&gt;itu, toh tidak bisa (dan tidak pantas) dipakai untuk membenar-benarkan Kitab&lt;br /&gt;lainnya, bilamana ia disalah-salahkan pula pada waktu yang sama!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3438727533309684215-6995327834915311372?l=diskusiismail-ishak1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/feeds/6995327834915311372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-terbukti-isinya.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/6995327834915311372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/6995327834915311372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-terbukti-isinya.html' title='ALKITAB INFERIOR KARENA TERBUKTI ISINYA BANYAK DIKORUPSI'/><author><name>WHY WE LEFT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12390510661703461441</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3438727533309684215.post-67763330895646390</id><published>2011-03-24T00:26:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T00:26:00.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ALKITAB'/><title type='text'>ALKITAB INFERIOR KARENA INJIL HANYALAH HADIS YANG LEMAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;ALKITAB INFERIOR KARENA INJIL HANYALAH HADIS YANG LEMAH&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kritik tajam terhadap Alkitab yang telah dilontarkan dengan panjang lebar, namun inti sarinya adalah seperti di bawah ini: “Berlainan dengan Quran, maka Injil-injil dan Perjanjian Baru hanyalah merupakan hadis-hadis yang lemah (seperti hadis Munqathi, Mu’dhal, Dhaif dan Maudhu’ ) sehingga sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya”. (disarikan dari IQMB hal. 30-&lt;br /&gt;31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan begini hanya terjadi dalam pemahaman yang naïf. Ketika kita berbicara tentang Kitab Pewahyuan Tuhan, yang multi dimensi itu, maka kita segera harus bersikap hati-hati bahwa kelemahan-kelemahan yang tampak tidaklah otomatis merupakan kesalahan-kesalahan. Dan kesulitan-kesulitan pemahaman bukanlah otomatis tidak benar. Sebab keterbatasan dimensi kita, yang kini diperhadapkan dengan multi dimensinya Tuhan, maka apa yang kita lihat sebagai “lemah dan sulitnya” aspek Tuhan sangatlah mungkin (dan selalu akan begitu) merupakan “lemah dan sulitnya” kita sendiri dalam pemahamannya! Dengan kearifan demikian kita tidak cepat terjebak dalam “kebenaran” yang dangkal, alias tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara naïf saja mengilustrasikannya, Yesus dan sejumlah nabi-nabi&lt;br /&gt;pendahuluNya bukankah juga dianggap lemah karena mereka telah “berhasil”&lt;br /&gt;disiksa dan dibunuh oleh manusia-manusia jahat? Namun ternyata kelemahan&lt;br /&gt;ini bukanlah kelemahan atau kekalahan, melainkan justru merupakan kekuatan&lt;br /&gt;Tuhan dalam penggenapan janji dan rencanaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ADA SALAH PAHAM PENTING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka salah! Alkitab bukanlah Quran dan bukanlah suatu tulisan&lt;br /&gt;ayat per ayat yang setiap kata-katanya didiktekan atau diimlakan secara&lt;br /&gt;langsung dan mutlak dari Tuhan sendiri, yang dipercaya diterima oleh&lt;br /&gt;Muhammad secara final, dalam bahasa Arab yang terang tanpa kesalahan dan&lt;br /&gt;Orang-orang non Kristen, khususnya muslim sering salah paham tentang apa&lt;br /&gt;itu Alkitab. Mereka beranggapan bahwa Alkitab seharusnya sama dengan&lt;br /&gt;Quran berisi kata-kata wahyu langsung dari tuhan 100% tanpa campur tangan&lt;br /&gt;manusia, tanpa cacat, keraguan, kekurangan, dan kelemahan bahasa,&lt;br /&gt;melainkan mutlak sempurna, dalam segala cakupan isi, makna dan&lt;br /&gt;redaksionilnya.&lt;br /&gt;cacat, tanpa keraguan, tidak bengkok, dan tiada pertentangan di dalamnya. *)&lt;br /&gt;Tetapi Alkitab tidak pernah menyatakan dirinya demikian sekalipun ia selalu&lt;br /&gt;merupakan Kitab Yang Benar menunjukkan jalan kebenaran menuju&lt;br /&gt;keselamatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak setiap kalimat dalam Alkitab harus berisi Firman Tuhan yang&lt;br /&gt;bersabda langsung, melainkan juga berisi materi periwayatan yang memakai&lt;br /&gt;tangan-tangan manusia untuk merangkumkan apa yang diilhamkan oleh Tuhan&lt;br /&gt;kepada penulisnya. Walau Tuhan dapat menyampaikan firmanNya kepada&lt;br /&gt;manusia secara langsung dan ajaib, seperti Musa mendapatkan tulisan tangan&lt;br /&gt;dari Tuhan sendiri di atas olh batu, namun Ia lebih suka memilih menggunakan&lt;br /&gt;manusia dan latar belakangnya sebagai alatNya. Itu sebabnya loh batu asli&lt;br /&gt;tulisan Tuhan pribadi toh tidak diamankanNya sendiri dari kehilangan atau&lt;br /&gt;pemusnahan. Dan kita hanya mendapat salinannya dari manusia pula.&lt;br /&gt;Sebab kalau hendak dinyatakan secara mutlak, Tuhan bisa saja dengan&lt;br /&gt;gampang (dan seyogyanya demikian!) menurunkan Kitab-kitab langsung melalui&lt;br /&gt;bala tentara malaikat dari langit, disertai pembacaan akbar dari suara Tuhan&lt;br /&gt;sendiri yang menggelegarkan ke seluruh bumi, tidak perlu repot-repot lewat&lt;br /&gt;para nabi yang justru banyak dihina dan dibunuh manusia!&lt;br /&gt;Dan kenapa Jibril dan bala lascar malaikat tidak memberi maklumat Tuhan&lt;br /&gt;langsung saja sekaligus kepada penduduk Mekah secara terbuka, atau bahkan&lt;br /&gt;sekaligus ke seluruh dunia pada waktu yang sama? Kenapa Jibril cuma&lt;br /&gt;menyampaikannya secara tertutup kepada Muhammad seorang saja, dan ini&lt;br /&gt;diteruskan lagi dengan susah payah kepada orang-orang lainnya melewati&lt;br /&gt;*)Sekalipun dipercaya demikian, namun banyak ahli tidak mampu menerangkan&lt;br /&gt;bagaimana hubungan Quran yang dikatakan berisi ayat-ayat bahasa Arab yang&lt;br /&gt;terang itu (QS. 16:103), namun pada waktu yang sama berisi pula ayat-ayat&lt;br /&gt;mutasyaabihaat yang tidak terang(QS.3:7). Bahkan tidak ada orang muslim&lt;br /&gt;yang tahu bahasa Arab apakah yang terdapat dalam huruf-huruf abjad yang&lt;br /&gt;memulai sebagian daripada Surat-surat Al Quran seperti Alif laam miim raa&lt;br /&gt;(Surat 13) atau Kaaf Haa Yaa ’Ain Shaad (Surat 19), dan lain-lain. Tidak&lt;br /&gt;terang dan tidak ada yang tahu apa artinya. Dan tidak terang dan tidak ada&lt;br /&gt;yang tahu kenapa Surat-surat tertentu saja yang dimulai dengan huruf-huruf&lt;br /&gt;tersebut, sementara tidak demikian untuk Surat-surat lainnya.&lt;br /&gt;Ini memberi arti penting kepada kita bahwa Tuhan tidak ingin memilih cara&lt;br /&gt;pendiktean mekanis yang langsung dari Tuhan, yang menyatakan firmanNya&lt;br /&gt;secara mutlak di dunia yang tidak mutlak ini.&lt;br /&gt;begitu banyak perjuangan, hambatan, perang, korban pembunuhan dan kontrapercaya&lt;br /&gt;dari manusia? Bahkan kenapa Jibril, dan bukan Tuhan sendiri yang&lt;br /&gt;langsung menurunkan Quran, padahal Taurat dan Injil kedua-duanya&lt;br /&gt;“diturunkan” Tuhan secara langsung (kepada Musa dan Yesus tanpa perantaraan&lt;br /&gt;malaikat). Kenapa ada beda perlakuan demikian?&lt;br /&gt;Tentu saja Tuhan mempunyai alasan khusus dalam hal ini. Ketika semua&lt;br /&gt;wahyu dimutlakkan Tuhan ke mata dan telinga dan panca indera manusia,&lt;br /&gt;bukankah ini sama halnya seperti memaksa mereka untuk percaya? Tetapi sejak&lt;br /&gt;semula Tuhan tidak merancang manusia dengan memaksakan kehendakNya&lt;br /&gt;sendiri tanpa memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih. Ingat bahwa&lt;br /&gt;Adam dan Hawa adalah manusia yang diberi kebebasan untuk menolak atau&lt;br /&gt;memilih buah pengetahuan di taman Firdaus.&lt;br /&gt;Jadi berbeda dengan Quran yang dianggap merupakan wahyu Allah&lt;br /&gt;langsung dan mutlak sempurna tidak ada keraguan, pertentangan, kekurangan,&lt;br /&gt;kelemahan, kebengkokan yang diimlakan 100% kepada Muhammad via Jibril&lt;br /&gt;tanpa proses manusia, (QS. 85:21-22, 10:37 dan 4:82, 18:1, 39:1-2, dan lainlain)&lt;br /&gt;maka Alkitab sudah sempurna memenuhi persyaratan perlu dan cukup&lt;br /&gt;(necessary and sufficient) dalam menyaksikan KEBENARAN penyampaian&lt;br /&gt;maksud Tuhan untuk memberi hikmat, berkat dan keselamatan bagi manusia.&lt;br /&gt;Bukan kebenaran mutlak kata-kata, ejaan, titik-koma,susunan kalimat, dan&lt;br /&gt;susunan penuturan, sepanjang BERITA KEBENARAN itu benar menurut&lt;br /&gt;ilhamTuhan untuk lingkup penyelamatan umat manusia.&lt;br /&gt;Berita kebenaran Alkitab ini ditulis oleh manusia-manusia yang tetap diberi&lt;br /&gt;peluang untuk menggunakan bakat-bakat dan tipe gaya menulisnya, memakai&lt;br /&gt;bahasa yang dikuasainya, mau tidak mau terkait dengan kultur, kepribadian&lt;br /&gt;serta pengalamannya, namun semuanya relah dituntun oleh Roh Tuhan yang&lt;br /&gt;menghasilkan suatu Firman Tuhan yang benar, perlu dan cukup dalam&lt;br /&gt;keterbatasan kata-kata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran Alkitab sebagai Firman yang menyelamatkan umat manusia ini&lt;br /&gt;dapat dianalogikan dengan bahtera nabi Nuh yang didesign dan&lt;br /&gt;dispesifikasikan oleh Tuhan (untuk menyelamatkan makhluk ciptaanNya)&lt;br /&gt;dengan benar tanpa kekurangan atau kesalahan. Namun pelaksanaan&lt;br /&gt;pembangunannya dilakukan oleh manusia Nuh yang tidak sempurna dalam&lt;br /&gt;keahlian dan pengetahuan pertukangan serta workmanshipnya, bagi&lt;br /&gt;sebuah kapal raksasa yang belum pernah dikenal dalam peradabannya.&lt;br /&gt;Apalagi dengan memakai perkakas/peralatan ultra primitive pada masanya.&lt;br /&gt;Secara sains dan teknologi modern, pastilah bahtera tersebut bisa dicari&lt;br /&gt;untuk dikritik dalam segi-segi kekurangannya, kesalahannya, ketidakefisien-&lt;br /&gt;nya, aneh-aneh sambungan dan lekukannya, bahkan segi kedap&lt;br /&gt;airnya yang mungkin tidak 100% water tight! Namun siapakah yang bisa&lt;br /&gt;menolak bahwa secara lingkup maksud Tuhan, bahtera Nuh adalah sungguh&lt;br /&gt;sempurna dan benar untuk misi penyelamatan yang diinginkan oleh Tuhan&lt;br /&gt;sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkritik mungkin kurang menyadari bahwa untuk menurunkan sebuah&lt;br /&gt;Quran, Allah bukan hanya berurusan dengan Jibril, Muhammad, dan bahasa&lt;br /&gt;Arab, tetapi juga berurusan dengan ruang dan waktu dan kebudayaan setempat.&lt;br /&gt;Dan Firman Tuhan yang diturunkan ke dunia ini tetap konsisten tidak ingin&lt;br /&gt;mengingkari pembatas-pembatas tersebut dengan “menaklukkan” ruang&lt;br /&gt;(terbatas pada Mekah dan Madinah) dan waktu (memerlukan waktu 23 tahun),&lt;br /&gt;sekalipun Firman sendiri tidak tunduk pada ruang dan waktu!&lt;br /&gt;Dan ini analog dengan keilahian Yesus yang semourna di dalam tubuhNya&lt;br /&gt;yang tidak sempurna, yang fana dan “lemah” (bisa lapar, haus, letih, terharu,&lt;br /&gt;sedih, menangis, marah dan sebagainya). Tetapi apa yang tadinya kita anggap&lt;br /&gt;sebagai “kelemahan” justru tidak mengubah kebenaran Tuhan sama sekali,&lt;br /&gt;melainkan “kelemahan” tersebut berfungsi untuk mengintimkan hubungan&lt;br /&gt;Tuhan Yesus dengan ciptaanNya di dunia yang tidak sempurna ini. Yesus sempat&lt;br /&gt;dicap oleh orang-orang Yahudi yang sinis sebagai “sahabat pemungut cukai dan&lt;br /&gt;orang berdosa” (Mat. 11:19). Namun Yesus menjawab:&lt;br /&gt;“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa,&lt;br /&gt;supaya mereka bertobat” (Luk. 5:30-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi Tuhan, Firman Tuhan yang diturunkan dalam bentuk dan suasana&lt;br /&gt;yang dianggap (oleh orang-orang congkak) sebagai “kelemahan dan&lt;br /&gt;kekurangan” justru tetap mampu menelurkan Alkitab yang benar dan yang&lt;br /&gt;menyelamatkan! Selalulah ingat bahwa segala kekurangan yang nampak,&lt;br /&gt;kelemahan yang dikira kebodohan dan dioloki, dan ketidak sempurnaan yang&lt;br /&gt;disesali oleh para ahli Kitab terhadap Yesus, sama sekali tidaklah mengurangi&lt;br /&gt;dan meniadakan kebenaran ajaran Yesus yang selalu benar!&lt;br /&gt;Alkitab bukanlah wahyu bersifat mutlak mekanis&lt;br /&gt;Tuhan bisa tetapi tidak mau berfirman “Jadilah Alkitab!”, lalu terjadilah sebuah&lt;br /&gt;Kitab Hakiki Tuhan yang mengatasi ruang dan waktu dan mutlak karya Tuhan&lt;br /&gt;sendiri. Namun Tuhan tidak merasa perlu memutlakkan perwujudan firman di&lt;br /&gt;dunia ini secara non-duniawi! Dan sekalipun Tuhan menurunkan firmanNya&lt;br /&gt;dalam ujud yang “terkondisi” dengan dan “tunduk” pada keterbatasan unsur&lt;br /&gt;manusia, bahasa, ruang dan waktu dan kebudayaan duniawi, namun Tuhan&lt;br /&gt;tetap mampu menampilkan AlkitabNya yang sama benar dan sempurnanya&lt;br /&gt;seperti kesempurnaan bahtera Nuh dalam lingkup penyelamatan umat&lt;br /&gt;manusia secara benar dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAHASA MURNI SEMPURNA DI MATA TUHAN!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shorter Encyclopedia of Islam halaman 276 mengutarakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Bagi orang-orang Muslim, kesempurnaan absolute pengutaraan bahasa di&lt;br /&gt;dalam Quran adalah dogma yang tidak bisa diganggu gugat”&lt;br /&gt;Itu sebabnya kita melihat bahwa Terjemahan Al Quran tidak pernah&lt;br /&gt;dianggap final karena tidak pernah ada Al Quran diluar bahasa Arab. Kita bahkan&lt;br /&gt;menyaksikan betapa kontroversinya pro dan kontra terhadap terjemahan Al&lt;br /&gt;Quran yang ditulis seorang sastrawan dalam corak puisi Indonesia. Persoalanpersoalan&lt;br /&gt;begini akan terus hidup dan berlanjut ketika kita ingin&lt;br /&gt;memberlakukan pemrosesan manusia terhadap sebuah Maha Karya yang&lt;br /&gt;dipercaya sebagai karya mekanis yang mutlak sempurna terusan langsung dari&lt;br /&gt;Allah tanpa melewati proses manusia. Persoalan-persoalan tidak akan berhenti&lt;br /&gt;ketika manusia ingin mencakupi suatu hakekat yang tidak terbatas dengan&lt;br /&gt;bahasa (dan tuang dan waktu) yang terbatas. Dalam keterbatasan bahasa dan&lt;br /&gt;cakupan ilmunya, manusia akan tampak seolah melakukan sejenis “korupsi”&lt;br /&gt;Surat-surat Allah ketika ia berusaha untuk mengolahnya atau&lt;br /&gt;menterjemahkannya sesuai dengan pengetahuan dan pengertiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALKITAB YANG KORUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak merumuskan bahwa wahyu yang “mutlak mekanis” harus&lt;br /&gt;menjadi prasyarat bagi kebenaran. Sebab bila itu yang diprasyaratkan, maka&lt;br /&gt;tidak ada satupun Kitab suci yang lulus kecuali yang terjadi di dunia atas satu&lt;br /&gt;firman: “JADILAH!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, setiap Kitab (fisik) yang terjadi di luar firman “JADILAH”,&lt;br /&gt;haruslah menerima kenyataan bahwa ia juga adalah “produk yang tidak asli”&lt;br /&gt;dalam skala kemutlakan dimensi Tuhan, karena dimensi Tuhan tidak mungkin&lt;br /&gt;tercakup oleh bahasa, ruang, waktu dan penyampaian manusia. Bahkan istilah&lt;br /&gt;“korup” pun sesungguhnya tidak eksis dalam absolutism Tuhan, karena&lt;br /&gt;absolutism hanya memberi 2 pilihan ekstrim tanpa ruang antara: mutlak benar&lt;br /&gt;(TRUE) atau mutlak salah/palsu (FALSE). Walau hanya 1 huruf yang terkorup,&lt;br /&gt;tetap ia FALSE keseluruhannya sebab Tuhan tidak bisa menanggung salah yang&lt;br /&gt;semikron pun!&lt;br /&gt;Ada contoh yang konyol, tetapi cukup menerangi keterbatasan bahasa kita.&lt;br /&gt;Yaitu satu pertanyaan yang absurd: “Bisakah Tuhan yang mahakuasa&lt;br /&gt;menciptakan sebuah batu besi yang begitu besar dan berat, sedemikian&lt;br /&gt;sehingga Tuhan tidak sanggup memukulnya?”&lt;br /&gt;Jelas jawaban terhadap pertanyaan ini adalah kontradiktif dalam lingkup&lt;br /&gt;ciptaan kita sendiri di dunia yang terbatas.. sebab bila Tuhan benar Mahakuasa&lt;br /&gt;maka benar Ia sanggup menghadirkan batu tersebut. Tetapi tatkala batu ajaib&lt;br /&gt;itu tercipta, maka Tuhan pun serentak menjadi Tuhan yang tidak Mahakuasa lagi&lt;br /&gt;karena Ia tidak sanggup memikulnya! Jadi manusia dalam penjabaran yang&lt;br /&gt;bodoh dan naïf akan menarik kesimpulan bahwa tidak pernah ada Tuhan yang&lt;br /&gt;benar-benar Maha Kuasa!&lt;br /&gt;Itulah keterbatasan sifat-sifat dan cakupan bahasa kita. Itu pula sebabnya&lt;br /&gt;orang-orang Kristen tidak pernah percaya bahwa di dunia ini bisa dihasilkan satu&lt;br /&gt;Kitab yang maha sempurna dalam totalitas bahasanya. Beberapa keterbatasan&lt;br /&gt;yang utama dibicarakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SATU: KONTRADIKSI INTRINSIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ahli filsafat matematik mengetahui dengan persis bahwa bahasa dunia&lt;br /&gt;adalah bahasa yang terbatas, tidak peduli itu bahasa Ibrani, Yunani, Arab, Cina,&lt;br /&gt;Inggris atau apapun. Di dalamnya terkandung keterbatasan dan kontradiksi diri.&lt;br /&gt;Salah satu contoh peragaan tentang kontradiksi intrinsic ini terkenal dengan&lt;br /&gt;sebutan “Viking, the liar”, dalam kalimat yang terkenal: “seorang Viking berkata&lt;br /&gt;bahwa “Semua orang Viking adalah pembohong”. Bagi orang-orang biasa,&lt;br /&gt;mereka akan berkomentar bahwa bego-lah si Viking yang menelanjangi dirinya&lt;br /&gt;sendiri. Tetapi bagi para ahli matematisi dan linguistik, hal ini mencerminkan&lt;br /&gt;satu kenyataan bahwa bahasa dunia seperti apa yang kita pakai berkomunikasi&lt;br /&gt;sehari-hari adalah bahasa yang tidak sempurna untuk menerangkan segala&lt;br /&gt;sesuatu. Di dalamnya ada kontradiksi intrinsic, sehingga kalimat di atas menjadi&lt;br /&gt;tidak mempunyai makna apapun karena anak kalimat dan induk kalimatnya&lt;br /&gt;saling meng-offset (meniadakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DUA: CAKUPAN BAHASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, ilmu bahasa dunia tidak mampu mencakup bahasa Tuhan.&lt;br /&gt;Malahan secara elementer dapat diperlihatkan ketidak-sempurnaan ayat-ayat&lt;br /&gt;Kitab Suci manapun bila dihadapkan pada konstruksi kalimat-kalimat tertentu.&lt;br /&gt;Ambil contoh kalimat: “Allah itu MahaKaya lagi MahaTerpuji” atau “Kasih itu&lt;br /&gt;panjang sabar”. Kita terbiasa dengan pengertian kalimat-kalimat tersebut&lt;br /&gt;sehingga keduanya dianggap benar sekali. Namun kebenaran absolute&lt;br /&gt;sebenarnya tidak ada pada kalimat-kalimat tersebut. Sebab analoginya adalah&lt;br /&gt;“Binatang itu kera” padahal binatang itu bukan hanya kera. Setiap kalimat&lt;br /&gt;bahasa dunia yang dimulai dengan “Tuhan adalah..” sesungguhnya sudah&lt;br /&gt;menyalahi kebenaran absolute yang mekanis, sebab Tuhan tidak bisa menjadi&lt;br /&gt;“subset” dari sebuah set yang finite (terbatas). Tuhan dalam keabsolutanNya&lt;br /&gt;bukanlah berkadar apapun dan siapapun yang mampu Anda sebutkan dalam&lt;br /&gt;bahasa dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya nama hakiki Tuhan yang kepunyaan Tuhan sendiri juga tidak&lt;br /&gt;diwahyukan Tuhan karena memang tidak bisa dicakupkan oleh bahasa dunia.&lt;br /&gt;Bahkan gelar Tuhan disebutkan ada 99 nama, namun pastilah tidak juga&lt;br /&gt;mencakup totalitas dari hakekat yang haknya Tuhan! Sekali Tuhan memilih&lt;br /&gt;memakai bahasa, ruang, dan waktu dunia yang terbatas dan nisbi (dan hanya&lt;br /&gt;itu saja!), maka terbatas dan nisbi pula manusia dalam menerima penyataan&lt;br /&gt;dan pengungkapan Diri dan HakekatNya yang mutlak dan tidak terbatas itu. Itu&lt;br /&gt;sebabnya baik dalam Quran maupun Alkitab sering dijumpai kisah-kisah&lt;br /&gt;perumpamaan yang dimaksudkan untuk menyempurnakan pemahaman&lt;br /&gt;pengungkapannya. (Misalnya saja ungkapan tentang hakekat surga yang toh tak&lt;br /&gt;akan sempurna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seperti yang kita ketahui, tidak ada satu perumpamaanpun yang&lt;br /&gt;100% bisa menyamakan apa yang diumpamakan dalam segala dimensinya.&lt;br /&gt;Dengan demikian terjadilah apa yang disebut “ketidak-sempurnaan membantu&lt;br /&gt;ketidak-sempurnaan, menghasilkan ketidak-sempurnaan”.&lt;br /&gt;Sebab tanpa pendampingan tersebut (artinya apabila Hadis dibuang semua&lt;br /&gt;sama sekali karena terdapat sejumlah “kelemahan-kelemahan manusia” yang&lt;br /&gt;disadari kaum muslim) maka Muhammad dan kesejarahan Islam yang begitu&lt;br /&gt;penting tidaklah bisa dimengerti dalam banyak hal, seperti halnya bagaimana&lt;br /&gt;wahyu pertama diturunkan, bagaimana biasanya Muhammad berpuasa atau&lt;br /&gt;bermeditasi di gua, atau jumlah rakaat dalam setiap shalat, atau bagaimana&lt;br /&gt;peperangan di Madina dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi alih-alih Alkitab dikecam dikecam sebagai memuat “kekurangankekurangan”&lt;br /&gt;dalam pelbagai segi-segi ilmu bahasa dan cara periwayatan yang&lt;br /&gt;“kalah sempurna”, maka justru ia memperlihatkan karya Tuhan yang konsisten&lt;br /&gt;memakai unsur-unsur duniawi yang terbatas dan nisbi, namun justru telah&lt;br /&gt;dituntun oleh Tuhan untuk memberi kemutlakan misiNya dalam pemberitaan&lt;br /&gt;yang benar bagi penyelamatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab sebagai tulisan yang diilhamkan Tuhan lewat keterbatasan media&lt;br /&gt;dan catatan manusia, telah memberitakan hasil akhirnya, yaitu kebenaranNya.&lt;br /&gt;Semuanya konsisten memakai unsur-unsur manusia yang tidak sempurna, tidak&lt;br /&gt;lengkap, dan terbatas, namun , sekali lagi NAMUN menunjukkan bahwa Alkitab&lt;br /&gt;adalah ilham Tuhan yang dinyatakan secara manusiawi, disampaikan secara&lt;br /&gt;cukup, perlu dan benar dalam perannya untuk menyelamatkan manusia yang&lt;br /&gt;percaya (agar manusia beroleh selamat/hidup). Dan ini dikonfirmasi sendiri oleh&lt;br /&gt;Alkitab:&lt;br /&gt;Yang sempurnapun harus didampingi yang tidak sempurna&lt;br /&gt;Malahan sekalipun Quran dipercaya sebagai karya dan wahyu murni&lt;br /&gt;sempurna dari ilahi, namun keberadaan dan kelengkapan Quran pun harus&lt;br /&gt;didampingi oleh Hadis yang merupakan buah tangan manusia yang tidak&lt;br /&gt;sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan muridmuridNya,&lt;br /&gt;yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang&lt;br /&gt;tercantum disini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesuslah&lt;br /&gt;(benar) Mesias, Anak Tuhan, dan supaya kamu oleh imanmu (benar)&lt;br /&gt;memperoleh hidup dalam namaNya” (Yohanes 20:30).&lt;br /&gt;Alangkah jelasnya bahwa Tuhan tidak memaksakan pernyataan keilahian-&lt;br /&gt;Nya di dunia ini secara mutlak, mekanis dan “total” menyeluruh dalam segala&lt;br /&gt;bentuk dan dimensi, melainkan mencukupkan kesaksian akan kebenaran Ilahi&lt;br /&gt;dan jalan keselamatanNya dalam relativitas keterbatasan manusia di bumi ini.&lt;br /&gt;Tuhan tidak menuntut kita mengetahui semua, tetapi menginginkan kita untuk&lt;br /&gt;percaya kepadaNya (Yohanes 13:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIGA: DE-GENERASI DAN EVOLUSI BAHASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masih ada satu argument penting, yaitu mengenai bahasa dunia yang toh&lt;br /&gt;bergeser atau berubah menurut waktu. Ini adalah hal yang tidak terhindarkan,&lt;br /&gt;yang mana telah menambah bukti tentang proses ketidaksempurnaan kitabkitab&lt;br /&gt;yang ada di dunia. Pakar linguistik modern, Prof. Ferdinand Saussure&lt;br /&gt;mengatakan:&lt;br /&gt;“Bahasa mengalami de-generasi ataupun evolusi dibawah pengaruh unsurunsur&lt;br /&gt;suara maupun arti. Evolusi ini tak terhindarkan, dan tidak ada satu&lt;br /&gt;contohpun dimana suatu bahasa tidak mengalaminya. Pada suatu akhir dari&lt;br /&gt;kurun waktu tertentu, toh dapat kita mempertontonkan perubahaperubahan&lt;br /&gt;tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa misalnya untuk bahasa Indonesia? Ada banyak. Ambil contoh istilah&lt;br /&gt;jajan. Dulu hanya diartikan sebagai belanja panganan di kedai atau yang&lt;br /&gt;Alkitab itu kesaksian tentang Tuhan yang berfirman&lt;br /&gt;Tuhan tidak memaksakan suatu wahyu mekanis proses surgawi purna ilahi&lt;br /&gt;bagi Alkitab yang menelan “sifat manusiawi”nya manusia. Bagaimanapun,&lt;br /&gt;Firman Tuhan sendiri tidak akan tercakup dalam Kitab dunia manapun*). Itu&lt;br /&gt;sebabnya, walau secara pengertian umum kita mengatakan “Alkitab adalah&lt;br /&gt;Firman Tuhan”, namun secara teologis kita cenderung menyebutkan bahwa&lt;br /&gt;“Alkitab adalah kesaksian mengenai TUHAN YANG BERFIRMAN”.&lt;br /&gt;*) Itu sebabnya Injil tidak pernah mengklaim dirinya mempunyai ayat&lt;br /&gt;pertama dan ayat terakhir. “Jikalau semuanya itu harus dicatatkan satu&lt;br /&gt;persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang&lt;br /&gt;harus ditulis itu” (Yohanes 21:25). Dan kenyataan ini berbeda dengan&lt;br /&gt;Quran yang memiliki wahyu awal dan akhir, namun toh urutan kronologis&lt;br /&gt;pewahyuan tidak dijadikan acuannya.&lt;br /&gt;dijajakan orang berkeliling. Biasanya pembelian dilaksanakan tanpa rencana&lt;br /&gt;khusus, melainkan atas desakan impulsive. Kini bergeser artinya menuju kepada&lt;br /&gt;“makanan kecil di luar makanan utama”, ataupun pembelian itu sendiri.&lt;br /&gt;Contoh lain:&lt;br /&gt;Pasar. Dulu dibahasakan orang hanya untuk tempat (fisik) jual beli barangbarang&lt;br /&gt;konsumsi tiap-tiap hari. Kini untuk barang dan jasa apa saja, tidak&lt;br /&gt;terbatas pada tempat fisik, sepanjang ada kandungan agregat dari&lt;br /&gt;kebutuhan-kebutuhan manusia.&lt;br /&gt;Sayur. Dulu untuk masakan-masakan (dishes) dan vegetables. Kini hanya untuk&lt;br /&gt;vegetables (tanaman)&lt;br /&gt;Jalan-jalan. Dulu jalan kaki untuk santai jarak dekat, makan angin. Kini untuk&lt;br /&gt;going out, plesiran keluar, pakai apa saja, bisa jarak jauh.&lt;br /&gt;“Aku cinta padamu”. Dulu diucapkan sebagai ekspresi kasih saying yang&lt;br /&gt;mendalam terhadap pasangan. Kini terkonotasi denagn&lt;br /&gt;cinta diri dan seksualitas, karena berarti “aku&lt;br /&gt;membutuhkanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;EMPAT: META-MESSAGE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bukan hanya evolusi etimologis yang terjadi, namun juga metamessage&lt;br /&gt;(pesan “tersirat”) akan memberikan perkayaan atau setidak-tidaknya&lt;br /&gt;beda kedalaman dan impact penghayatan atas makna bahasa yang kita pakai&lt;br /&gt;sehari-hari. Contoh gampangnya, sebuah Kitab Suci akan berbeda kedalaman,&lt;br /&gt;atau menyiratkan “pesan” tambahan, nuansa dan pengertiannya tatkala kita&lt;br /&gt;misalnya membacanya ulang yang kedua dibandingkan dengan pembacaan&lt;br /&gt;pertama. Ini juga turut membuktikan relatifnya tulisan-tulisan atau ayat-ayat&lt;br /&gt;yang ada di Kitab Suci bagi manusia. Sehingga kesempurnaan bahasa apapun&lt;br /&gt;tidaklah akan memberitakan makna kebenaran yang final kepada manusia&lt;br /&gt;apabila tidak dibantu dengan penerangan Roh Kudus.&lt;br /&gt;Sebab pada akhirnya penghayatan mental kita bekerja dalam abstraksi&lt;br /&gt;gambar-gambar (mental picture), bukan dalam kata-kata tekstual bahasa. Dan&lt;br /&gt;abstraksi gambar-gambar inilah yang turut mencernakan pula meta-message&lt;br /&gt;yang mendapatkan finalisasi kebenaran dari Roh Kudus (Rm 8:26) bukan&lt;br /&gt;“Ia (Tuhan Bapa) memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk&lt;br /&gt;mengenal Dia dengan benar” (Efesus 1”17)&lt;br /&gt;“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke&lt;br /&gt;dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13)&lt;br /&gt;dihasilkan manusia lewat format-format semantik, konstruksi dan fungsionalisasi&lt;br /&gt;kata-kata tanpa Roh.&lt;br /&gt;Semuanya ini cukup meyakinkan orang bahwa Alkitab yang diilhami Tuhan&lt;br /&gt;dengan Roh KudusNya, yang tidak mendasarkan dirinya pada ayat-ayat mekanis&lt;br /&gt;yang absolute “bahasa Tuhan” (yang toh meminjam bahasa dunia yang&lt;br /&gt;terbatas, lemah dan berubah) adalah Alkitab yang justru akan menyatakan&lt;br /&gt;kebenaran finalnya di atas keterbatasan bahasa dunia jikalau Roh Kudus&lt;br /&gt;menuntun kita untuk masuk dalam kebenaran. Alkitab hasil dari pengilhaman&lt;br /&gt;Tuhan itu bukanlah kumpulan ayat-ayat aksara, melainkan kata-kata hidup yang&lt;br /&gt;oleh Roh Tuhan sendiri akan dibukakan secara BENAR SEMPURNA kepada mata&lt;br /&gt;batin kita untuk berelasi dengan diriNya, bukan berelasi dengan ayat-ayat yang&lt;br /&gt;bisa dibaca, ditafsir dan dimengerti secara kurang, bahkan salah!&lt;br /&gt;Kita kemukakan dua buah contoh, yang satu dari penulis, yang lain dari&lt;br /&gt;Alkitab:&lt;br /&gt;a. Dua orang yang menyesal atas dosanya misalnya, tercatat dalam Alkitab&lt;br /&gt;sedang mengutarakan permintaan ampunnya kepada Tuhan dengan dua&lt;br /&gt;cara yang berbeda sekali dalam aksara. Yang satu berseru dalam aksara&lt;br /&gt;yang kacau: “CELAKA, TUHAN...TOLONG!”. yang lain tercatat dalam aksara&lt;br /&gt;yang rapid an “sempurna”: “Hamba ini sungguh berdosa, maka mohon&lt;br /&gt;kiranya ampunilah segala dosaku, ya Tuhanku”. Dalam hal ini hanya karya&lt;br /&gt;Roh Kudus yang mampu memfinalkan pengertian kita sebagai&lt;br /&gt;pembaca/pendengar terhadap beda intensitas dan meta-message&lt;br /&gt;keremukan hati mereka, dan bukan didasarkan pada ujud-ujud aksara&lt;br /&gt;semata.&lt;br /&gt;b. Dua bersaudara, Marta dan Maria, sama-sama mengucapkan satu kalimat&lt;br /&gt;“penyesalan” yang sama persis kepada Yesus ketia Ia “gagal” datang lebih&lt;br /&gt;awal untuk mencegah kematian Lazarus: “Tuhan sekiranya Engkau ada&lt;br /&gt;di sini, saudaraku (Lazarus) pasti tidak mati” (Yoh. 11:21 dengan 32).&lt;br /&gt;Aksara yang persis sama yang keluar dari dua hati yang berbeda pancaran&lt;br /&gt;meta-message-nya telah ditangkap kehakikiannya oleh Yesus dengan cara&lt;br /&gt;yang mengimbangi. Aksara yang satu (Marta) lebih memberitakan&lt;br /&gt;kurangnya pemahaman dan iman terhadap kuasa kebangkitan Yesus, dan&lt;br /&gt;aksara yang lain (Maria) lebih memberitakan suatu ratapan dan kehancuran&lt;br /&gt;hati. Itu sebabnya Yesus menjawab dengan menerangkan kepada Marta&lt;br /&gt;tentang azas “Kebangkitan dan Hidup” yang ada pada diriNya, dan kepada&lt;br /&gt;Maria, Yesus menjawab dengan meratapi “keremukan” perasaanNya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sampailah kita kepada masalah inti, yaitu ketika&lt;br /&gt;pengkritik mengakui bahwa Kitab Suci adalah Kalimat-kalimat wahyu yang&lt;br /&gt;“dimasukkan” oleh Tuhan ke dalam “sekumpulan aksara”, maka seharusnya pula&lt;br /&gt;mereka percaya bahwa “kumpulan aksara” ini perlu “dikeluarkan” oleh Tuhan&lt;br /&gt;(Roh Kudus) sendiri agar menjadikannya hidup, sepenuh-penuh makna dan&lt;br /&gt;membuka kebenaran batin bagi para pembacanya yang mau mencari&lt;br /&gt;kebenaranNya. Itu sebabnya Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang&lt;br /&gt;walau mengerti Abraham, namun tidak mengerti ”bahasa Abraham”:&lt;br /&gt;“Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasaKu?” (Yoh. 8:43)&lt;br /&gt;Bahkan Petrus cs, yang walau terus menerus telah mengikuti dan diajari&lt;br /&gt;Yesus, namun tetap tidak mengerti Injil sebelum Yesus sendiri membukakan&lt;br /&gt;pikiran mereka (Luk 24:44-45).&lt;br /&gt;Tepat Bishop V.S Azariah berkata, “We need divine illumination to have a&lt;br /&gt;right judgement on all things”. Ketika Roh Tuhan tidak turut bekerja, ketika&lt;br /&gt;penerangan ilahi tidak turut ambil bagian, maka sekumpulan aksara-aksara itu&lt;br /&gt;paling-paling menghasilkan suatu kitab etika belaka, bukan suatu Kitab Kudus,&lt;br /&gt;yang Hidup dan benar dengan Kuasa RToh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEUNTUNGAN BAGI ORANG KECIL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak demikian adanya, maka binasalah orang-orang kecil yang&lt;br /&gt;ekstra tolol, yang buta aksara, yang buta matanya, yang tuli, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Karena hanya bisa terbatas sekali membaca atau mendengar atau memahami&lt;br /&gt;kisah-kisah penyelamatan Yesus sepotong di sana dan sepotong di sini secara&lt;br /&gt;tidak memadai, jauh dari sempurna dan mengerti secara utuh, sehingga apa&lt;br /&gt;yang disebut penyampaian kebenaran teks Tuhan yang “asli” dan “mutlak”,&lt;br /&gt;tidaklah mungkin terjangkau oleh otaknya. Tapi syukur bahwa Tuhan juga&lt;br /&gt;menyelamatkan orang-orang demikian berdasarkan imannya, bukan karena&lt;br /&gt;pengertiannya yang utuh tentang kumpulan aksara atau pernik-pernik A, B, C&lt;br /&gt;,D-nya Tuhan.&lt;br /&gt;Alkitab memberi banyak contoh-contoh keselamatan bagi sejumlah besar&lt;br /&gt;pria dan wanita (seperti para penyandang cacat seumur hidup, penyamun,&lt;br /&gt;perempuan-perempuan pelacur, orang-orang tua renta, atau kanak-kanak kecil,&lt;br /&gt;dan lain-lain), walau mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang&lt;br /&gt;nabi-nabi, Tuhan, atau Yesus, dan ajaran-ajaranNya.&lt;br /&gt;Lihat perempuan sundal Rahab tidak turut binasa bersama-sama dengan&lt;br /&gt;orang-orang durhaka, karena ia beriman kepada Tuhan menyambut orang-orang&lt;br /&gt;pengintai dari Yosua, walau si pelacur ini hanya mengenal sedikit-sedikit tentang&lt;br /&gt;Tuhan (Yos 2:9 dan Ibr 11:31).&lt;br /&gt;Firman adalah jalan, kebenaran dan hidup&lt;br /&gt;Jadi “kekurangan” yang tampak tidaklah meniadakan kebenaran yang&lt;br /&gt;dihidupkan Tuhan. “Ketidak-sempurnaan” bukanlah kesalahan. Dan ketidakmengertian&lt;br /&gt;secara utuh, tidaklah meniadakan jalan keselamatan, karena&lt;br /&gt;dunia – tanpa penerangan Roh Tuhan – memang tidak sanggup menampung&lt;br /&gt;kebenaran ilahi. Zat san kodrat alam selalu diliputi oleh keterbatasannya&lt;br /&gt;sendiri!&lt;br /&gt;Lihat penyamun yang tersalib di samping Yesus. Dia hanya mengenal dunia&lt;br /&gt;kejahatan dan bukan ajaran Yesus. Namun Tuhan menghidupkan aksara-aksara&lt;br /&gt;Surgawi dari dalam hatinya sehingga mampu “membaca Injil”, yaitu memahami&lt;br /&gt;Yesus sebagai suatu Pribadi Juru Selamatnya. Ia berkata: “… orang ini (Yesus)&lt;br /&gt;tidak berbuat yang salah … Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang&lt;br /&gt;sebagai Raja” (Luk 23:41, 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Dibenarkan karena iman, bukan Taurat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Bahkan kendati ada moyang kita yang hidup sebelum ada aksara dan sebelum  hukum Taurat diberikan kepada Musa, namun Tuhan yang menghidupkan  FirmanNya dalam hati Nuh, Abraham, dan lain-lain. Tetaplah menghisapkan  keluarga mereka sebagai orang-orang yang beriman, dan Tuhan  memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Rm 4:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentu saja ini tidak berarti bahwa pengetahuan dan pengenalan Alkitab tidak diperlukan. Tuhan ingin domba-dombaNya (umatNya) mengenali gembala dan medengar suaraNya (Yoh 10:14, 16). Dan Tuhan memang menjanjikan berkat kepada kita-kita yang mengenal Tuhan Yesus dan firman Alkitabnya:&lt;br /&gt;“… engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaik kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:15, 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kebenaran memang bisa diintroduksikan Tuhan dengan pelbagai cara. Ada cara dengan penyampaian langsung kepada nabiNya (seperti halnya dengan 10 Hukum Tuhan kepada Musa). Atau lewat para malaikat Tuhan. Tetapi bisa pula Tuhan berbicara lewat pengilhaman atau mimpi. Dan yang paling umum ialah lewat para nabiNya berikut latar belakang, pengalaman, pendidikan, penyelidikannya untuk mencatatkan pesan dan maksud Tuhan dengan memakai bahasa yang dikuasai penulis, walau secara intrinsik adalah terbatas dan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, para pembaca sekalian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini Alkitab bukanlah terpaku pada caranya, melainkan pada hasil pengilhaman Tuhan, dimana Tuhan menuntun proses penyataannya sehingga hasil penulisannya menjadi berita kebenaran yang mendapatkan otoritas dan kuasa yang datangnya dari Tuhan. Dan kuasa ini dapat kita alami secara pribadi tatkala kita membaca Alkitab untuk mencari berita kebenaran, dan berita baik (karena Perjanjian Baru berarti Kabar baik) dan bukan mencari-cari kata, ejaan, susunan, konstruksi dan lain-lain yang dimutlakkan harus  benar. Kita bukan saja akan merasakan kuasa Alkitab, tetapi juga akan mengalami pelepasan dan perasaan sublime yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilham pribadi lepas pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Itu sebabnya Dr. Moody, salah satu penginjil Amerika yang terbesar, ketika ditanyai dari mana ia tahu bahwa Alkitab adalah pengilhaman Tuhan, iapun menjawab dengan ringkas dan mantab: “Saya tahu Alkitab itu pengilhaman Tuhan, karena ia telah mengilhami saya!”.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3438727533309684215-67763330895646390?l=diskusiismail-ishak1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/feeds/67763330895646390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-injil-hanyalah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/67763330895646390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/67763330895646390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-injil-hanyalah.html' title='ALKITAB INFERIOR KARENA INJIL HANYALAH HADIS YANG LEMAH'/><author><name>WHY WE LEFT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12390510661703461441</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3438727533309684215.post-7227394510788612432</id><published>2011-03-11T23:42:00.000-08:00</published><updated>2011-03-12T00:24:48.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ALKITAB'/><title type='text'>ALKITAB INFERIOR KARENA IA TIDAK DIAMANKAN DARI KEHILANGAN DAN KONTRADIKSI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALKITAB INFERIOR KARENA IA TIDAK DIAMANKAN DARI&lt;br /&gt;KEHILANGAN DAN KONTRADIKSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi model kritikan yang umum dilakukan terhadap Injil, yaitu dengan mengkonfrontasikan hakekat atau karya Tuhan dengan kata tantangan “JIKALAU”, misalnya oleh Dr. M. Ali AL-Khuli (KTIA hal 92):&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Jikalau memang benar Tuhan menjadikan Injil sebagai KitabNya yang terakhir, pasti Dia akan menjaganya dari kehilangan dan perselisihan-perselisihan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang arif malahan menjadi tersenyum menghadapi kecaman demikian. Soalnya kritik ini akan persis “men-jikalaukan” hal yang sama terhadap Kitab Suci yang dipunyai pengkritik:&lt;br /&gt;“Jikalau memang benar Tuhan menjadikan Quran sebagai KitabNya dengan Wahyu terakhir pasti Dia akan menjaganya dari perselisihan-perselisihannya dengan wahyu-wahyu Tuhan terdahulu, Taurat dan Injil, yang kedua-duanya telah dibenarkan oleh Quran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Taurat dan Injil harus dijaga Allah? Alasannya banyak! Namun antara lain tercermin pada QS Yunus 10:94.&lt;br /&gt;“Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum engkau. Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu”.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jikalau Alkitab itu ditetapkan Allah menjadi sumber rujukan tatkala Muhammad dalam keragu-raguan, maka pasti Alkitab tersebut akan dijaga Tuhan dari pencemaran-pemcemaran. Alasan lain adalah kenyataan bahwa Allah tidak membeda-bedakan Rasul-rasulNya dan apa-apa yang diturunkan kepada Musa, Isa dan lain-lain nabi Tuhan (QS 2:136). Malahan memperingati dengan keras orang-orang yang mengingkarinya sebagai “Kafir yang telah sesat sejauh-jauhnya” (QS 4:136).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tentu tak luput dari kenyataan bahwa Quran sesungguhnya termasuk dalam induk Alkitab (lauhul mahfuz) di sisi “Allah” (Surat Az Zukhruf 4). Maka apabila tuduhan pengkritik benar bahwa Injil “Hakiki” telah hilang dan yang ada sekarang ini adalah yang palsu, maka tentulah mereka telah menghina Allah yang dianggap tidak mampu menjaga perselisihan dan kehilangan terhadap Kalimat-kalimatNya. Untunglah Quran tidak pernah mengatakan “Injil sejati telah hilang”, malahan sebaliknya Quran membenarkan Injil dan menyuruh orang-orang mulmin untuk mengimaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harus mengimani sebuah kitab yang korup atau yang terhilang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ini sesuatu yang serius, sebab setiap orang harus tahu mengapa Allah memerintah kaum muslim untuk percaya atas sebuah Kitab yang dikorup? Dan jikalau pengkritik tetap berdalih mengatakan bahwa Injil yang dimaksud telah hilang, maka ia tetap harus menjawab mengapa Allah yang Maha Tahu memerintahkan kaum Muslim untuk percaya atas sebuah KitabNya yang&lt;br /&gt;message-nya sudah hilang (atau segera akan hilang). Malahan memerintahkan Muhammad untuk menanyakan kepada orang-orang yang membacanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUNGKINKAH INJIL DOKTRINAL HILANG?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan Dr. Ali Al-Khuli sungguh tidak mencapai sasaran apapun kecuali ia sekarang harus menjawab secara obyektif akibat serius yang timbul sehubungan dengan tuduhannya yang sebegitu serius pula. Apabila benar tuduhannya tentulah harus ada jawaban yang logis dan teruji atas konsekuensi dari tuduhan tersebut, antara lain yang utama adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Tidak Mungkin Injil Doktrinal Versus Injil Hakiki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naskah-naskah Perjanjian Baru yang asli memang tidak kita miliki. Namun kita mempunyai salinan-salinannya yang tidak mungkin berbeda, paling tidak secara doktrinal*), terhadap naskah asli mengingat ada puluhan (atau ratusan) ribu saksi-saksi hidup yang telah menjadi pengikut Kristus di akhir abad pertama dan awal abad kedua. (lihat uraian selanjutnya). Diperkirakan ada ribuan diantaranya yang merupakan saksi-saksi yang mendengan Injil secara langsung dari murid-murid Yesus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus mengimani sebuah kitab yang korup atau yang terhilang? Ini sesuatu yang serius, sebab setiap orang harus tahu mengapa Allah memerintah kaum muslim untuk percaya atas sebuah Kitab yang dikorup? Dan jikalau pengkritik tetap berdalih mengatakan bahwa Injil yang dimaksud telah hilang, maka ia tetap harus menjawab mengapa Allah yang Maha Tahu memerintahkan kaum Muslim untuk percaya atas sebuah KitabNya yang message-nya sudah hilang (atau segera akan hilang). Malahan memerintahkan Muhammad untuk menanyakan kepada orang-orang yang membacanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Yaitu doktrin tentang keilahian Yesus dan penebusan Yesus lewat kematian dan kebangkitanNya, seperti yang diucapkan oleh Yesus sendiri, bukan buatan-buatan Paulus dan lain-lain:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doktrin (A) bahwa Yesus itu Anak Tuhan, lihat Mrk 14:61,62&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doktrin (B) bahwa Yesus itu mati disalib, bangkit, untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pengampunan dosa manusia,&lt;/span&gt; lihat Mat26:27 dan Luk 24:46,47, dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemalsu doktrinal demikian (kalau ada) tentulah terlalu mendadak, terlalu fundamental, untuk kurun waktu yang terlalu singkat, disamping terlalu telanjang kadar pemalsuannya di muka ribuan saksi-saksi primer, yaitu dari doktrin (A) dan (B) mendadak menjadi non (A) dan non (B). dan hal demikian tentulah akan mengundang perbantahan dan keributan yang paling hebat diantara pengikut “Injil Hakiki” versus Injil Doktrinal. Dan orang-orang Yahudi yang memusuhi Nasrani pada waktu itu tentulah akan menelanjangi kepalsuan agama Nasrani habis-habisan! Dalam soal ini – tanpa usah menunggu pihak Islam – orang-orang Yahudi itulah yang akan pertama-tama menjadi saksi dan wasit yang final tentang Injil Hakiki, bila mereka bisa menunjukkannya. Nyatanya tidak ada satupun sumber di dunia ini yang menyatakan ada perang Injil lawan Injil yang mengakibatkan hilangnya “Injil Hakiki/Islami” tertelan oleh Injil Doktrinal seperti yang dituduhkan orang-orang Islam tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru sebaliknya yang terjadi, yaitu permusuhan dari kaum Yahudi terhadap Nasrani timbul karena ajaran-ajaran Injil Doktrinal itu telah dianggap menghujat Tuhan kaum Yahudi sejak Yesus mengatakan DiriNya Anak Tuhan:&lt;br /&gt;“Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya (Yesus) bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Tuhan” (Yoh 5:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengkritik yang telah termampet arah saluran kritikannya masih mencoba untuk mencurigai bahwa permusuhan yang terjadi bukan saja antara kaum Yahudi vs kaum Nasrani, melainkan terjadi pergolakan hebat di dalam tubuh kaum Nasrani sendiri. Dan itu yang dianggap “permusuhan” antara pengikut murid-murid Yesus (Petrus dan kawan-kawan) dan pengikut Paulus yang mengajarkan doktrin sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berprihatin bukan semata-mata karena kekeliruan yang dikatakan oleh para pengkritik, namun justru karena hal-hal yang tidak dikatakan mereka, alias disembunyikan setumpuk ayat-ayat Alkitab yang mengatakan tentang kesatuan ajaran dari semua Rasul dan pengikut-pengikut Yesus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beda Kaum, tidak beda Kitab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun memang ada perselisihan sesaat (tentang adat istiadat Yahudi untuk non Yahudi) diantara para rasul dan murid-muridnya, namun siapakah diantara mereka yang mengingkari Injil Doktrinal (A) dan (B)? Berita Injil mereka tetaplah sama bahwa Yesus adalah Anak Tuhan dan Penebus umat manusia. Persis sama halnya bahwa kaum Sunni dan Shiah juga berselisih sesamanya, namun tetaplah semuanya mereka mempunyai satu Quran yang sama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lihatlah betapa Paulus dan Jemaat Yerusalem (Petrus dan kawan-kawan) saling memberi salam dan bertukar pengalaman-pengalaman tentang hasil penginjilan (Kis 18:22, 21:17-20).&lt;br /&gt; Lihat juga betapa Petrus justru mendukung Paulus dengan penghapusan sunat dan adat istiadat Yahudi yang tidak hakiki untuk penyelamatan orang-orang non Yahudi, menghasilkan suatu persatuan dalam apa yang disebut “dogma Yerusalem” (Kis 15).&lt;br /&gt; Mereka semua “saling berjabat tangan sebagai tanda persekutuan” (Gal 2:7-9).&lt;br /&gt; Dan yang paling penting adalah pengakuan Petrus bahwa ajaran-ajaran Paulus adalah benar kanonik: “Semua surat Paulus ditulis menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya, dan bagi yang memutar balikkannya akan menjadi kebinasaan bagi mereka sendiri” (2 Petrus 3:15-16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi tuduhan plesetan bahwa Paulus bertentangan dengan Barnabas, padahal masalahnya tidak terletak pada ajaran-ajaran melainkan hanyalah mengenai ketidakcocokan tentang siapa-siapa yang dicalonkan untuk ikut dalam misi penginjilan (Kis 15:39) yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toh&lt;/span&gt; akhirnya semua kembali saling rukun lagi (Kol 4:10,11 dan 2 Tim 4:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanapun dan kapanpun, Injil yang ada tidak pernah tercatat berkontra dengan Injil yang tiada, melainkan orang-orang tertentu sajalah yang mencoba mengontrakannya dengan kitab injil-injilan yang mereka sendiri justru tahu bahwa itu bukanlah “injil Islami” yang pantas untuk dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tidak Mungkin Sains Dan Sejarah Menemukan Injil “Hakiki” Yang Terhilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta perkembangan Kitab Injil secara historis juga memperlihatkan secara terang benderang bahwa Injil Hakiki tidak pernah dipalsukan siapapun, apalagi ditelan hilang dalam ketiadaan referensi. Kita balik melihat sejarah bahwa orang-orang Nasrani-awal adalah orang-orang Yahudi Kristen, yang selalu dimusuhi oleh kaum Yahudi. Dan dalam perkembangan selanjutnya mereka juga dimusuhi oleh Imperiun romawi yang dikala itu sedang menguasai seluruh Eropa Selatan dari Rhine dan Danube, sebagian terbesar Inggris, Mesir dan seluruh negara pantai Afrika Utara, hingga daerah-daerah utama dari Laut Tengah hingga Mesopotamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaan yang sangat penting ialah:&lt;/span&gt; Kenapa kaum Yahudi selalu memusuhi orang-orang Nasrani Yahudi dan kenapa Kerajan Romawi juga menyusul memusuhi mereka? Kenapa mereka terus dikejar-kejar, dianiaya, dan dibunuh dengan sangat kejam dan terbuka, selama hampir 300 tahun lamanya sejak kaisar Nero hingga Constantin?! (sejak mana agama Kristen barulah dinyatakan sebagai “agama negara” dan bukan lagi musuh negara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apanya dari orang-orang Nasrani awal ini yang dimusuhi? Apakah lantaran mereka menyebarkan Taurat, agama Musa, atau “Taurat-Musa yang Islami?” Tentu bukan! Ternyata obyek permusuhan mereka tidak pernah berubah, yaitu terhadap ajaran dari pengikut-pengikut Kristus, dimulai dari Yesus sendiri yang dianggap tidak cocok dan berbahaya ajaranNya, baik bagi kaum Yahudi, maupun (menyusul nantinya) bagi Kerajaan Romawi. Dan apakah ajaran mereka sehingga begitu disengiti, ditakuti dan dianggap berbahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ajaran Yesus dan rasul-rasulNya terbatas pada Taurat Musa, maka tentu kaum yahudi dan penguasa-penguasa Romawi tidak mungkin bergeram dan berdendam terhadap mereka-mereka ini, sampai-sampai perlu membantai semua ajaran plus orang-orangnya.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa Yesus sendiri disiksa dan disalib mati. Apa dosanya, apa paalnya? Lalu semua murid-muridNya dibunuh secara biadab. Apa lagi pasalnya? Konsistenkah jawabannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lihat nasib murid-murid Yesus ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Petrus, mati disalib dengan kepala di bawah, di Roma.&lt;br /&gt;2. Yakobus (anak Zebedeus), dibunuh dengan pedang di Yerusalem.&lt;br /&gt;3. Andreas, mati disalib.&lt;br /&gt;4. Matius dibunuh dengan pedang di Ethiopia.&lt;br /&gt;5. Yakobus (anak Alfeus), mati disalib.&lt;br /&gt;6. Tomas, mati ditusuk dengan tombak di Coromandel.&lt;br /&gt;7. Filipus, mati digantung di Hieropolis.&lt;br /&gt;8. Simon, mati disalib di Persia.&lt;br /&gt;9. Bartolomeus, mati disalib.&lt;br /&gt;10.Tadeus, dibunuh dengan panah.&lt;br /&gt;Hanya Yohanes yang tidak terbunuh, namun dibuang ke Pulau Patmos.&lt;br /&gt;Namun ditambah lagi dengan:&lt;br /&gt;11.Stefanus, dibunuh dengan dirajam batu oleh kaum Yahudi (sebelum Paulus bertobat).&lt;br /&gt;12.Barnabas, dirajam batu hingga mati oleh orang-orang Yahudi di Salamis.&lt;br /&gt;13.Paulus, dieksekusi pancung leher oleh kaisar Nero di Roma.&lt;br /&gt;14.Lukas, murid Paulus, penulis Injil, digantung di atas pohon Zaitun di Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah setidak-tidaknya ke-sepuluh murid-murid yang disebutkan pertama adalah orang-orang beriman menurut Quran, yang disebut “Al Hawariyun”? Jikalau mereka tyergolong Al Hawariyun tentulah yang diajarkan adalah “Alkitab ISlami” yang dipercaya oleh para pengkritik mirip-mirip dengan ajaran Taurat. Kalau begitu, kenapakah mereka dicari-cari, dikejarkejar, dan dibantai dimana-mana oleh sesama pengikut-pengikut Taurat (Yudaisme) maupun Romawi? Tidak ada jawaban yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa Romawi sendiri sangat memusuhi ajaranNya karena merasa bahwa Injil doktrinal ini sangat berbahaya bagi kerajaan justru karena sifatnya yang universal (bukan “local” seperti Yudaisme, sehingga tidak dianggap bersaing dengan “agama” Romawi) dimana pengikut-pengikut ajaran ini dimanapun mereka berada, berani mengutuk pemberhalaan Kaisar Roma, serta menolak upacara-upacara Romawi yang berbau keberhalaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun penganiayaannya, namun Injil Doktrinal yang diajarkan oleh Yesus sendiri terus berkembang pesat dari 120 pengikut-pengikut setia (yang menyaksikan Yesus naik ke surga. Kis 1:12-16) hingga 3000 pengikut tambahan pada hari Pentakosta (Kis 2:38) terus menambah 5000 (Kis 4:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak itu praktis anggota jemaat Tuhan berkembang dengan pengikut-pengikut baru setiap hari (Kis 16:5). Ketika Paulus melaporkan pertumbuhan jemaat dengan istilah beribu-ribu orang yahudi, dipercaya bahwa ia mengartikannya sebagai puluhan ribu orang. Secara geografis, Injil diberitakan bukan saja meliputi seluruh Palestina, namun menyebar kemana-mana hingga Syria, Phoenicia, Cyprus, Ethiopia, Yunani, Turki, Persia, Mesopotamia, Mesir, Arabia, Libya (Cyrene), Roma, dan lain-lain (antara lain akibat Kis 2:5-11, Kis 8, Kis 11:19-20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Romawi telah mencatat kehadiran kelompok Nasrani di Roma menjelang tahun 49 M. Kita tahu hal ini karena pada masa itu seorang sejarahwan Romawi (sekuler) bernama Suetonius, mencatat bahwa Kaisar Hanya satu jawaban yang pantas. Mereka dibunuh dengan kebencian yang hebat semata-mata karena mereka mengajarkan INJIL DOKTRINAL itulah, doktrin (A) bahwa Yesus itu Anak Tuhan, dan doktrin (B) bahwa Yesus disalib untuk penebusan dosa manusia dan bangkit pada hari ketiga. Dan ini dianggap kaum Yahudi sebagai penghujatan terhadap kesucian Tuhan, dan berdasarkan hukum Musa penajisan semacam ini harus diganjar dengan hukuman mati! Baca Kitab Imamat 24:16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claudius (naik tahta tahun 41 M) memusuhi orang-orang Yahudi maupun Nasrani sejak tahun 49 M. Ia menulis:&lt;br /&gt;“Karena orang-orang Yahudi membuat kegaduhan yang terus menerus berpusat pada Chrestus, maka ia (Claudius) mengusir mereka keluar dari Roma. (Vita Claudii XXV.4, bandingkan kepersisan pencatatan sejarah ini dengan apa yang tertulis dalam Kis 18:1-2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chrestus disini adalah ejaan lain untuk Christus, Kristus, Sang Mesias. Dan orang-orang Yahudi yang membuat kegaduhan itu memang terusir di tahun 52 M. tetapi kenapa ada kegaduhan diantara orang Yahudi terhadap Nasrani? Tiada lain menyangkut sosok Mesias yang dianggap sebagai Anak Tuhan. Jadi kembali terbukti bahwa orang-orang Nasrani awal menganut ajaran doctrinal. Ketika kaisar Nero memerintah (54-68 M), maka terjadilah deklarasi perang terhadap orang-orang Kristen dan penindasanpun terjadi dimana-mana. Perkembangan yang paling buruk ketika Kristianitas dinyatakan sebagai agama yang melawan hukum dan tindak makar, suatu religio illicita!. (Baca perkembangan sejarah gereja abad 1 dan 2: F. Hrangkhuma, An Introduction to Church History, Bangalore, Theological Book trust, bab 1 dan 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu-waktu itulah naskah-naskah Injil Perjanjian Baru mulai diterbitkan oleh para rasul atau murid-muridNya dengan menantang segala risiko dan penganiayaan. Dan Surat Korintus 1 dinyatakan secara pasti oleh semua para ahli kitab sebagai surat yang ditulis pada tahun 55 M oleh rasul Paulus kepada sidang jemaat di Korintus. Surat tersebut merupakan bagian dari Perjanjian Baru yang doctrinal yang pertama-tama ditulis dikala semua rasul sama-sama bermisi malang melintang dengan mempertaruhkan nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pandangan-pandangan para pengkritik mengenai penanggalan kitab-kitab Perjanjian Baru didasarkan pada teori kritikus Jerman FC. Baur. Dikatakan bahwa Kitab-kitab tersebut baru ditulis pada penggal akhir abad kedua Masehi, dan itu hanyalah sebuah mitos masa yang panjang sebelum dibukukan. Namun penemuan-penemuan arkeologis di dalam abad ini terhadap naskah-naskah papyrus (antara lain penemuan manuskrip John Ryland tahun 130 M, dan Papirus Chester Beatty tahun 155 M, tulisan-tulisan surat dari Clement 96 M, Polycarpus tahun 107 M) telah memberi bukti atas dua hal: a) bahwa penanggalan kitab-kitab Perjanjian Baru telah terjadi jauh lebih awal lagi. Dan b). bahwa semua tulisan-tulisan tersebut memang kutipan atau bagian dari ajaran doktrinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josh McDowell merangkumkan tabel penanggalan yang konservatif dari para arkeolog sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Conservative Dating&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Surat – surat Paulus                   50 – 66 M                                 Menurut Hiebert&lt;br /&gt;Matius                                           70 – 80 M                                 Menurut Harrison&lt;br /&gt;Markus                                          50 – 60 M                                Menurut Harnak&lt;br /&gt;                                                        58 – 65 M                                Menurut T.W. Manson                   &lt;br /&gt;Lukas                                             Awal 60 M                               Menurut Harrison&lt;br /&gt;Yohanes                                        80 – 100 M                              Menurut Harrison&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Josh Mc Dowell, Evidence That Demands A Verdict, Thomas Nelson Publishers, 1979, hal 62. Menurut Guthrie, Surat-surat Paulus tertulis tahun 49-64 sebab Paulus dibunuh tahun 64 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya bahkan sarjana-sarjana liberal dan sangat kritis terpaksa mengakui bahwa penulisan untuk dokumen-dokumen Perjanjian Baru harus ditetapkan pada penanggalan yang jauh lebih awal. Salah seorang tokoh sarjana liberal ini, John A.T Robinson dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Redacting The New Testament&lt;/span&gt;, menyimpulkan hasil risetnya yang cukup mengagetkan bahwa:&lt;br /&gt;“Seluruh Perjanjian Baru telah selesai ditulis sebelum keruntuhan kota Yerusalem di tahun 70 Masehi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, orang akan mengindahkan penemuan Dr. William Albrigh, salah seorang arkeolog Alkitab yang paling terkemuka yang pernah ada. Ia mencatat:&lt;br /&gt;“Kini kita dapat mengatakan dengan manis bahwa tidak ada lagi landasan yang kuat bagi orang-orang lain untuk memperkirakan semua Kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis setelah tahun 80 M”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan belakangan ia mengemukakan bahwa semua kitab-kitab Perjanjian Baru telah selesai ditulis sekitar selang tahun 50 hingga 75 M. Dikatakannya: “Kedekatan waktu penulisan ini (terhadap kepergian Yesus) adalah terlalu sempit untuk memungkinkan korupsi terhadap pusat ajaran, dan bahkan juga terhadap ucapan-ucapan Yesus yang spesifik.” (Josh McDowell, A Ready Defense, San Bornardino, Here’s Life Publishers, hal 79,80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, fakta-fakta perkembangan Kitab-kitab Perjanjian Baru secara historis hanya menguatkan 3 hal:&lt;br /&gt;1. Kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dikala murid-murid Yesus masih hidup&lt;br /&gt;*), yaitu oleh para saksi mata langsung terhadap Yesus, atau setidaknya berhubungan langsung dengan saksi-saksi mata langsung tersebut.&lt;br /&gt;*) Misalnya yang paling awal, Yakobus dibunuh tahun 62 M. Paulus tahun 64 M, Petrus tahun 65 M, dan yang paling akhir Yohanes diduga meninggal di tengah-tengah masa pemerintahan Kaisar trajan (98-117 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kitab-kitab tersebut tak lain tak bukan hanyalah memuat Injil Doktrinal (tentang keilahian Yesus dan tentang karya penebusan dosaNya), dan adalah Injil Kristus satu-satunya yang ditulis dan “diinjilkan” oleh pengikut-pengikut Yesus ke seluruh daerah Romawi dan jajahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sekalipun orang-orang Yahudi selalu bermusuhan dengan Kristen, namun Kitab-kitab Musa/Taurat dari orang-orang Yahudi maupun Kitab Injil/Perjanjian Baru dari orang-orang Kristen, tidaklah diprotes timbal balik oleh pihak lawannya sebagai Kitab yang sudah diubah dan&lt;br /&gt;direkayasa. Sampai kinipun orang-orang Yahudi tetap menghargai kemurnian penulisan Injil/Perjanjian Baru walau “memusuhi” isi dan pesan-pesan doktrinal yang dibawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah tak pernah mencatatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam kondisi demikian, kapankah sains dan sejarah mencatat bahwa para rasul dan pengikut-pengikut Yesus itu pernah mengajarkan “Injil Hakiki yang Islami” yang non doktrinal? Lalu disapu bersih oleh “Injil kafir”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Tidak Mungkin Berani, dan Mampu, dan Perlu-perlunya Untuk Memalsu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari berjalannya waktu, salinan Alkitabpun bertambah jumlahnya secara pesat menurut pesatnya pertambahan pengikut-pengikut Yesus serta luasnya wilayah penyebarannya ke segala penjuru. Penindasan dan pembunuhan yang dicanangkan oleh Romawi tidak mampu menciutkan pelebaran Kerajaan Tuhan. Pada akhirnya, bukan saja para agamawan yang menyebarkan Injil, namun juga para pedagang eceran, saudagar, para perantau dan pengembara, partisan (serdadu perlawanan pembebasan tanah air) bahkan para budak Kristenpun turut merupakan oknum-oknum pemberita dan penyaksi Injil. Dengan perlanjutan waktu, para saudagar dan kafilah turut merasa perlu melakukan perjalanan bisnis mereka dengan membawa serta Kitab-kitab Suci atau fragmen-fragmennya. Dan dengan demikianlah salinan Kitab-kitab Injil makin tersebar kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli tidak kekurangan bukti tentang keabsahan salinan Injil ini. Mereka berhasil menjejaki lebih dari 18.000 salinan naskah Perjanjian Baru dan fraghmen-fragmennya yang beredar dalam pelbagai terjemahan bahasa. Ditambah lagi dengan manuskrip bahsa Yunani sendiri ada sekitar 5.500 copy, Sejarah tak pernah mencatatnya Dalam kondisi demikian, kapankah sains dan sejarah mencatat bahwa para rasul dan pengikut-pengikut Yesus itu pernah mengajarkan “Injil Hakiki yang Islami” yang non doktrinal? Lalu disapu bersih oleh “Injil kafir”? yang berisi semua atau bagian-bagian dari Perjanjian Baru. Copy-copy ini berpenanggalan cukup tua, diantaranya yang paling tua adalah fragmen dari tahun 120 M. Sekalipun andaikata kita tidak memiliki 18.000 copy dari pelbagai versi, serta 5.500 manuskrip Yunani, namun toh kita tetap bisa mereproduksi Perjanjian Baru dari komposisi-komposisi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Josh Dowell menyatakan bahwa sejarah masih meninggalkan 86.000 kutipan terhadap bagian-bagian berbeda dari Perjanjian Baru yang dilakukan oleh bapak-bapak gereja awal. Cakupan yang begitu besar dan luas ini memungkinkan para ahli untuk merekomposisikan suatu kesaksian yang sama atas teks Perjanjian Baru. (lihat pelbagai karangan Josh Dowell, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Evidence That Demands A Verdict&lt;/span&gt;, Vol I, bab 4; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Ready Defence&lt;/span&gt;, bab 5; Answer To Tough Questions, hal 21-24). Dan kenyataan menunjukkan bahwa dari sekian ribu salinan dan terjemahan dan kutipan-kutipan tersebut tidak ada satupun yang Injil Non Doktrinal, apalagi yang “Islami”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Too Much – Too Late&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dan setelah ribuan salinan naskah Alkitab itu beredar kemana-mana, sejak awal, dan kesemuanya berserasi dalam ajaran doktrinal, maka kita sampai kepada periode dimana tidak ada lagi yang bisa disembunyikan atau diputar balikkan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Too much – too late&lt;/span&gt; untuk diakal-akali si tangan jahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang jelas, sehubungan ajaran Kristen adalah haram dan musuh negara pada waktu itu, makas egala salinan ini tidak pernah dikaryakan dibawah komando negara atau dikenai penggunaan tanganh besi daripada penguasa untuk menghasilkan suatu kitab yang bersifat “kehendak penguasa”. Seperti diuraikan di atas, penyalin-penyalin Alkitab justru sebaliknya mempertaruhkan keselamatan dirinya terhadap penguasa negara dalam menyalin Kitab-kitab tersebut karena sewaktu-waktu bisa dinyatakan sebagai kriminal atau makar. Namun ancaman fisik ini (dan pembakaran semua Alkitab di zaman kaisar Diocletian) tidak menghalangi para penyalin untuk menyalin. Suatu bukti bahwa mereka-mereka ini lebih takut kepada Tuhan dan kebenaranNya ketimbang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuhan mengharamkan dan mengancam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberi peringatan keras dari waktu ke waktu untuk selalu memelihara Kitab Sucinya. Jangan pernah ada manusia yang berani melancangi pengubahan atau memutarbalikkan ayat-ayat Alkitab. Peringatan ini selalu menggetarkan manusia termasuk anda, saya, dan orang-orang yang menguduskan isi Alkitab. Tuhan memberi perigatan keras kepada Musa:&lt;br /&gt;“Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah Yahweh , Tuhanmu yang kusampaikan kepadamu”. (Ulangan 4:2. Bandingkan dengan QS 5:44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian atas wahyu Tuhan, Raja Salomo pun bersaksi dalam Amsal 30:5-6&lt;br /&gt;“Semua Firman Tuhan adalah murni … jangan menambahi FirmanNya supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan wahyu Tuhan secara langsung kepada Yohanes telah mengancam para jahil dengan malapetaka-malapetaka yang besar:&lt;br /&gt;"…Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.&lt;br /&gt;19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini." (Wahyu 22:18-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah ancaman ini, setiap orang yang beriman tentu tidak akan berani memalsukan naskah-naskah Alkitab yang dimilikinya. Apalagi bagi penyalin-penyalin naskah di zaman dahulu yang sesudah mendapati ancaman dan pengharaman dari Tuhan, juga menerimanya dari penguasa-penguasa Romawi! Penyalin-penyalin memang bisa menafsirkannya salah, tetapi tidak akan bisa membongkar pasang putar balik doktrin Alkitab dari A menjadi non A. Dan apa pula motivasi dan tujuan yang begitu besar sehingga orang-orang atau penyalin-penyalin itu harus mempertaruhkan kutukan Tuhan (dan kutukan penguasa) demi melancangi sebuah Alkitab yang diyakini kudus (yang pasti kudus dan sarat dengan moral karena berasal dari Tuhan sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Alkitab lewat salinan tulisan tangan bisa terdapat kekeliruan kecil yang tidak disengaja memang mungkin terjadi, misalnya terjadi variasi tentang ejaan, bilangan dan mungkin loncatan kata atau kekeliruan urutannya atau kekeliruan terhadap catatan pinggir. Namun para penyalin ini tentu tidak mungkin berani dan tidak merasa perlu untuk merusak kebenaran essensial dan doktrinal dari Alkitab yang mereka sendiri anggap sebagai sakral. Tahukah para pengkritik bahwa orang-orang Yahudi terkenal sangat cermat dalam penyalinan naskah-naskah, apalagi naskah kitab-kitab Suci yang demikian dihormati mereka turun temurun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah merupakan suatu naluri dalam diri setiap orang Yahudi sejak lahirnya untuk meyakini kitab-kitab itu sebagai Firman Tuhan. Harus dihormati dan dipatuhi, dan jika perlu rela mati demi kitab-kitab tersebut. Meski sudah berabad-abad lewat, namun tak bakalan ada seorang Yahudipun yang berani untuk menambah, menghilangkan atau mengubah satu suku kata saja. Bahkan mengucapkan satu kata yang menentang Kitab Taurat dan Kitab-kitab Suci lainnya tidaklah berani mereka lakukan” (Josephus Complete Works, translated by William Whiston). (Bandingkan dengan QS.5:44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak didikte oleh otoritas penguasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin-pemimpin gereja awal justru tidak mempunyai kekuasaan politis sebelum Constantine I yang pro-Kristen menjadi kaisar di tahun 324 Masehi (bahkan beberapa tahun sesudahnyapun), sehingga pemaksaan tangan besi dari gereja untuk suatu perekayasaan Alkitab hakiki tidaklah mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata para pemimpin gereja bermental korup, ataupun memegang kekuasaan super otoriter, kita mungkin bisa percaya bahwa mereka akan pertama-tama memerintahkan penggabungan keempat Injil menjadi SATU yang komprehensif sambil membuang ayat-ayat yang sulit untuk digabungkan, lalu akan membakar habis keempat Injil mula-mula demi menghapuskan jejak pemalsuan, sehingga Injil Baru yang dihasilkan tampaknya akan tampil kompak tanpa “kontradiksi”. Yang terjadi pada masa itu, khususnya dibawah Kaisar Diocletian (tahun 303 M) memang memerintahkan pembakaran habis-habisan semua Alkitab, namun itu semuanya dilakukan oleh orang-orang kafir dan kerajaan kafir, bukan oleh kalangan gereja! Malahan pemimpin-pemimpin gereja percaya diri, terbukti mereka tidak berusaha untuk menghilangkan atau menyamaratakan berbagai “perbedaan” yang terdapat di dalam Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata ketika itu terdapat banyak jenis Injil yang berbeda-beda pahamnya, dan pemerintah Romawi terlibat langsung dalam pengamanan Injil dengan dukungan kuasa mutlak negara, maka pastilah akan tampil satu versi Injil yang dianggap benar menurut paham penguasa yang cenderung korup dikala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun syukurlah bahwa Injil tidak dihasilkan dari tangan-tangan diktator; melainkan hasil pengamanan Injil yang lolos dari kejaran dan pemusnahan dari pihak penguasa-penguasa (Roma dan Yahudi). Dengan demikian kebenaran dan kemurnian Injil teruji oleh fakta-fakta sejarah, karena sejarah tidak pernah mencatat tampilnya “Injil Penguasa” yang menandingi Injil Doktrinal yang ingin dimusnahkan itu. Hal ini jelas mengacu kepada satu kesimpulan bahwa: “Perbedaan-perbedaan” yang tetap dibiarkan dalam naskah ALKITAB itu pada akhirnya meneguhkan suatu KEJUJURAN PENYALINAN naskah, bukannya suatu korupsi naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau “keempat Injil” itu misalnya memberitakan cerita yang persis sama, dengan urutan-urutan dan pernik-pernik yang sama, maka hal tersebut akan segera mencetuskan kecurigaan yang sah. Sama halnya bilamana anda mengirim 4 orang wartawan reporter untuk mencatat suatu event gempa bumi secara terpisah misalnya, dan tahu-tahu ke 4 reporter tersebut pulang dengan laporan yang persis sama dalam rangkaian ceritanya, bagian demi bagian, malahan memakai kalimat-kalimat dan istilah-istilah yang sama. Maka bukankah anda layak untuk menuduh mereka berempat telah bersekongkol dan bersepakat dalam melakukan penyontekan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta yang benar adalah hanya ada satu Injil, namun ditulis oleh 4 penulis yang berbeda. “Injil yang satu”, bukanlah copy atau hasil cocok-cocokan dari “Injil yang lain”. Keempat Injil tersebut adalah saling melengkapi. Tuhan telah memberi inspirasi wahyu bagi 4 penulis yang berbeda untuk menulis KESATUAN INJIL dari 4 sudut penyaksian yang berbeda: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya pada Injil yang satu penulisnya bisa berfokus kepada features (inti) cerita sambil “melalaikan” latar belakang yang sering disingkat, ditiadakan bahkan diloncati, sementara pada Injil yang lain, sang penulisnya bisa tergerak untuk merangkum cakupan-cakupan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang khas misalnya pada peristiwa kebangkitan Yesus. Di sini semua penulis secara sama telah menceritakan hal inti yang tidak tersangkal, yaitu bahwa kubur telah kosong dan Yesus telah bangkit. Namun karena metode penggambarannya ibarat pengambilan foto sesaat (snapshot) dari berbagai sudut yang berbeda-beda oleh setiap penulis, maka foto akan menghasilkan fakta-fakta “sampingan” yang tampaknya “berbeda”, dan ini justru harus diartikan sebagai peneguhan akan keaslian dan kejujuran foto tersebut dan bukannya pemalsuan karena diatur-atur dengan sinkronisasi teknik foto seperti yang biasanya dilakukan oleh “pemotret-pemotret rekayasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seperti kenyataannya sekarang ini, tatkala bagian-bagian yang inti telah tercakup sama oleh setiap penulis Injil, maka perbedaan-perbedaan peripheral/marginal (pinggiran) yang tampak haruslah diartikan bahwa mereka tidak berkomplot. Hal-hal tersebut hanyalah akan menambahkan dan bukannya mengurangi keaslian dan kejujuran penulisannya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa orang-orang Yahudi sangat fanatic memuliakan Kitab-kitab Suci mereka. Kita juga tahu bahwa orang-orang Nasrani awal sedia mengorbankan hidupnya demi mempertahankan kepercayaannya, artinya juga mempertahankan kebenaran Kitab-kitab Sucinya. Justru yang kita tidak tahu adalah apa yang dituduhkan oleh para pengkritik, yaitu siapakah, kapankah, dimanakah dan bagaimanakah pemalsuan Alkitab itu terjadi? (“void of someone – sometime – somewhere – somehow”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak ada satupun pengkritik yang mampu membuktikan secara legal, sains, maupun arkeologi bahwa Alkitab “Hakiki” itu pernah ada secara historis, lalu pernah hilang, dan seterusnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prejudices manusia sering membutakan diri sendiri untuk melihat kewajaran dan kebenaran yang paling elementer sekalipun. Sebab untuk mengubah ribuan ayat-ayat Alkitab secara selaras dan sistematis diperlukan orang-orang super melebihi yang membuat aslinya. Yang paling sulit untuk diselaraskan adalah bagaimanakah nubuat-nubuat para nabi dulu-dulu itu harus diubah lagi karena semuanya ternyata tergenapi dalam diri Yesus. Nubuat-nubuat tersebut sudah tertulis berabad-abad sebelum Yesus lahir ke dunia. Bagaimanakah kita yang memuliakan kejujuran moral dapat menutup mata atas nubuat para nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya sekalipun katakanlah ada orang-orang yang sanggup dan mau mengubahnya, tetaplah mereka tidak akan sanggup menghilangkan teks sejati dari Alkitab, karena firman Tuhan ditakdirkan untuk hadir secara kekal (Markus 16:8, Wahyu 14:6, bandingkan dengan QS Yunus 64 dan QS An Nisa 47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa hadir secara kekal? Karena Firman adalah sesuatu yang terukir kekal di surga. “Untuk selama-lamanya, ya Tuhan firmanMu tetap teguh di surga” (Mzm 119:89). Bandingkan dengan QS 85:22 dan 43:4 bahwa Al Quran tersimpan dalam induk Alkitab (Lauhul Mahfuzh di sisi Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Void of “Someone – Sometime – Somewhere – Somehow”&lt;br /&gt;Itu sebabnya tuduhan pengkritik berakhir dengan suatu karya fiksi dimana pelaku pemalsunya, someonenya tidak berwujud orang. Dan sometimenya tidak bertanggal atau bermusim*), somewherenya entah di Yerusalem, Yunani, Roma, Tanah Arab atau negeri Antah Berantah (ever-ever land)? Dan somehownya entah sulap atau sihir!&lt;br /&gt;*) kapankah kasus pemalsuan tersebut dapat dituduhkan kepada Alkitab?&lt;br /&gt;Sebelum atau sesudah Islam berkembang? Jika dijawab sebelum Islam muncul, maka kenapa Quran menyaksikan dan menyuruh mengimani kebenaran Alkitab? Dan jika dijawab sesudahnya, maka si penuduh akan dipermalukan oleh fakta-fakta bahwa naskah-naskah Alkitab yang final toh telah tersimpan dalam gereja dan museum-museum mendahului datangnya Islam tiga-empat abad sebelumnya. Dan isi naskah-naskah tersebut tidak berubah satu katapun dengan isi Alkitab yang kita pegang dewasa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu semua, bagaimanakah Firman Tuhan yang Maha Ada mampu dihilangkan manusia najis, sedang setanpun tak mampu melakukannya? Jikalau selama berabad-abad ini tidak ada satu orangpun yang mampu tampil membawa bukti dan saksi-saksi atas sebuah kasus tuduhan berat ini, maka atas dasar apakah orang bijak bisa mempercayainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Tidak Mungkin “Injil Barnabas” Itu Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengkritik dan menuduh kosong kian kemari, serta tetap ngotot berasumsi bahwa sebuah Alkitab yang asli telah “sengaja disingkirkan” kaum Kristen yang jahil, lalu Kitab alternatif apakah yang sanggup disodorkan oleh para pengkritik secara historis? Tiada lebih dari sebuah Injil-injilan semisal Injil Barnabas! Isinya? Injil Barnabas yang dijago-jagoi itu ternyata bukan saja berkontradiksi dengan Alkitab tetapi juga sekaligus dengan Quran dan Hadis! Itu sebabnya Dr. Robert Morey mengatakan “Injil” yang satu ini sebagai pedang bermata tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada Kitab lain yang bisa dikhayal-khayalkan oleh manusia yang bisa melenyapkan kewibawaan Alkitab Tuhan yang justru disuruh oleh Muhammad untuk diimani oleh orang-orang beriman. Kitab khayalan seperti “Injil Barnabas” (naskah primernya dalam bahasa Itali diperkirakan dari awal abad 15 atau 16) *) misalnya hendak dikesankan seolah-olah ditulis oleh Barnabas, rasul Yesus, dan ditulis di abad pertama. Padahal pengritik-pengritik ini telah salah mencampur adukkan “Injil Barnabas” (Gospel of Barnabas) dengan kitab “Rasul Barnabas (semu)” (Epistle of Pseudo Barnabas) yang dianggap apokrip, dengan penanggalan abad pertama (tahun 70-79 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Injil” ini menyatakan bahwa Tuhan memilih manusia sebagai anak, suatu yang ditolak Quran (QS 39:4). Juga menolak orang yang beristri lebih dari satu, malahan menghalalkan makanan yang diharamkan Islam. Dalam Perjanjian Baru, Barnabas adalah temannya Paulus. Mereka memberitakan Injil-Salib yang sama kemana-mana, di abad awal. Namun dalam Injil Barnabas, di abad ke 16, Barnabas tiba-tiba muncul sebagai musuh besar Paulus. Injil ini fatal ketika ternyata buta ilmu bumi, sejarah, adat istiadat dan sosial setempat. Antara lain dikatakan bahwa Yesus dilahirkan ketila Pilatus adalah gubernur negeri Yudea (padahal Pilatus baru menjabatnya sejak tahun 26 M hingga 36 M). kota Nazaret diterangkan sebagai kota pelabuhan sehingga ada pasal yang menyebutkan bahwa Yesus berlayar ke Nazaret Dengan demikian tidak ada seorangpun yang dapat mengagung-agungkan kehebatan Tuhan yang berhasil menjaga salah satu KitabNya secara sempurna selama berabad-abad, namun pada waktu yang lain gagal total menjaga Kitab-kitabNya yang lainnya, juga selama berabad-abad!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Injil Barnabas ini tidak mempunyai teks tradisi apapun (seperti layaknya pada Injil-injil kanonik), bahkan juga tidak pernah dipetik atau dikaitkan dalam referensi tulisan-tulisan dari penulis-penulis Islam manapun di abad-abad sebelumnya, ketika mana Islam dan Kristen justru terlibat dalam perdebatan sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(padahal Nazaret bukan kota pesisir, melainkan kota di atas perbukitan Galilea). Total-total tercatat tidak kurang dari 30 kesalahan-kesalahan konyol. Jadi tuduhan bahwa Alkitab (atau Kitab apapun) adalah korup, itu adalah ucapan paling gampang. Setiap orang bisa melakukannya. Tetapi untuk mempertanggung jawabkannya dengan pembuktian sejati dan sejujurnya, itu adalah hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Tidak Mungkin Isa Dikalahkan Paulus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun Alkitab dipersengketakan dan dicurigai orang, namun oleh Quran, ia dijunjung sebagai wahyu yang kudus dan tak ternilai, dalam lauhul mahfuz di sisi Tuhan, yang diakui selalu eksis, kalimat-kalimat Tuhan yang tidak terhilangkan dan benar hakiki. Namun para pengkritik melempar tuduhan bahwa “Teks Injil Hakiki telah diubah, teks aslinya telah hilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apakah pengkritik sudah membuktikan apa yang dituduhkannya berdasarkan Alkitab? Atau berdasarkan Quran? Lihat apa yang dikatakan dalam Surat Al Maedah 5:43, 44, Al Baqarah 2:136, dan Yunus 10:84.&lt;br /&gt; “Dan bagaimanakah mereka dapat menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim mereka, padahal di sisi mereka ada Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu. Dan mereka itu bukanlah orang-orang mukmin”.&lt;br /&gt; “Sesungguhnya Kami telah menurunkan taurat, di dalamnya berisi petunjuk dan cahaya, yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya … “&lt;br /&gt; “Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka, dan kami hanya berserah diri kepadaNya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Standar Ganda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap pengkritik yang menjago-jagokan Injil Barnabas untuk mendiskreditkan Injil yang ada, sudahlah ia berlaku tidak jujur, karena kitab yang dijagokan tersebut tidak diimani sendiri oleh sang pengkritik sebagai kitab Islami.&lt;br /&gt; “Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum engkau …”&lt;br /&gt;Apa yang bisa kita lihat dari ayat-ayat ini?&lt;br /&gt;Bukankah dapat dilihat dengan jelas bahwa: A. Taurat dan Alkitab itu ADA DI SISI MEREKA, menjadi patokan perkara-perkara yang hendak diputuskan, atau acuan bila terjadi keragu-raguan tentang pewahyuan. Jadi tidak ada yang hilang atau habis kebenarannya (yang asli) seperti yang dituduhkan oleh dr. Ali Al-Khuli. Masih banyak ayat-ayat yang menyetakan kehadiran fisik Alkitab di zaman Muhammad, misalnya QS 2:41, 89, 101, 3:93, 4:136, 5:43, 44, 47, 68, 7:157, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Alkitab dijadikan rujukan bagi Muhammad dan siapa saja ketika ada keraguan tentang wahyu Tuhan. Jadi seharusnya ia eksis serta tidak ada keraguan seperti yang dicurigakan Dr. Ali Al-Khuli. Namun seperti yang diperlihatkan di depan, orang-orang Kristen justru percaya bahwa Alkitab memang berbeda secara asali dengan Kitab Suci lain manapun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Mereka yang bahkan tidak berimanpun cuma berpaling dari Alkitab tetapi tidaklah mengubah teks Alkitabnya sendiri, dan tentu bagi para orang-orang Nasrani yang beriman akan terlebih-lebih tidak bakalan mengubah Alkitabnya! Apalagi mereka yang beriman ini telah diperintahkan untuk memelihara Kitab-kitab Allah dan menjadi saksi terhadapnya. Walau mereka berpaling dan tidak beriman yang memutar-mutar lidahnya ketika membaca Alkitab (artinya yang mempleset-plesetkan dan menyelewengkan kata-kata secara salah), namun tidak pernah dikatakan bahwa teks aslinya dihilangkan/dimusnahkan dari Alkitab: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Alkitab, apdahal ia bukan dari Alkitab …” (QS Ali Imran 3:78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi yang tidak menguntungkan pengkritik, akhirnya secara jalan pintas semua kesalahan dilemparkannya kepada Paulus yang dituduh telah menyelewengkan ajaran Injil-Islami menjadi Paulinisme: “Hampir semua penyelewengan yang terdapat sekarang dalam agama Nasrani bersumber pada ajaran paulus” (IGMB hal. 71). Namun pengkritik lupa bahwa Quran tidak pernah menyebut, apalagi mengakui kebesaran nama Paulus, tetapi telah menyebut nama atau sosok Isa sebanyak 95 kali dan mengakuinya sebagai sosok paling terkemuka sampai akhiratpun. Maka apakah ada diantara orang-orang Muslim yang betul-betul percaya bahwa seorang paulus sanggup mengalahkan Isa Almasih… dalam kuasa, kemuliaan, contoh, moral, mujizat, ajaran, dan dalam perolehan pengikut-pengikut yang berkualitas, sekali mereka berdua bersaing atas pokok-pokok ajaran yang bertentangan? Surat Ali Imran 45 jelas menolak gagasan superioritas orang lain terhadap Isa, di dunia dan di akhirat. Dan Surat Ash Shaff 61:14 terangterangan menerangkan kemenangan bagi para pengikut Isa:&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah tuduhan pengkritik harus dipersoalkan kembali secara serius? Surat Ash Shaff 14 bisa menjadi pendakwa bagi pengkritik yang sembrono menuduh. Sejarah telah membuktikan bahwa Kerajaan romawi ternyata tidak berdaya terhadap penyebaran agama Kristen yang tadinya dilarangnya. Orang-orang nasrani yang merupakan perluasan “jemaat Yerusalem”, ialah orang-orang beriman yang dinyatakan sebagai pemenang dalam Ash Shaff 14. Mereka tidak pernah hilang tertelan oleh pengikut-pengikut Paulus seperti yang dituduhkan pengkritik sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Adapun pengikut nabi Isa yang tetap setia pada syariat Taurat ialah golongan “jemaat yerusalem” (maksudnya pengikut Petrus cs) … Jemaat Yerusalem ini menjadi terasing dari jemaat-jemaat Nasrani lainnya (maksudnya pengikut-pengikut Paulus) yang semuanya terdiri berasal dari orang-orang kafir (luar Yahudi). Mereka masih terdengar beritanya hingga kira-kira akhir abad ke 6 Masehi, kemudian tidak terdengar lagi kabarnya” (IQMB hal.87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimenangkan oleh siapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bilamana orang-orang beriman itu dimenangkan oleh Tuhan terhadap musuh-musuh mereka, maka kenapakah “Injil Palsu” Paulus dan “pengikut-pengikut” Paulus yang dimenangkan oleh pengkritik terhadap Injil Isa dan ajaran-ajaran Isa?&lt;br /&gt;Bandingkan dengan Injil Doktrinal yang ditulis pada abad ke satu, yang diuber-uber untuk dibakar, dan dinyatakan sebagai barang terlarangpun masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survive&lt;/span&gt;, dan berhasil dihimpun. Bahkan manuskrip di awal abad ke 4 yang memuat hampir semua materi Alkitab (Taurat – Perjanjian Lama, maupun Injil – Perjanjian Baru) toh bisa ditemukan terpelihara dalam Codex Vaticanus (tahun 325-350 M). begitu pula dengan Codex Sinaiticus (tahun 350 M) yang memuat hamper semua Perjanjian Baru plus lebih dari separuh Perjanjian Lama. Jadi bagaimana nasib Injil Hakiki di abad ke 6? Dimanakah catatan dan kebedaraannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman yang dijadikan pemenang oleh Allah seperti yang tercantum dalam Surat Ash Shaff 14 di atas tentulah termasuk murid-murid Isa Almasih seperti Petyrus dkk. Dan ini cocok dengan pernyataan Yesus kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (yang artinya batu karang) dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:16,18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan diberikan Yesus kepada Petrus dan jemaat-jemaatnya terhadap kerajaan-kerajaan Antikris manapun. Itulah jemaat semua para rasul, kelak termasuk Paulus, dimana Alam maut tidak akan menguasai dan menelannya! Dan apakah yang diajarkan oleh Petrus dkk? Petrus berkhotbah demikian di Serambi Salomo:&lt;br /&gt;“Demikianlah Ia (Yesus), Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Tuhan telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Paulus mengatakan:&lt;br /&gt;“Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; … Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci. … Ia telah menampakkan diri … kepada ke 12 muridNya, … (dan) kepadalebih dari 500 saudara (saksi-saksi sekaligus, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang” (1 Kor 15:3-6)&lt;br /&gt;Maka kembali terbukti Petrus dan Paulus bukan saja mengajarkan Injil Doktrinal, melainkan merekapun menjadi saksi atau menunjukkan saksinya atas Injil Kebangkitan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bumerang atas kesembronoan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan penting ini sayang tidak menyebutkan nara sumber otentiknya serta menjelaskan kesejarahannya. Namun sepotong keterangan ini telah menempatkan pengkritik dalam posisi yang sangat riskan, bahkan fatal, karena bukan saja tidak terserasikan dengan ayat Ash Shaff 14, melainkan juga mendatangkan efek boomerang bahwa bilamana “Jemaat Yerusalem” tersebut bertahan hingga akhir abad ke 6 M, maka seharusnya Injil Hakiki yang dibawakan oleh mereka di abad ke 6 itu akan dapat diketahui, terjejaki oleh sains atau arkeologi, dan dipunyai oleh sejarah! (ketimbang Injil Doktrinal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Tidak Mungkin Tidak Ditindaki Muhammad Untuk Pengamanan Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa tidak ada nabi manapun yang berani membatalkan Alkitab. Begitu ia membatalkan Alkitab, begitu symbol-simbol kenabiannya akan tercopot karena “tidak seorangpun yang dapat menukar kalimat-kalimat Allah” (QS Al Anam 6:34), dan “tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah” (lihat QS Yunus 64). Karena Firman begitu berdaulat, maka manusia tidak bisa mengklaim sekenanya bahwa Alkitab itu korup atau palsu jikalau ia tidak mematahkan kedaulatan Firman tersebut dengan menunjukkan mana Alkitab yang tidak korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teman-teman muslim kurang menyadari bahwa Alkitab (Hakiki) tidak “hilang secara fisik” di masa Muhammad, melainkan benar-benar ada dan beredar di tengah-tengah masyarakat, sehingga Muhammad sempat menantang orang-orang Yahudi untuk membacakan Kitab taurat itu dimuka para saksi mata. Lihat salah satu ayat ini:&lt;br /&gt;“ … Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang benar” (QS 3:93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga QS 2:41, 89, 91, 5:43,44,47, dan lain-lain. Semuanya membenarkan kehadiran fisik dari Alkitab di masa Muhammad. Dalam keadaan demikian, maka nabi manapun tidaklah akan otomatis membenarkan sebuah Alkitab tanpa memilah-milah, ketika disinyalir ada beredar pula kitab-kitab yang palsu diantaranya. Bahkan tidak akan cukup bagi seorang nabi untuk sekedar memperingati kepada pengikut-pengikutnya akan kehadiran fisik sebuah Alkitab palsu (yang akan segera menghilangkan Alkitab Hakiki) tanpa memerintahkan orang-orang beriman untuk bertindak mengamankan Alkitab Hakiki tersebut secara fisik pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi manapun tidak akan sekedar berseru namun akan bertindak membela dan mengamankan Alkitab mati-matian, jikalau saja diketahuinya Kitab Tuhan telah dipalsukan dan aslinya terancam hilang jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iskandar Jadeed menulis dalam bukunya: ”The Infallibility of the Torah and the Gospel” bahwa sejak kekristenan lahir, semua Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah berada di tangan pihak-pihak Yahudi maupun Kristen. Orang-orang Yahudi bermusuhan hebat dengan orang-orang Kristen, sehingga kalau ada gejala bahwa salah satu pihak melakukan perubahan-perubahan pada Kitab Sucinya, tentu hal tersebut akan menjadi alasan tak terelakkan bagi yang satu untuk menyerang yang lain. Namun sarjana-sarjana telah meneliti secara cermat dengan membandingkan semua salinan Alkitab yang ada pada kedua belah pihak yang bermusuhan ini, dan mendapati bahwa salinan-salinan mereka saling cocok satu dengan yang lain. Kesemuanya tidak ada yang berisikan nubuat-nubuat dan fakta-fakta tentang Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau Muhammad dan kaum Muslim awal ada berkeyakinan bahwa Taurat dan Injil yang sedang beredar itu sedang terancam oleh pemalsuan (dan pelenyapannya) yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan nasrani maka orang-orang Muslimlah yang seharusnya merasa bertanggung jawab untuk segera mengamankan satu atau beberapa salinan Taurat dan Injil yang ”Islami” itu. Kenapa? Karena orang-orang Muslim itulah yang paling berkepentingan untuk membuktikan (dan bukan menuduh orang lain menghilangkan) kebenaran Islam yang mengatakan bahwa nama ”Ahmad” (Muhammad) ada terdapat dalam Kitab Taurat dan Injil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o ”Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ”Ini adalah sihir yang nyata” (QS 61:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o ”... Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,...” (QS 7:157a) Jikalau nama ”Ahmad” (Muhammad) ada tertulis dalam Kitab taurat dan Injil sebagai nabi yang akan diutus Allah setelah Isa, maka tidak ada hal yang lebih penting lagi bagi Islam untuk meyakinkan dunia (sekaligus mengungguli yahudi dan Nasrani) selain daripada mengamankan Taurat/Injil Islam ini sebagai bukti Ilahi atas kenabian Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tindak pengamanan ini tidak tampak ditunjukkan oleh Muhammad maupun pengikut-pengikutnya, melainkan cukup mengklaim berulang-ulang membenarkan taurat dan Injil saja. Dan kini para pengkritik bahkan tidak merasa menyesal atas kelalaian mereka dalam mengimani&lt;br /&gt;Taurat/Injil Islami, melainkan malahan menuduh pihak-pihak lain yang harus bertanggung jawab atas ”menghilangnya” kitab-kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu bentuk ”cuci tangan” yang tidak bisa dibela lebih lanjut!&lt;br /&gt;Yesus yang begitu terkenal dengan kasih sayangnya yang lembut bahkan tidak tinggal bicara saja, namun juga bertindak dan keras menghadapi ulah para pedagang yang ”hanya” mengotorkan Bait Tuhan sebagai ajang jual beli (ketimbang memalsukan Firman Tuhan yang jauh lebih menghujat). Mereka diusir dan meja-meja dagangannya dibalikkan demi memurnikan dan mengkuduskan kembali Bait Tuhan tersebut (Mat. 11:15,16). Mendatangkan pertanyaan sekarang kenapa tindakan-tindakan drastis ini justru tidak tampak dilakukan oleh Muhammad untuk membela kesucian dan kemurnian Taurat/Injil, sekaligus membuktikan kenabian Muhammad benar dinubuatkan dalam Taurat dan Injil. Malahan beliau tidak pula menunjuk hidung dan mengutuk Paulus si pemalsu Injil seperti yang diidentifikasi oleh para pengkritik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, apakah para pengkritik lalu akan menafsirkan Muhammad sebagai diskriminatif? Tentu tidak bukan? Melainkan kita mungkin harus memberi tafsir yang berbeda sekali dengan apa yang dicetuskan pengkritik, yaitu KEHADIRAN KITAB INJIL (Hakiki) memang tidak pernah terpalsu hilang. Dan karenanya tidak pernah hal ini diwahyukan Allah kepada Muhammad. Malahan Quran menegaskan bahwa sebagian para ahli Kitab tidak menukarkan ayat-ayat Allah yang dipunyai mereka (lihat QS 3:199), yang mana berarti terpeliharalah Alkitab mereka yang hakiki itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3438727533309684215-7227394510788612432?l=diskusiismail-ishak1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/feeds/7227394510788612432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-ia-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/7227394510788612432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/7227394510788612432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-ia-tidak.html' title='ALKITAB INFERIOR KARENA IA TIDAK DIAMANKAN DARI KEHILANGAN DAN KONTRADIKSI'/><author><name>WHY WE LEFT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12390510661703461441</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3438727533309684215.post-3560643080892437507</id><published>2009-08-30T18:10:00.000-07:00</published><updated>2011-03-12T01:04:46.940-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ALKITAB'/><title type='text'>Apa Ada Kitab Tuhan Dengan Naskah Asli?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Terlalu sering orang-orang Kristen mendengar pengkritik melontar ucapan-ucapan tidak intelek dan tanpa bukti: "&lt;i&gt;Alkitabmu telah kalian ubah&lt;/i&gt;", "&lt;i&gt;Alkitabmu korup&lt;/i&gt;". Kini secara fair, akankah pengkritik berhati lapang untuk mendapati bahwa ucapan yang sama boleh jadi akan tertuding balik kepada mereka? Baik! Kita berdialog dan bukan bermonolog.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekalipun manuskrip asli Perjanjian Baru tidak kita miliki, namun seperti yang telah diperlihatkan kita memiliki amat banyak salinan-salinan asli versi-versi terjemahan, dan kutipan-kutipan tekstual yang sangat tua, yang kesemuanya diturunkan atau diterjemahkan dari &lt;i&gt;satu sumber ajaran doktrinal yang sama&lt;/i&gt;. Tuduhan bahwa &lt;i&gt;isi Perjanjian Baru&lt;/i&gt; ada berbagai versi, jelas hanyalah karena pemahaman yang salah, atau memang kesengajaan untuk melantangkan ucapan yang merendahkan. Sebab &lt;i&gt;isi Perjanjian Baru selalu satu, dengan berbagai versi terjemahan&lt;/i&gt;. Dalam bahasa Inggris, ada versi The King James, The New King James, The American Standart, Revised Standart, dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia, ada terjemahan lama, terjemahan baru, bahasa sehari-hari dan seterusnya (sama halnya dengan Quran yang juga diterjemahkan dalam banyak versi). Namun semuanya ini hanyalah &lt;i&gt;terjemahan yang tetap sesuai dengan salinan asli&lt;/i&gt; Perjanjian Baru bahasa Yunani dan Perjanjian Lama Ibrani yang telah terpelihara jauh sebelum kedatangan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Penyalin-penyalin di zaman dulu telah mempertaruhkan jiwanya dan raganya untuk melakukan penyalinan yang benar atas kebenaran Firman Tuhan (ancaman terhadap raganya didekritkan oleh penguasa-penguasa Romawi yang anti Kristus, dan ancaman jiwa dipertaruhkan atas kutukan Tuhan bagi siapa-siapa yang berani memalsukan ayat-ayatNya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itu sebabnya walau ada sejumlah ayat-ayat Alkitab yang sepintas tampaknya sebagai tidak pas dan sulit dicernakan, namun ayat-ayat tersebut itupun tetap dibiarkan berdiri tegar dalam &lt;i&gt;keaslian salinannya&lt;/i&gt;. Mereka tidak pernah mengambil tindakan seperti yang diambil oleh &lt;i&gt;Khalifah Utsman&lt;/i&gt; yang meresmikan satu mushaf Quran Utsmani sambil &lt;b&gt;&lt;i&gt;memerintahkan memusnahkan himpunan naskah-naskah lainnya yang justru merupakan naskah-naskah primer&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. &lt;strong&gt;(Dr. Niftrik &amp;amp; Dr. Boland, &lt;i&gt;Dogmatika Masa Kini&lt;/i&gt;, hal 281).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"&lt;i&gt;Utsman mengirim kepada setiap propinsi satu Kitab yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar semua naskah-naskah Al Quran yang lain, apakah dalam bentuk yang terbagi-bagi, atau yang lengkap, harus dibakar"&lt;/i&gt; (&lt;b&gt;Hadis Shahih Bukhari, VI, Hal 476&lt;/b&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perintah pemusnahan oleh Utsman ini terjadi setelah &lt;i&gt;team panitia Zaid&lt;/i&gt; (bersama 3 orang lainnya yang ditunjuk oleh Utsman) berhasil menyusun ulang naskah-naskah Quran dalam satu standar baru yang disebut &lt;i&gt;Mushaf Utsmani&lt;/i&gt; demi menggantikan "&lt;i&gt;koleksi naskah Abu bakar/Hafsah&lt;/i&gt;" dan semua koleksi naskah Quran atau lepasan-lepasannya yang ada sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Perlu Kritis&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Disinilah pembaca perlu kritis bertanya &lt;i&gt;ada apa dibalik perintah pemusnahan terhadap naskah-naskah primer yang begitu penting itu yang seharusnya justru diamankan sebagai bukti sejarah dan bukti keotentikan?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Periksalah dengan cermat berbagai informasi asli dari hadis dan Sirat dan lain-lain tulisan (yang jarang ditampilkan) dan jangan otomatis menerima begitu saja tulisan-tulisan dari satu pihak (yang sering disodorkan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kita tahu bahwa Quran hingga meninggalnya Muhammad, merupakan ayat-ayat yang masih direferensikan secara oral. Berlawanan dengan apa yang sering diasumsikan bahwa diakhir hidup Muhammad semua ayat-ayat sudah tertulis seolah-olah sudah lengkap, tertib, terurut dan dihafal teratur dalam bimbingan Muhammad, namun fakta-fakta mendasar berbicara lain daripada asumsi umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ada satu tokoh penting yang tampak-tampaknya "tidak begitu setuju" dengan asumsi orang-orang tentang telah tersusunnya &lt;i&gt;ketertiban urutan, kepersisan, dan kelengkapan ayat-ayat tersebut&lt;/i&gt;. Orang itu tak lain tak bukan adalah &lt;i&gt;Zaid bin Tsabit&lt;/i&gt;, juru tulis utama dari Muhammad sendiri. Walau dirinya juga penghafal dan pencatat ayat-ayat, namun ia toh merasa begitu tidak yakin ketika dimintai oleh Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Quran dan menyusunnya secara urut, tertib, utuh dan benar. Hal ini bisa dimengerti mengingat terdapat begitu banyak lepasan-lepasan ayat yang "direkam" sendiri-sendiri pada daun, batu, tulang, pelepah, kulit, kayu dan ingatan-ingatan di otak diantara tiap individu-individu yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kerisauan zaid yang amat sangat ini tentu harus diartikan bahwa ayat-ayat yang ada masih sangat "berserakan" dan sama sekali tidak mudah dihimpun dalam &lt;i&gt;aturan "pewahyuan langsung" yang tidak mentolerir kesalahan yang terkecil sekalipun!&lt;/i&gt; Itu sebabnya Zaid menjawab permintaan Abu bakar dengan kata-kata yang mencerminkan luar biasa berat tugas tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Demi Allah! Ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al Quran yang engkau perintahkan itu" (&lt;i&gt;Al Quran Dan Terjemahannya, &lt;/i&gt;Departemen Agama RI, Muqaddimah, hal 23)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hanya dengan bujukan dan permintaan yang kuat dari pemimpin pemerintahan, maka akhirnya Zaid menerima tugas raksasa ini. Akhirnya ia berhasil menghimpun naskah Quran dalam lembaran-lembaran tertulis &lt;i&gt;untuk pertama kalinya&lt;/i&gt; dalam tahun 12 H. Lembaran-lembaran "naskah Abu Bakar" inilah yang &lt;i&gt;dianggap lengkap dan resmi sepanjang 2 Khalifah pertama&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dan seterusnya ia disimpan oleh Hafsah (puteri Umar dan istri Muhammad), hingga digantikan oleh Mushaf Utsman di tahun 26 h, sejak dekrit Utsman dikeluarkan untuk memusnahkan semua naskah-naskah Quran yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tetapi disamping koleksi naskah Abu Bakar/Hafsah ini, terdapat pula koleksi-koleksi tertulis lainnya yang berwibawa seperti koleksi naskah &lt;i&gt;Ali bin thalib&lt;/i&gt;, juga &lt;i&gt;Ubai bin Ka’b&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Ibn Mas’ud&lt;/i&gt;. Mereka adalah tokoh dan sahabat-sahabat Muhammad yang paling dekat yang adalah saksi-saksi mata dan telinga dari segala apa yang diucapkan Muhammad. Mereka sendiri-sendiri menyusun koleksi ayat-ayat seperti apa yang mereka dengar dari Muhammad, diingat, dicatat, ataupun disalin diantaranya dari pemilik ayat lainnya. (&lt;b&gt;TQTB, hal 110&lt;/b&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan dekrit Utsman, maka koleksi Ali dan Ubai segera termusnah. Namun &lt;i&gt;koleksi Abu Bakar/Hafsah&lt;/i&gt; belum bisa dibakar pada waktu itu karena Utsman sendiri masih terikat dengan sumpahnya untuk mengembalikannya kepada Hafsah setelah dipinjamnya dalam rangka standarisasi naskah oleh panitia Zaid. Dari kutipan &lt;i&gt;Kitab Al-Masahif oleh Ibn Abi Dawud (isnad Salim bin Abdulla&lt;/i&gt;)&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; Dr. Campbell menulis sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Setelah Utsman meninggal, &lt;i&gt;Marwan &lt;/i&gt;yang gebernur Medina itupun mengirim utusan kepada Hafsah untuk menuntut pemusnahan koleksi ini. Hafsah menolak dan mempertahankannya hingga akhir hayatnya. Namun Marwan begitu bernafsu untuk mendapatkannya, sehingga ketika Hafsah meninggal, sebegitu selesai melayati penguburannya, Marwanpun segera mengirim utusan untuk mendapatkan &lt;i&gt;koleksi Abu Bakar &lt;/i&gt;itu Akhirnya kakak Hafsah (Abdullah bin Umar) mengirimkannya juga kepada Marwan, dan musnahlah koleksi naskah yang paling primer ini dibawah perintah Marwan."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lalu bagaimana dengan koleksi naskah Ibn Mas’ud?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Walau perintah pemusnahan telah dikirim oleh Utsman kepada Ibn Mas’ud di Irak namun Mas’ud – seperti halnya Hafsah – menolak untuk membakar naskahnya (walau akhirnya hilang di masa Ijtihad (&lt;b&gt;TQTB, hal 118,121&lt;/b&gt;). Kenapa berani menolak?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;*). Hadis Shahih Bukhari V, hal 96,97 dan Hadis Shahih Muslim IV, hal 1313 dimana nama Ibn Mas’ud disebut paling pertama oleh Muhammad diantara 4 orang yang pantas mengajar mengaji Quran: "&lt;i&gt;Belajarlah mengaji Quran dari 4 orang: dari Abdullah bin Mas’ud, Salim – budak Abu Hudaifa yang telah dibebaskan, Mu’ad bin Jabal’, dan Ubai bin Ka’b"&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Tentu saja karena ia merasa naskahnyalah yang paling berwibawa. Dan hal ini tidak bisa dikatakan salah karena tradisi memang mengatakan kepada kita bahwa diantara pengikut-pengikut Muhammad maka Ibn Mas’ud-lah yang dianggap Muhammad mempunyai otoritas terbaik mengenai teks dan mengaji Al Quran.*).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Ibn Mas’ud –lah yang termasuk salah satu dari guru-guru mengaji yang paling awal. Dia pulalah yang menjadi saksi mata yang hadir atas 2 peperangan penting bersama Muhammad, yaitu perang Badar dan Uhud. Ia juga yang mendemonstrasikan mampu mengaji hingga lebih dari 70 Surat dalam suatu acara khusus yang juga dihadiri Muhammad, dan tidak ada seorangpun dari yang hadir disitu yang menyalahkan pengajiannya (&lt;b&gt;Hadis Shahih Muslim IV, hal 1312&lt;/b&gt;).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Dan koleksi naskah Ibn Mas’ud yang dianggap berotoritas itu ternyata berbeda teks dengan naskah-naskah lainnya, termasuk berbeda dengan naskah Abu Bakar/Hafsah (J&lt;b&gt;ohn Gilchrist, &lt;i&gt;The Textual History of the Quran and the Bible&lt;/i&gt;, Villach, Light of Life, 1988, hal 18&lt;/b&gt;). Dalam perselisihan mempertahankan keabsahan naskah masing-masing, tradisi mencatat bahwa antara sesama Muslim (tentara-tentara Irak yang pro koleksi Ibn Mas’ud dan tentara-tentara Syria yang pro koleksi Ubai) sampai saling menuduh pihak yang lainnya sebagai &lt;i&gt;tidak beriman&lt;/i&gt;. (&lt;b&gt;TQTB, hal 111).&lt;/b&gt; Tuduhan "kafir" ini tentunya tidak akan diberikan bilamana perbedaan-perbedaan naskah diantara pihak-pihak yang berselisih itu hanyalah marginal dan tidak dianggap sebagai serius.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Arthur Jefferey, seorang arkeolog terkemuka Eropa menulis buku berjudul "&lt;i&gt;Materials for the History of the Text of the Quran&lt;/i&gt;", dimana ia menyingkapkan semua perbedaan teks naskah primer Quran &lt;i&gt;sebelum&lt;/i&gt; distandarisasi oleh Utsman.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Jefferey memaparkan bahwa perbedaan bacaan bukanlah semata-mata dalam &lt;i&gt;masalah ejaan atau dialek&lt;/i&gt; (seperti yang sering diperdengarkan oleh orang-orang Muslim) melainkan menyangkut pula anak kalimat, atau bahkan kalimat penuh sehingga Jefferey menyimpulkan "&lt;i&gt;amat jelas bahwa teks Mushaf yang dikanonisasi oleh Utsman hanyalah salah satu dari banyak teks tandingan&lt;/i&gt;. (&lt;b&gt;N.L. Geisler &amp;amp; Abdul Saleeb, &lt;i&gt;Answering Islam&lt;/i&gt;, Michigan, backer books, 192&lt;/b&gt;)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Mengejutkan bahwa ditemukan begitu banyak teks koleksi Mas’ud yang berbeda dengan naskah-naskah lain (termasuk beda dengan naskah Abu bakar/Hafsah) sehingga diperlukan tidak kurang dari 90 halaman bagi Jefferey untuk memaparkannya dalam bukunya (mulai halaman 24 s/d 114). Dalam Surat A Baqarah saja terdapat tak kurang dari 149 kasus dimana teks Ibn Mas’ud berbeda dengan koleksi naskah-naskah lain, khususnya teks dari koleksi Abu Bakar/Hafsah. (&lt;b&gt;John Gilchrist, hal 19&lt;/b&gt;).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Cerita tentang bukti-bukti perbedaan naskah dapat memprihatinkan atau mengagetkan. Kita petikkan beberapa saja secara ringkas. Misalnya ada &lt;i&gt;kelainan-kelainan urutan Surat-surat&lt;/i&gt;, antara lain koleksi Ali bin Abi Thalib bukan dimulai dengan &lt;i&gt;Surat 1&lt;/i&gt; tetapi mulai dengan &lt;i&gt;Surat 96&lt;/i&gt; secara kronologis menuruti pewahyuan. Di lain pihak koleksi Mas’ud, dimulai dengan Surat 2 lalu 4, lalu 3, Surat 1, 113, 114 tidak terdapat di dalamnya (&lt;b&gt;YQYB, hal 110&lt;/b&gt;). Dan ketika ia diminta untuk menyamakan pola penulisannya seperti Mushaf Utsmani, maka Ibn Mas’ud merasa jengkel dan berkata: "Apakah saya harus meninggalkan apa yang saya peroleh langsung dari mulutnya Nabi Allah? Demi Allah, saya telah &lt;i&gt;memetik&lt;/i&gt; dari mutunya sekitar 70 Surat. Demi Allah, para pengikut Nabi telah tahu bahwa saya paling terdidik dalam pengetahuan tentang Kitab Allah. (&lt;b&gt;The True Guidance, part IV, An introduction to Qurania Studies, Light of Life, Villach, Austria, hal 58,59&lt;/b&gt;). Dengan perkataan lain, Ibn Mas’ud menolak pembakuan teks Utsmani karena tidak dianggap mewakili kesempurnaan teks Allah. Paling tidak ke-70 Surat yang langsung diperoleh Ibn Mas’ud dari mulut Nabi sendiri, dan yang telah didemonstrasikan pengajiannya di muka Nabi (tanpa disanggah oleh para hadirin yang mendengarnya), haruslah dianggap &lt;i&gt;purna-otentik dan berotoritas sebagai ayat-ayat Allah&lt;/i&gt;. Hal ini diperkeras dengan fakta-fakta sejarah tentang latar belakang kematian Utsman menyusul tindak standarisasinya terhadap teks Quran.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"… tetapi ia (Utsman) menimbulkan perlawanan hebat, jauh lebih hebat daripada yang mungkin diduganya. Lawan-lawannya dengan sangat keras dapat membantah bahwa karena &lt;i&gt;Amirul Mu’minin&lt;/i&gt; (khalifah) sama sekali tidak dimaksudkan untuk memiliki otoritas atau pandangan yang lebih besar daripada orang muslim lainnya, dia tidak memiliki otoritas untuk menetapkan edisi Al Quran yang dibukukan itu. Dengan perkataan lain, mereka mengemukakan, Utsman secara tidak benar menggunakan kekuasaan keagamaan yang tidak dimilikinya… Menjelang akhir masa pemerintahannya, perlawanan ini telah menjadi sedemikian kuatnya sehingga orang-orang yang merasa berhutang budi kepadanyapun terpaksa menentang kebijakan-kebijakannya. Akhirnya suatu utusan yang terdiri dari beberapa ratus orang angguta suku-suku dari Irak dan juga dari Mesir dalam jumlah yang sama datang dari Medinah untuk menuntut penyelesaian terhadap hal-hal yang meresahkan mereka … setelah terjadi perdebatan, diskusi dan perbedaan pendapat yang diwarnai kemarahan dan tanpa hasil selama hamper 50 hari, orang-orang Mesir menyerbu masuk dan membunuh orang tua malang (Utsman), yang ditinggal pergi oleh para pengikutnya dari Medinah itu" (MA. Shaban, Sejarah Islam, Raja Grafindo Persada, 1993, hal 100-101, petikan dari Balazuri, Ansab, Vol V;28, 59-105, dan Tabari I:2941-3050).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Juga mendatangkan perselisihan kenapa dalam Quran sekarang ini tidak terdapat satu ayatpun tentang perajaman batu bagi orang-orang yang kedapatan berzinah (sementara Taurat dan Injil masih membicarakannya, walau dalam legalitas yang berbeda). Padahal khalifah Umar selama pemerintahannya menyatakan bahwa ada beberapa ayat yang diucapkan oleh Muhammad semasa hidupnya, yang mengharuskan perajaman terhadap pelaku-pelaku zinah (lihat Ibn Ishaq, &lt;i&gt;Sirat Rasulullah&lt;/i&gt;, hal 684 – John Gilchrist, hal 16,17).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Sebagian ahli mempertanyakan apakan ayat-ayat tersebut mungkin di &lt;i&gt;nasakh-kan&lt;/i&gt; (ganti ayat pewahyuan) dengan QS 24:2? Tetapi siapa yang menasakhkannya?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Tetapi yang memprihatinkan dan mengagetkan tetaplah perintah penghancuran naskah-naskah Quran yang paling primer oleh Utsman. Pemusnahan yang diperintahkan ini mau tidak mau mengundang orang yang paling tidak berprasangkapun untuk bertanya tentang &lt;i&gt;ada apa dibalik pemusnahan naskah-naskah tersebut oleh pemuka-pemuka Islam sendiri sehingga naskah primer yang telah dikumpulkan lebih awal itu tidak dibiarkan hadir dalam keasliannya?&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Jangankan pada tingkat "&lt;i&gt;pelestarian Kalimat Allah&lt;/i&gt;" seperti ini, sedang pada tingkat "&lt;i&gt;pelestarian benda-benda arkeologi&lt;/i&gt;" pun para ilmuwan tidak membenarkan pemusnahan materi primer yang terkecil sekalipun!&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Dr. Champbell mengungkapkan selanjutnya bahwa andaikata koleksi naskah-naskah primer itu tidak dimusnahkan, maka paling tidak dunia mempunyai &lt;b&gt;satu Quran&lt;/b&gt; dengan &lt;i&gt;4 testimoni primer&lt;/i&gt; (penyaksian awal-awal) yaitu dari para penyaksi yang sangat berotoritas seperti Ali, Ubai, Ibn Mas’ud dan Zaid/ Abu Bakar/Hafsah. Dan hal ini mirip seperti &lt;b&gt;Injil&lt;/b&gt; yang memang &lt;b&gt;satu&lt;/b&gt;, namun telah di &lt;i&gt;testified&lt;/i&gt; oleh 4 penulis Injil yang berbeda, dibimbing oleh pengilhaman Roh Tuhan. Ke 4 penulis Injil masing-masing telah menulis Injil menurut kesaksian-kesaksian langsung baik yang diperoleh dari dirinya sendiri sebagai saksi mata, maupun dari orang-orang lain yang menjadi saksi mata langsung, ditambah dengan pengilhaman Roh Kudus &lt;i&gt;demi memfinalkan otoritas penulisan menjadi sebuah Firman Tuhan yang dipersaksikan&lt;/i&gt; !&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Itu sebabnya "keempat Injil" (atau persisnya "Injil yang ditulis oleh 4 penulis") itu tetap dibiarkan berdiri sendiri-sendiri membentuk satu Kesatuan Injil yang tidak terpisahkan, sekalipun pada permukaannya, sesekali tampak seperti ada kontradiksi di antara keempatnya (yang kelak ternyata hanyalah kontradiksi semu belaka!)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Bapak-bapak Gereja-awal tidak butuh, tidak berniat, dan tidak berani untuk menyusun baru dari apa yang &lt;i&gt;asli "4 kesaksian Injil"&lt;/i&gt; menjadi "&lt;i&gt;1 Injil bacaan baru" hasil standarisasi manusia belaka. Apalagi kalau 4 Injil teks asli itu mesti dimusnahkan, APAPUN ALASANNYA!&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Kini tentu saja Sejarah Tekstual Quran akan menghadapi sederetan pertanyaan logis apa yang dilakukan oleh Khalifah Utsman:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;1. Jikalau asumsi para muslim benar, bahwa teks Allah memang sudah hadir tersusun tertib, benar, lengkap dan sah dikala ada Muhammad, lalu mengapa Zaid beranggapan bahwa mengumpulkan Quran yang sudah "siap" itu adalah lebih berat kerjanya ketimbang memindahkan sebuah bukit? Lebih jauh lagi kenapa Utsman masih perlu-perlunya menstandarkan sebuah teks umum jikalau teks standar memang sudah hadir dalam keaslian?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;2. Kenapa Teks-Allah yang sudah tergores dalam &lt;i&gt;lauhul mahfuzh&lt;/i&gt; yang diturunkan dalam bahasa Arab yang terang dan terpelihara itu (QS 16:103, 15:9) ternyata harus melewati pelbagai tahap yang terkesan "kurang terang" dan "kurang terpelihara" karena &lt;i&gt;harus dihilangkan/dimusnahkan untuk yang satu, dan disusun baru untuk yang lain tanpa disaksikan Muhammad?&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;3. Kenapakah, atau ada masalah apakah dibalik dua kali penyusunan yang harus dilakukan oleh &lt;i&gt;Zaid&lt;/i&gt; dimana justru &lt;i&gt;naskah-naskah yang sah dan lebih tua/primer itu tidak diizinkan exist sebagai saksi sejarah dan keotentikan?&lt;/i&gt; Bukankah penghancuran seluruh naskah-naskah primer itu makin membenarkan dugaan bahwa panitia penyusun naskah &lt;i&gt;tidak cukup percaya diri atas "kemutlakan-kebenaran" naskah yang satu terhadap naskah yang lain?&lt;/i&gt; Di dalamnya terkandung &lt;i&gt;masalah-masalah yang serius&lt;/i&gt; yang tidak bisa diserasikan kecuali harus dihilangkan dengan dekrit pemusnahan?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;4. Siapakah di antara para ahli yang telah menunjukkan bahwa naskah Abu Bakar/Hafsah adalah satu-satunya koleksi yang paling sempurna dibandingkan dengan naskah-naskah lain? Atas dasar apakah koleksi ini dianggap lebih layak daripada naskah Ibn Mas’ud?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;5. Bila Muhammad telah menegaskan (tercatat dalam hadis Shahi Bukhari dan Muslim yang dianggap terpercaya) agar orang-orang belajar mengaji dari 4 ahli, diantaranya Ibn Mas’ud, maka atas dasar apakah justru peran dan koleksi Ibn Mas’ud ini tidak disebut-sebut dan juga tidak diikut sertakan dalam standarisasi penyusunan teks Quran?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;6. Kenapa banyak pihak merasa tidak puas bahkan menolak teks Utsman dan tetap mempertahankan teks mereka sendiri? Bahkan kematian Utsman pun adalah akibat dari penolakan tersebut?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;7. Atas wewenang yang diberikan siapakah maka Utsman merasa berhak untuk memusnahkan &lt;i&gt;Kalimat-kalimat Allah&lt;/i&gt; yang telah dipercayakan Muhammad kepada beberapa sahabat-sahabatnya yang terbukti ahli mengajar mengaji?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;8. Dengan kejadian ini, bagaimana pengertian "&lt;i&gt;wahyu yang langsung, mutlak dan final"&lt;/i&gt; harus diartikan kepada Al Quran? Karena kriteria "langsung, mutlak dan final" inilah maka dibutuhkan sebuah manuskrip Quran yang utuh siap pakai yang ditinggalkan oleh Muhammad &lt;i&gt;langsung&lt;/i&gt; kepada masyarakatnya. Hanya dari beliau sendirilah pantas dimushafkan sebuah Quran secara &lt;i&gt;final&lt;/i&gt;, dan tidak dibiarkan untuk difinalkan oleh orang-orang lain tanpa kehadirannya.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Dengan membiarkan ayat-ayat lepas (di antara tulisan-tulisan pada daun, kulit, batu, tulang, ingatan-ingatan penghafal ayat, dan lain-lain) untuk dimanuskripkan "final" oleh gagasan-gagasan orang lain (Umar dan Abu Bakar) tanpa penyaksian Muhammad, dimana naskah ini harus dimusnahkan sesudah "difinalkan" lagi dalam mushaf Utsman, tentulah hal ini mengundang persoalan tentang &lt;i&gt;definisi keaslian, langsung, finalitas dan kemutlakan &lt;/i&gt;Kitab Quran itu sendiri (catatan: Definisi &lt;i&gt;keaslian naskah &lt;/i&gt;Kitab Suci selalu menuntut keabsahan kehadiran &lt;i&gt;saksi mata langsung dari Firman&lt;/i&gt; (sebagai penulis atau penyaksi), dan ini tidak bisa diwakilkan &lt;i&gt;in-absensia&lt;/i&gt;. Jadi bukan sekedar "asli" dalam artian "&lt;i&gt;tidak ada perubahan tekstual"&lt;/i&gt; atau "&lt;i&gt;salinan asli&lt;/i&gt;"). Sebab bukankah hal ini memberikan pembenaran bagi kesimpulan para ahli yang mengatakan bahwa: "&lt;i&gt;Sekalipun Quran sekarang ini benar merupakan salinan yang sempurna terhadap mushaf Utsman di abad ke 7, namun tidaklah benar bahwa itu merupakan salinan asli persis seperti yang diwariskan oleh Muhammad"&lt;/i&gt; (N.L. Geisler &amp;amp; Abdul Saleeb, &lt;i&gt;Answering Islam&lt;/i&gt;, Michigan, Baker Books, 1995, hlm 191).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Naskah asli hanya pantas dimusnahkan lawan bukan kawan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Alkitabmu korup!" Itulah tuduhan yang sering kita dengar. Apa jawaban kita? Sederhana saja: Sekalipun Alkitab mengalami di sana-sini perbedaan bacaan pada naskah salinannya, namun berlainan dengan Quran, perbedaan-perbedaan tersebut tetap dibiarkan eksis demi kebenaran. Tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa naskah atau salinan Alkitab dimusnahkan oleh &lt;i&gt;orang-orang kalangan sendiri&lt;/i&gt;. Yang ada justru dimusnahkan &lt;i&gt;lawan-lawan, musuh-musuh&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;pendengki&lt;/i&gt; Alkitab seperti halnya oleh Kaum Yahudi dan kerajaan Romawi awal-awal abad Masehi.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Kini menjadi pertanyaan terbuka, dimanakah di dunia ini bisa kita temukan Kitab-kitab yang &lt;i&gt;mutlak asli&lt;/i&gt; bagi Taurat, Injil dan Quran? Dari sejumlah bincang-bincang kami dengan teman-teman Muslim, ternyata mereka "sangat sadar" bahwa Taurat dan Injil tidak memiliki manuskrip mutlak asli, namun pada waktu yang sama mereka "sangat tidak sadar" bahwa Quranpun tidak memiliki wujud keaslian mutlak. Terlebih-lebih tidak pernah menyangka bahwa keaslian susunan Utsmanpun sempat mendapat tantangan para ahli!&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Ketika ditanya "Apakah memang ada naskah Quran yang asli?", maka mereka menjawab dengan yakin: "Ada!" dan ketika ditanya lagi "dimanakah itu disimpan?" maka mereka seolah tersentak lalu memberikan jawaban yang kabur. Bahkan pengkritik pakarpun menjawabnya dengan spekulatif! Masyhud dalam bukunya "Dialog Santri-Pendeta" (hlm 163) tertulis dengan huruf tebal-tebal sebagai berikut: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Alquran yang asli ini ada di Museum London&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Maka kita ingin bertanya: Apakah Alquran asli itu maksudnya asli dari lempengan-lempengan tulisan semasa Muhammad hingga tahun 632 M? (10 H) atau asli koleksi Abu Bakar/Hafsah tahun 12 H? atau asli Mushaf Utsmani, tahun ± 650 M (26-30 H) Atau lainnya? Soalnya di &lt;i&gt;British Library&lt;/i&gt; cuma terdapat copy dari Quran dengan penanggalan tertua tahun ± 770 M, dan itupun sampai saat ini dianggap sebagai tanggal tertua bagi copy Quran yang lengkap, walau sudah melewati &lt;b&gt;160 tahun&lt;/b&gt; sejak pewahyuan pertama diturunkan bagi Muhammad (TQTB halaman 146, 157, 158).&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;JIKALAU BENAR PERNAH ADA INJIL HAKIKI ISLAMI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Apabila penuduhan tentang pemalsuan dan pelenyapan Alkitab Hakiki dipaksakan terus, maka &lt;i&gt;konsekwensi pahit&lt;/i&gt; akan menimpa balik para penuduhnya dengan tidak alang-kepalang. Para penuduh terlalu sering melemparkan isu-isu dengan mendasari potongan-potongan lepas "fakta-fakta" atau ayat-ayat tertentu yang diplintir-plintirkan demi &lt;i&gt;mengalurkan&lt;/i&gt; suatu kelogisan semu untuk dicocokkan kepada &lt;i&gt;basic asumptionnya&lt;/i&gt; bahwa "Injil itu palsu". Namun prosedur ini bukanlah suatu pembuktian. Karena &lt;i&gt;alur kelogisannya&lt;/i&gt; kalau diteruskan dengan fakta lain (yang diam-diam dianggap tiada/disembunyikan), justru akan memunculkan konsekwensi-konsekwensi yang tidak terselesaikan. Mari kita memperlihatkannya dengan meminjam model peng-andaian "jikalau" seperti yang sering dimanfaatkan oleh para pengkritik sendiri dalam mengalurkan kelogisannya:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;A. Vakum – Wahyu&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Jika memang benar Allah telah mengirim Kitab Taurat, Injil dan Quran dan ketiganya dinyatakan &lt;i&gt;ada, benar dan perkataan Allah tidak akan berubah&lt;/i&gt; (QS. Yunus 10:64) &lt;i&gt;dan tidak tertukarkan&lt;/i&gt; (Al Anam 34), maka kenapakah Allah &lt;i&gt;gagal mengamankan &lt;/i&gt;Taurat dan Injil, sehingga menjadi hilang (seperti yang dituduhkan oleh para pengkritik) sehingga terjadi &lt;i&gt;kekosongan wahyu&lt;/i&gt; (vakum wahyu) &lt;i&gt;yang begitu lama &lt;b&gt;di seluruh dunia&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yaitu antara abad-abad permulaan Masehi hingga turunnya Quran pada abad ketujuh. Siapakah yang mempercayai bahwa Allah baru tergerak hati untuk mengutus malaikat Jibril kedua kalinya &lt;i&gt;sesudah wahyu Allah dihilangkan dan disesatkan oleh si jahil selama 600 tahun?&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;Utusan pertama&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; adalah ke &lt;i&gt;Nazaret&lt;/i&gt;, ketika malaikat &lt;b&gt;Gabriel&lt;/b&gt; menemui Maria dengan membawa berita "kesukaan besar untuk seluruh bangsa", dengan menegaskan sebanyak dua kali bahwa Yesus itu Anak Tuhan:&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya engkau akan … melahirkan seorang anak laki-laki … (yang) akan disebut &lt;b&gt;Anak Tuhan yang Mahatinggi&lt;/b&gt; … anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut &lt;b&gt;kudus, Anak Tuhan&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; (Lukas 1:31;,32,36).&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;Utusan kedua &lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;adalah ke &lt;i&gt;Mekah&lt;/i&gt; di amna &lt;b&gt;Jibril&lt;/b&gt; menemui Muhammad dengan berita yang total berlawanan:&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt; …"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; (QS. 19:35) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;(Namun Kitab Suci memberitahukan kita bahwa kunjungan &lt;b&gt;Gabriel&lt;/b&gt; kepada Maria diikuti dengan bukti tentang Sang Anak, hal mana juga dibenarkan Quran, dan betul ia melahirkan seorang putra secara ajaib, dari Roh Tuhan dan KalimatNya. Sementara kunjungan &lt;b&gt;Jibril&lt;/b&gt; kepada Muhammad tidak disertai dengan bukti/saksi luar)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Maka bukan saja terjadi &lt;i&gt;vakum-wahyu&lt;/i&gt; dalam hal ini, melainkan sebuah wahyu sesat yang teramat penting telah dibiarkan Allah untuk "berfirman" sendirian secara efektif selama 600 tahun, sebelum Allah menegakkan kembali KalimatNya dari kesesatan.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Mungkinkah wahyu Allah bisa &lt;i&gt;dikosongkan sedunia selama berabad-abad&lt;/i&gt;, sekali ia sudah diturunkan kepada Musa dan Isa? Bukankah ia malahan akan makin meluas menjalar dan menggejala sekalipun ia dibakar, dilarang, dihukum dan sebagainya? Sebab kalau kita percaya bahwa Firman tuhan itu berkuasa, maka tidak ada kuasa lainnya yang mampu mengosongkan firman-Nya yang "ditakdirkan" untuk &lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;go internasional-go universal!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;i&gt;"Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Tuhan kita tetap untuk selama-lamanya" &lt;/i&gt;(Yesaya 40:8).&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;"Demikian firmanKu yang keluar dari mulutKu, ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia"&lt;/i&gt; (Yesaya 55:11).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;"Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa dan akan mengutus dari antara mereka orang-orang yang terluput kepada bangsa-bangsa, yakni Tarsis (Spanyol), Pul dan Lud (Etiopia), ke Mesekh dan Rosy, ke Tubal dan Yawan (Yunani), ke pulau-pulau yang jauh yang belum pernah melihat kemuliaanKu, supaya mereka memberitakan kemuliaanKu di antara bangsa-bangsa&lt;/i&gt; (Yesaya 66:18,19).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Jadi baik menurut pengertian Islam, maupun Kristen, Tuhan tidak akan hanya mengamankan wahyu-Nya untuk disimpan dalam museum, atau terlebih-lebih mengosongkannya dari sejarah dunia, melainkan PASTI akan meluaskan &lt;i&gt;distribusi Firman&lt;/i&gt; sampai menjangkau segala bangsa-bangsa.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Injil Hakiki vs Injil Palsu (I)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Marilah kita merenungi suatu kebenaran yang sederhana bahwa tidaklah mungkin "Injil Hakiki" hilang lenyap, sementara "Injil Palsu" diberkati Tuhan dengan pemerataan kehadirannya ke segala bangsa! Apapun silat lidah orang, &lt;i&gt;yang dapat lenyap adalah barang yang fana, namun Firman Tuhan adalah baka&lt;/i&gt;.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Disamping kaidah sederhana di atas, kita masih pula diyakinkan dengan kaidah kedua yang tidak terbantah, berkaitan dengan nubuat Yesus hampir 2000 tahun yang lalu yang kini digenapi secara tepat nan ajaib.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Injil Hakiki vs Injil Palsu (II)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Walau Kitab Suci dan Kitab Palsu kedua-duanya dapat tersebar luas ke segala penjuru, namun suatu Kitab Suci &lt;i&gt;pastilah bukan Injil bilamana ia tidak dapat tersebar ke seluruh suku dan bangsa,&lt;/i&gt; karena itulah yang ternubuat untuk "nasibnya" sebuah Injil Yang Benar:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada &lt;i&gt;semua bangsa&lt;/i&gt;" (Markus 13:10)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan &lt;i&gt;di seluruh dunia&lt;/i&gt; menjadi kesaksian bagi &lt;i&gt;semua bangsa&lt;/i&gt;, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (akhir zaman/kiamat) (Matius 24:14).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Dan apa kenyataannya sekarang? Yang dianggap sebagai "Injil Hakiki" tersebar senyap ke dunia "antah berantah". Namun yang dianggap sebagai "Injil Palsu" telah tersebar praktis ke seluruh suku dan bangsa. Tercatat hari ini Alkitab sudah tersebar dalam 2123 bahasa dunia bagi segala suku bangsa.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Baiklah para pengkritik juga menyadari dengan tidak berprasangka bahwa Tuhan pasti tidak HANYA akan mengamankan Quran dan tidak wahyu-wahyu lainnya, sebab Quran sendiri menyatakan bahwa kesemuanya sama-sama kalimat Allah yang dibenarkan yang tersimpan dalam induk Alkitab di sisi Allah (lihat QS Az Zukhruf 43).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;B. Dua Nabi Besar Dengan Hasil Kerdil&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Jika Allah gagal mengamankan "Alkitab Hakiki" itu dari kelancangan-kelancangan orang-orang kafir (seperti halnya yang dituduhkan pengkritik Alkitab) lalu apa perlu-perlunya Allah mengutus Yesus? Bukankah kepada Yesus diturunkan Injil (Hakiki) yang dikatakan mirip dengan Taurat itu karena &lt;i&gt;diasumsikan secara dangkal bahwa &lt;/i&gt;Yesus mengajar Taurat, melakukan Taurat, dan tidak mengubah Taurat). Tetapi manakah Injil Hakiki tersebut? Begitukah Tuhan yang MahaKuasa merancang semesta rencana, namun begitu gagal menampilkan ujud FirmanNya sendiri (dalam bentuk Kitab Taurat dan Injil Hakiki)? Terlalu sulit untuk mempercayai sesuatu yang tidak dinubuatkan baik oleh Yesus dan Muhammad, bahwa Allah merelakan FirmanNya yang berwibawa itu untuk di depak manusia durhaka dan hilang selama ribuan tahun dan terus hilang sampai sekarangpun!&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Bukankah mengutus Nabi Yahya saja sudah lebih dari cukup untuk memberi peringatan kepada kaumnya (bangsa Israel) agar menyembah Allah yang Esa dengan syariah dan ibadah cara Taurat?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Ingat, bahwa Nabi Yahya diakui secara khas oleh Quran, dan oleh Injil disebut-sebut sebagai Nabi di atas Nabi (Matius 11:9-11). Namanya malahan diberikan langsung oleh Allah lewat Jibril! Jadi semestinya ia cukup mampu untuk mengemban jenis peran kenabian yang tadinya dibawakan Isa, kalau misi Isa dianggap hanya terbatas untuk mengamankan &lt;i&gt;Taurat&lt;/i&gt; atau "&lt;i&gt;Taurat-Plus"&lt;/i&gt; yang diasumsikan sama dengan Injil Hakiki belaka.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Sungguh tidak efektif karya Allah sekali ini ketika Dia mendampingkan dua Nabi besar dalam satu kurun waktu yang sama tetapi yang &lt;i&gt;kedua-duanya toh tidak berhasil mengamankan Injil (dan Taurat) "Hakiki"&lt;/i&gt;, melainkan hanya untuk menelorkan pada akhirnya suatu "Injil Palsu" yang menyesatkan miliaran manusia ciptaanNya? Siapa yang bisa membantah bahwa kerisauan kita yang satu ini tidak beralasan? Dan bagaimana persoalan ini harus dijawab?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Baiklah kita mengkonfrontasikan intelegensi kita terhadap suatu fakta keras bahwa &lt;i&gt;jikalau Allah sampai mendatangkan 2 Nabi Besar dalam 1 kurun waktu, maka pastilah zaman tersebut dianggap sangat penting dan teramat vital oleh Allah.&lt;/i&gt; Tiada tolak bandingannya duanya! Tetapi apa pula &lt;i&gt;vitalnya&lt;/i&gt; kalau Isa dalam Injil Islami itu hanyalah manusia nabi yang gagal misiNya? Yang malahan disinis oleh pengkritik sebagai "&lt;i&gt;Tuhan&lt;/i&gt;"&lt;i&gt; yang lemah dengan operasi dakwah yang jemu dan salah masa?&lt;/i&gt; (IQMB halaman 158). Ketika Injil dinyatakan hilang atau tidak bisa dipercayai, maka tampak bahwa Islam tidak mempunyai jawaban apapun mengenai tentang pembagian peran dan karya kenabian di antara Yahya dan Isa bagi umat Israel. Sehingga kita tidak terkejut mendapati kedua Nabi Besar ini dinilai berakhir dengan kekalahan dengan istilah &lt;i&gt;"operasi dakwah-Nya yang jemu dan salah masa"&lt;/i&gt;.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Syukurlah Injil Doktrinal telah menerangkan misiNya secara amat berbeda dan amat menghibur dengan KABAR BAIKNYA yang berkemenangan:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Akulah gembala yang baik… Aku memberikan nyawaku bagi domba-dombaKu… Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali (bangkit kembali)…" (Yohanes 10:14, 15, 17)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"… Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Jadi itulah Yesus yang datang dengan peran khusus untuk menebuskan nyawaNya demi menyelamatkan umat manusia secara berkepastian dan berkemenangan. Sedangkan Yahya sengaja diutus untuk mempersiapkan bagi Tuhan Yesus seuatu umat yang layak bagiNya (Lukas 1:17). Serta menyaksikan dua kebenaran utama, &lt;b&gt;&lt;i&gt;doktrin Injil (A) bahwa Yesus itu Anak Tuhan, dan doktrin Injil (B) bahwa Yesus mati disalib untuk pengampunan dosa manusia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Dan benarlah, Yohanes berkata: "&lt;i&gt;Ia inilah Anak Tuhan" &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;"Lihatlah Anak Domba Tuhan, yang menghapus dosa dunia"&lt;/i&gt; (Yohanes 1:29, 34).&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Jadi, dua Nabi Besar yang sengaja diutus "berdampingan" dalam satu kurun waktu, pasti dimaksudkan untuk menunaikan sebuah rencana Tuhan yang tiada bandingan. Dan itulah yang telah terjadi dengan persisinya: &lt;i&gt;the grand mission accomplished!&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;C. Isa Yang Kehilangan Segala-galanya&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika Yesus dilahirkan, gegap gempitalah bala tentara surga (malaikat) memberi puji-pujian bagi Tuhan. Lalu berkatalah seorang malaikat Tuhan (Jibril) kepada para gembala: "&lt;i&gt;Aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa; Hari ini telah lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud"&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Siapakah diantara orang-orang beriman yang meragukan seruan &lt;i&gt;malaikat Tuhan di hadapan umum?&lt;/i&gt; Tidak ada yang berani, bukan? Kalau begitu kita harus mencoba untuk percaya bahwa kita telah diberi Injil (yaitu Kabar Baik) tentang seorang Juruselamat, Kristus Yesus sendiri. Janganlah kita membutakan hati dengan tetap memaksa diri untuk berkutat percaya bahwa Injil Kristus itu &lt;i&gt;hilang&lt;/i&gt;, sesuatu yang justru tidak terwahyu di Quran. Pendalih-pendalih yang terus mencoba menyodorkan kekaburan bahkan ketiadaan Injil itu hanyalah orang-orang yang ingin mencari &lt;i&gt;pembenaran-diri&lt;/i&gt;, bukan mencari &lt;i&gt;kebenaran&lt;/i&gt; itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang terlanjur alergi terhadap Injil dan otoritas Yesus Kristus. Namun teori-teori pengaburan dan penghilangan itu justru memukul balik keras dan telak dengan apa yang disebut &lt;i&gt;Teori Tiga Hilang yang mustahil&lt;/i&gt;:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;Teori Tiga Hilang&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;1. Isa pribadi &lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;yang &lt;i&gt;berbadan manusia normal, mendadak &lt;b&gt;hilang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; lenyap tanpa jejak, tanpa saksi, yaitu ketika disalibkan (atau bahkan sebelumnya, atau sesudahnya, &lt;i&gt;entahlah&lt;/i&gt; bagaimana versi-versi pengkritik, bertalian dengan QS. 4:157-158)&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;2. Injil Isa&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; yang memuat kata "Ahmad"/"Muhammad", ternyata &lt;b&gt;&lt;i&gt;hilang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, tidak diamankan oleh Allah maupun orang-orang Islam yang menyesali kehilangannya. Ajaran-ajaran Isa Islami &lt;b&gt;&lt;i&gt;hilang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; misterius tanpa jejak tanpa saksi. Untuk argumentasi, lalu ditambahkan teori bahwa ajaran Isa adalah Taurat!&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;3. Pengikut-pengikut Isa&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; yang asli semuanya &lt;b&gt;&lt;i&gt;hilang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; lenyap tanpa terjejaki, tanpa saksi. &lt;i&gt;Ditelan habis&lt;/i&gt; oleh pengikut dan ajaran bidat Paulus yang lebih Berjaya ketimbang Isa Almasih (QS 3:45) yang para pengikutNya dinyatakan "menjadi orang-orang yang menang" (QS 61:14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Jadi Isa hilang. Injil dan ajaranNya hilang. Kata "Ahmad" hilang. Murid-muridNya hilang.itulah &lt;i&gt;Isa Yang Maha Malang, yang walau menyandang segudang predikat Allah yang tiada banding, namun berakhir dengan segala hilang yang tiada banding.&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Namun Injil bukan mewartakan Berita Malang, melainkan KABAR BAIK, yang menyampaikan bahwa &lt;i&gt;Yesus tidak hilang&lt;/i&gt; melainkan bangkit dengan tubuh kemuliaan/rohani, lalu naik ke surga, duduk di sebelah kanan Tuhan Bapa dan kelak akan turun kembali menghakimi setiap manusia. (lihat Bab 6 buku III). &lt;i&gt;InjilNya tidak hilang&lt;/i&gt;, melainkan justru diberitakan ke segala suku bangsa dan bersifat kekal. &lt;i&gt;Dan pengikut-pengikutNya tidak pernah hilang sejenakpun!&lt;/i&gt; Mereka adalah orang-orang yang terus bertambah, tidak terbinasa, apalagi terpunah. Mereka yang percaya akan Dia sebagai Anak Tuhan memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pertanyaan berat:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Apakah iman kita tidak galau mendapati seorang Nabi besar yang muncul dengan seabrek mujizat dan kemuliaan yang menggoncang jagad, tetapi justru &lt;i&gt;berakhir dengan tiada juntrung?&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Almasih Isa putra Maryam seorang yang dinyatakan Allah sebagai terkemuka di dunia dan di akhirat (Surat Ali Imran 45), tidaklah akan sesuai dengan hakekat dan harkatNya bilamana Ia diturunkan ke dunia untuk misi yang hanya mempertontonkan sulap dan mujizat-mujizatNya yang &lt;i&gt;tiada banding&lt;/i&gt; tetapi dibayar dengan sebuah sejarah tragis tentang jumlah kesesatan miliaran manusia yang &lt;i&gt;tiada banding&lt;/i&gt;. DAN TIDAK BERHASIL DALAM PERAN APAPUN DI DUNIA INI! Isa Almasih seperti yang digambarkan pengkritik setidak-tidaknya pastilah bukan sosok yang terkemuka &lt;i&gt;di dunia&lt;/i&gt;, entahlah kelak &lt;i&gt;di akhirat&lt;/i&gt;. Juga bukanlah Yesus yang &lt;i&gt;dijuluki oleh Gabriel sendiri sebagai Juruselamat&lt;/i&gt;. Ia hanya tepat bila dijuluki sebagai&lt;i&gt; Jurubinasa&lt;/i&gt; yang paling tidak bertanggung jawab!&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;D. Tuhan Yang Maha Esa Dengan Banyak "Bahasa Tuhan" Dalam Satu Induk Alkitab&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Muhammad selalu membenarkan Taurat dan Injil serta memerintahkan orang-orang mukmim untuk mengimaninya sesuai dengan Firman Allah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya" (QS 4:136).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Tetapi oleh pengkritik telah dijabarkan dan dirangkum ketetapan "heroik" versi pribadinya sendiri sebagai berikut:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"Seorang muslim &lt;i&gt;yang tidak suka&lt;/i&gt; mengindahkan Perjanjian Baru (korup) yang memuat ajaran Injil Nabi Isa &lt;i&gt;itu tidak dianggap salah&lt;/i&gt;, (walau) &lt;i&gt;semestinya salah&lt;/i&gt; sebab Al-Quran pada prinsipnya menerima dan membenarkan ajaran Injil. Tetapi karena Injil-Injil itu &lt;i&gt;dianggap tidak asli&lt;/i&gt; lagi &lt;i&gt;menjadilah tidak salah&lt;/i&gt;, malahan bagi orang awam yang tidak mengetahui perbandingan agama &lt;i&gt;dilarang membacanya&lt;/i&gt; sebab &lt;i&gt;dikhawatirkan&lt;/i&gt; turut tersesat" (IQMB halaman 27, huruf miring oleh penulis).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Kita boleh tersenyum melihat betapa pengkritik menempatkan dirinya sebagai penegak hukum Allah dengan memberi sederetan vonis dalam kaitannya kepada Injil seperti : "&lt;i&gt;yang &lt;b&gt;tidak suka&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;", &lt;i&gt;"itu tidak &lt;b&gt;dianggap&lt;/b&gt; salah", "&lt;b&gt;semestinya&lt;/b&gt; salah", "menjadilah &lt;b&gt;tidak salah&lt;/b&gt;", "Injil &lt;b&gt;dianggap&lt;/b&gt; tidak asli", "&lt;b&gt;dikhawatirkan&lt;/b&gt;", "&lt;b&gt;dilarang&lt;/b&gt; membaca Injil"&lt;/i&gt; vonis-vonis mana justru melebihi apa yang ada terwahyu di seluruh Quran. Apakah ini merupakan wahyu &lt;i&gt;tandingan&lt;/i&gt; yang menuding bahwa &lt;i&gt;Injil tidak asli/palsu&lt;/i&gt;, sekaligus seruan kepada &lt;i&gt;umat awam &lt;b&gt;untuk tidak boleh membaca Injil&lt;/b&gt;?&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Memang telah diperlihatkan di muka bahwa ayat-ayat Alkitab tidak mudah diserasikan dengan Quran. Namun hal ini tidak membela pembuktian bahwa Quran itu hakiki sedangkan Alkitab itu tidak hakiki. Suatu wahyu yang &lt;i&gt;hakiki&lt;/i&gt; tidak akan otomatis benar berdasarkan klaim dan opini, melainkan berdasarkan pembenaran ilahi yang dibuktikan, termasuk nubuat-nubuat para nabi yang dipenuhinya! Dan kehilangan Alkitab Islami sungguh tidak pernah dinubuatkan para nabi, dan tidak digenapi oleh fakta sejarah ataupun sains.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Namun andaikata (menurut pandangan pengkritik) Taurat dan Injil Hakiki memang ada yang 100% Islami, maka tentulah dunia sekarang ini memiliki &lt;i&gt;keseluruhan Kalimat-kalimat Allah yang serasi&lt;/i&gt; dalam Induk Alkitab (lihat QS 43:4).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Tetapi tatkala hal itu terjadi, maka datanglah konsekuensi yang sama sulitnya yang harus dipertanggungjawabkan oleh pengkritik yang menteorikan pandangan ini. Sebab kitab-kitab tersebut bukan kitab manusia, maka semuanya itu (Taurat, Injil, Quran) pastilah harus dianggap sama diturunkan &lt;i&gt;secara mutlak dan mekanis langsung diimlakan dari Allah dengan "bahasa Allah" sendiri tanpa proses manusia&lt;/i&gt;. Segera akan terlihat bahwa aka nada "bahasa Tuhan" yang berlainan yang diturunkan untuk Taurat dan Injil, yaitu &lt;i&gt;bahasa Ajam/(Ibrani, Aram)&lt;/i&gt; dan untuk Quran dengan &lt;i&gt;bahasa Arab&lt;/i&gt;. Ulama-ulama Islami (termasuk muslim dan Yahudi/Nasrani versi pengkritik) lalu sedikitnya harus menguasai "2 atau 3 bahasa langsung Allah" untuk membacakan ayat-ayat asli kepada umatNya yang sedikitnya harus pula mengerti beda kultur, langgam dan gaya dan semantik bahasa yang berbeda antara Ibrani/Aram dan Arab. Semuanya mutlak perlu dikuasai demi menjaga kemusrnian dan keaslian dan kepersisan makna ayat-ayat yang telah diturunkan dalam &lt;i&gt;kebenaran yang final&lt;/i&gt; tanpa membedabedakan kesemua kitab-kitab Allah (lihat QS 2:136).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Namun ini jelas merupakan konsekuensi yang tidak mudah diadopsi, karena banyak istilah, idiom dan pengertian yang sulit disesuaikan seperti yang tercantum dalam Buku I bab II. Sebagai missal nama "&lt;i&gt;Allah"&lt;/i&gt; (sebagai nama pribadiNya) tidak pernah muncul dalam pengertian bahasa maupun pengetahuan nabi-nabi kecuali sebutan sacral YAHWEH ELOHIM. Padahal ALLAH telah dianggap sebagai &lt;i&gt;nama hakikiNya&lt;/i&gt; Tuhan sejak kekal ke kekal.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Begitu pula para nabi dan orang-orang Yahudi beriman telah memanggil Tuhannya sedari dahulu dengan sebutan "&lt;i&gt;Bapa", "Bapa kami"&lt;/i&gt;, atau "&lt;i&gt;Bapa yang di surga"&lt;/i&gt; sesuatu yang tidak pernah diucapkan dalam Quran. Begitu pula Roh KudusNya sedari dulu bukanlah Jibril, melainkan&lt;i&gt; Roh Tuhan&lt;/i&gt; Yang Maha Ada sebelum ada ciptaan apapun (lihat awal Alkitab ayat no 2).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Bagaimanakah hal ini harus diserasikan?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Tetapi hal yang paling melemahkan teori pengkritik adalah kenyataan bahwa Kitabullah dengan 2 atau lebih "bahasa Tuhan" ini tidak pernah diperkuat sekalipun oleh Muhammad maupun sahabatnya. Mereka tidak mengamankan satu copy Taurat dan Injil "Hakiki" tersebut sebagai bukti bisa berdampingannya teks Taurat Ibrani dan Injil Aram/Yunani (atau lainnya?) dengan Quran dalam bahasa Arab. Mereka tidak pula membacakan atau mengkoordinasikan suatu &lt;i&gt;pembacaan Taurat dan Injil Hakiki&lt;/i&gt;, sebagai pembuktian nyata bahwa betullah Muhammad bukan hanya membenarkan Taurat dan Injil dengan klaim, namun juga memberi bukti bahwa Taurat dan Injil yang harus dibaca dalam bahasa Ajam itu adalah Kalimat Allah yang tidak dibeda-bedakan dengan Quran dalam bahasa Arab (QS 2:136).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;E. Pengkritik Alkitab Menjadi Pengkritik Quran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Sederhana saja untuk menyadarkan para pengkritik, bahwa sekali mereka bersikeras memaksakan harus adanya Injil Hakiki Islami, maka tanpa disadari mereka sebenarnya menolak ayat Quran Surat 9:30a yang mengatakan:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;"&lt;i&gt;Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah.."&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Kenapa bisa begitu?&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;Pertama-tama&lt;/i&gt; berkenaan dengan orang-orang Yahudi. Sejarah mencatat bahwa tidak ada orang Yahudi manapun yang pernah percaya pada seorang "Uzair" sebagai putra Tuhan. Yudaisme justru merupakan agama monotheisme yang absolute seperti halnya Islam. Andaikatapun Uzair itu benar dituhankan, tentulah itu akan muncul dalam buku-buku Yahudi bahwa kalangan mereka pernah berkata Uzair (Ezra) itu putera Tuhan, baik dalam Kitab Taurat, Kitab Nabi-nabi atau Kitab Hikmat dan Mazmur. Karena tidak pernah ada catatan dan tradisi demikian, maka pastilah kitab-kitab Yahudi ini adalah bagian dari Kitab "Hakiki Islam" yang siap menolak QS 9:30 di atas.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;karena ayat tersebut justru memperlihatkan pengetahuan dan pengakuan Muhammad bahwa kaum Nasrani memang &lt;i&gt;menganut Injil Doktrinal A (&lt;/i&gt;yaitu &lt;i&gt;Yesus itu Anak Tuhan&lt;/i&gt;). Dengan demikian ayat tersebut seolah menegaskan bahwa Injnil Doktrinal itulah yang ada pada pengikut-pengikut Yesus ketika itu dan bukannya "Injil Islami"! Dan bila ini dihubungkan langsung dengan seruan Muhammad yang &lt;i&gt;membenarkan &lt;/i&gt;berulang kali Injil dan Taurat (yang ada di sisi kaum Nasrani dan Yahudi) maka dengan sendirinya Injil Doktrinal itulah yang dimaksudkan oleh Muhammad.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Namun nyatanya konsep "Al Masih itu putera Tuhan" adalah hal yang dilaknati Allah. Dengan demikian akan terdapat &lt;i&gt;kontradiksi ganda&lt;/i&gt; dalam setiap kritikan yang diarahkan pada keabsahan Alkitab:&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;dir&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;sup&gt;o &lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;sup&gt;Bila dibenarkan, ia (Injil) nyatanya tidak cocok dengan Quran.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;sup&gt;Bila disalahkan, ia nyatanya telah dibenarkan Muhammad.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;sup&gt;Agar cocok dengan Quran, orang Nasrani dan Injilnya harus berkata sesuatu: "&lt;i&gt;Al Masih itu putra Tuhan&lt;/i&gt;".&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;sup&gt;Tetapi ketika ia berkata: "Al Masih itu putra Tuhan", ia otomatis tidak cocok dengan Quran.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Kontradiksi masih terus berputar disepanjang isu ini. Di satu pihak kaum Nasrani (pengikut-pengikut Isa) dijadikan &lt;i&gt;di atas orang-orang kafir&lt;/i&gt; hingga hari kiamat (QS 3:55). Mereka juga dinyatakan sebagai orang yang paling dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang beriman (QS 5:82). Bahkan Alkitab mereka dibenarkan belasan kali, dan mereka dijadikan pemenang-pemenang (QS 61:14). Namun dilain pihak, kaum Nasrani juga dikutuk dengan pelaknatan Allah (QS 9:30).&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Kenyataan-kenyataan ini adalah keras, sekaligus menyedihkan, namun harus diterima oleh pengkritik muslim, bahwa Alkitab adalah &lt;i&gt;innocent&lt;/i&gt; dan tidak berurusan dengan kitab-kitab lainnya! &lt;i&gt;Sekali Alkitab dikait-kaitkan dan diotak-atik tentang keabsahannya, mereka harus berbalik berurusan dengan Kitab mereka sendiri!&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Namun kenyataan keras ini bukanlah hal yang harus menyedihkan siapapun, melainkan justru perlu dilihat sebagai suatu &lt;i&gt;grand-design&lt;/i&gt; Tuhan sendiri yang memang akan memperlengkapi Firman-Nya dengan "perangkat-ilahi" dalam membela dirinya sendiri.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;dir&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;Mencari kehakikian Alkitab atas dasar &lt;i&gt;asumsi pribadi&lt;/i&gt; tentang &lt;i&gt;kepalsuan&lt;/i&gt; Taurat dan Injil, serta &lt;i&gt;isu&lt;/i&gt; tentang &lt;i&gt;kelenyapan&lt;/i&gt; Taurat dan Injil, adalah sungguh mencari kemustahilan! Tuhan sengaja mendesign kemustahilan ini untuk membela Firman (Alkitab)Nya. Namun Tuhan juga menempatkan kemustahilan ini sebagai &lt;i&gt;tanda&lt;/i&gt; (ayat) bagi kaum pengkritik dan para skeptic untuk menerima kebenaranNya yang menyelamatkan manusia. Kita semua akan setapak lebih dekat kepada kebenaran bilamana mau bergerak mendekati kebenaran dan tidak terobsesi mati mencari-cari &lt;i&gt;kambing hitam yang siluman (phantom scapegoat)&lt;/i&gt;.&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/dir&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3438727533309684215-3560643080892437507?l=diskusiismail-ishak1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/feeds/3560643080892437507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2009/08/apa-ada-kitab-tuhan-dengan-naskah-asli.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/3560643080892437507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3438727533309684215/posts/default/3560643080892437507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2009/08/apa-ada-kitab-tuhan-dengan-naskah-asli.html' title='Apa Ada Kitab Tuhan Dengan Naskah Asli?'/><author><name>WHY WE LEFT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12390510661703461441</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
